Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Polisi Bahasa

Senin, 19 April 2021 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 136 Kali

Tidak sedikit kalangan terpelajar Indonesia merasa bahasa nasional mereka serba cacat. Kecemasan tersebut tidak baru. Muncul satu abad yang lalu. Tingkat gaulnya naik turun. Belakangan melonjak lagi.
Dari mana datangnya gejala ini? Apa dampaknya bagi kehidupan masyarakat? Untuk memahami duduk persoalan, kita perlu bongkar pokok soal yang mendasar.


Berbahasa itu kerja bareng. Hasilnya milik bersama. Mereka yang paling miskin atau terhina ikut berperan. Apalagi yang kaya atu berkuasa. Berbahasa tidak sepenuhnya bersifat subjektif. Bahasa tidak pernah dimiliki satu atau sekelompok orang dengan paten atau hak cipta.
Berbahasa itu kerja produktif dan kreatif. Semua orang berbahasa, berkat asuhan ibunda sejak kita dilahirkan. Para ahli menyebut bahasa yang pertama kita pakai sehari-hari “bahasa ibu”. Nilainya tak terhingga. Mirip air susu ibu. Diberikan ibu melimpah dengan kasih sayang. Gratis tanpa syarat.


Layak diakui, tak ada masyarakat yang ideal. Sebab ada berbagai kesenjangan, kerja-bareng berbahasa juga bermasalah. Bahasa kita menjadi medan sengketa, selain keakraban.
Masyarakat berubah. Juga bahasanya. Tak pernah beku, seperti kamus. Bahasa Inggris, Jepang dan Bali sangat berbeda. Dalam satu bahasa ada berbagai versi. Bahkan wajar dalam satu keluarga, orangtua, dan anak-anak punya versi yang berbeda.
Bahasa Indonesia keturunan Bahasa Melayu, tetapi orang Indonesia bisa menertawakan istilah Malaysia. Bahasa Jawa di Jawa Timur kedengaran aneh dan lucu untuk sebagian orang Jawa Tengah. Juga sebaliknya.


Ada Bahasa Inggris versi Amerika. Logat, kosakata, dan ejaannya berbeda dengan bahasa Inggris Skotlandia, Singapura atau Australia. Variasi itu hadir tidak hanya dalam obrolan santai. Juga dalam bahasa resmi di forum internasional dan dokumen negara. Baik tertulis maupun lisan.
Semua itu bukan bencana, bukan ancaman yang harus dibasami.
Kita juga pernah belajar bahasa Inggris tentu ingat betapa tidak konsistennya bahasa itu. Kata kerja berubah bila yang sudah dibicarakan sudah terjadi atau yang akan datang. Yang bikin rumit, perubahan bentuk itu tidak kosisten mengikuti satu pola tunggal. Tidak ada alasan rasional atau ilmiah mengapa begitu.


Bahasa tumbuh berkelok-kelok. Beda dari kerja kalkulator atau komputer. Bahasa mirip kebanyakan tanaman. Tumbuhnya tidak begitu tegak lurus. Cabang dan dedaunannya tidak serba simetris.
Semuanya itu bukan masalah bagi penutur bahasa. Baru menjadi masalah ketika beberapa ahli bahasa yang diseponsori negara dan bertingkah seperti ilmuwan eksakta. Mereka miskin toleransi pada variasi kebahasaan.
Untuk membasmi variasi bahasa, mereka mencari rumus ilmiah seperti dalam metematika atau kimia. Seakan-akan bila x ditambah y, hasinya harus z. Jika x adalah awalan sedang y kata kerja, maka z adalah bentuk kata yang “baik dan benar.” Bentuk kata yang sudah memasyarakat dicemooh, dikoreksi, atau dihindarkan bila tidak sesuai rumusan para ahli.


Mungkin para ahli itu berniat tulus. Ilmunya tinggi. Namun hasi kerja mereka bukan bahasa yang tumbuh secara organik dalam masyarakat. Jika bahasa itu dapat diibaratkan air susu ibu, bahasa rekayasa para ahli ini mirip susu kaleng, diproduksi massal dari resep baku dan ilmiah.
Secara tersirat dan tersurat, bahasa masyarakat dinyatakan tidak baik dan tidak benar. Yang aneh bukannya tersinggung, sebagian warga malah menyambut baik penghinaan itu.
Dulu semua warga masyarakat aktif dan produktif dalam kerja-bareng berbahasa. Kini banyak yang bersemangat menjadi konsumen massal, hanya menadah produk elite berbahasa. Yakni kaum elit yang memonopoli kewenangan menetapkan mana bahasa baik dan benar.
Sebagian yang sudah merasa berbahasa baik baik dan benar menobatkan diri jadi polisi bahasa. Mereka merazia dan menyerang kegiatan berbahasa warga yang tidak sesuai dengan kaidah yang direkayasa para ahli bahasa.


Seabad yang lalu, gerakan anti-kolonial marak lewat koran dan novel berbahasa Melayu yang hidup di masyarakat. Pemerintah kolonoial melarang terbitan itu atau mengadili penulisnya. Pemerintah kolonial juga mengangkat tim ahli bahasa dan menciptakan bahasa Melayu “baik dan benar.” Karya-karya nasional dicap “bacaan liar” bahasa “pasaran” yang tak layak dibaca masyarakat terdidik.
Politik bahasa “baik dan benar” itu sempat runtuh dengan berakhirnya konialisme Hindia Belanda. Tetapi kebijakan itu tumbuh lagi lebih megah di masa Order Baru. Pembakuan berbahasa sejalan logika teknokratis dan semangat fasisme yang dominan di masa itu.
Belakangan obsesi pada bahasa “baik dan benar” marak kembali. Mengapa? Gairah mengebu kelas menengah Indonesia dalam berbahasa baik dan benar tampaknya berkait dengan obsesi dalam sejumlah bidang lain. Misalnya pada konsep kecantikan, gaya hidup. Sampai soal berpacaran dan beribadah.


Gejalanya mirip mereka yang menderita stres di depan cermin berjam-jam. Menyesali tubuh yang dilahirkan ibunya. Merasa terlalu gemuk. Terlalu pendek. Tampang kurang kren. Kulit terlalu gelap. Hidung kurang mancung. Pokoknya jauh dari tampilan silebritas di iklan, televis, atau media sosial.
Mereka rindu tampilan, busana, kerja, dan tutur kata yang serba baik dan benar, versi para ahli. Buku pedoman dan ceramah tentang semua itu laris manis. Sumber pengetahuan dari keluarga atau khalayak umum atau akal sehat dianggap tidak memadai.
Merosotnya kreativitas, kemerdekaan, dan kemandirian berbahasa punya dampak lanjutan. Yakni merosotnya toleransi pada kemajemukan, variasi dan inkonsistensi. Bukan hanya dalam berbahasa, namun semua yang berbeda dari wejangan para ahli atau yang dianggap ahli. Warga masyarakat dididik menjadi “polisi” yang sibuk mencari kekurangan diri sendiri dan lngkungannya.


Sumpah Pemuda tidak berikrar “berbahasa satu”. Yang dikrarkan “menjunjung bahasa persatuan” di antara berbagai bahasa yang majemuk. Bila selama ini terjadi salah-baca soal penting itu, mungkin bukan kebetulan. Maklum, obsesi pada yang “baik dan benar” sedang mewabah.[Prof. Ariel Heryanto]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT