Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kenali Risiko Hamil di Usia Tua

Jum'at, 19 Januari 2018 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 793 Kali

Memiliki buah hati adalah keinginan sebagian besar pasangan suami istri. Bukan hanya baru menikah, saat sudah memiliki beberapa anak pun, ada yang masih ingin dianugerahi anak oleh Yang Maha Kuasa. Tidak disadari, usia sang ibu sebenarnya sudah mendekati atau melebihi 40 tahun. Apakah hal ini akan baik-baik saja?

Tik, tok, tik, tok… jam biologis seakan berbunyi. Perempuan yang memasuki usia 30 biasanya diberikan kesadaran dari orang sekitarnya, jika berencana punya anak, sebaiknya dilakukan sekarang. Saat angka melewati 35 tahun, lalu 40 tahun, bunyi jam itu seakan bertambah keras.

Waktu yang tepat bagi pasangan suami istri untuk mendapatkan anak memang di bawah pengaturan Tuhan. Meskipun demikian, perencanaan kehamilan bisa mempertimbangkan jam biologis yang secara alamiah pun sudah diatur oleh Tuhan.

Mengapa kita harus mempertimbangkan jam biologis?  Karena toh banyak juga perempuan yang hamil dan melahirkan di atas 35 tahun dan bahkan melampaui 40 tahun. Menurut dokter spesialis kandungan, Susan Malinda, pertimbangan itu berkaitan dengan resiko yang akan muncul. Bukan hanya kepada ibu, terlebih lagi beresiko pada jabang bayi.

“Statistik dunia memperlihatkan, kehamilan di atas 35 tahun meningkatkan kemungkinan mendapatkan anak yang memiliki sindrom khusus, paling sering down syndrome. Itu bisa terjadi karena usia orangtua, terutama ibu, karena usia sel telur seseorang sama dengan usia pemiliknya. Beda dengan sperma yang terus diproduksi ulang,” kara Susan ketika ditemui di ruangan praktiknya di RS Melinda, Jl Pajajaran 40 , Bandung.

Ia mengatakan, pada ibu hamil usia 20-30 tahun, kemungkinan lahirnya anak dengan  down syndrome adalah 1:1000. Memasuki usia 35 tahun, kemungkinannya meningkat tajam, yaitu 1:200. Setelah ibu berusia 40 tahun, kemungkinan lahirnya anak  down sindrome dalah 1: 50.

Anak down syndrome terbentuk dengan kondisi kromosom yang tidak normal. Kromosom yang normal ada 22 pasang ditambah kormosom xy untuk laki-laki atau kromosom xx untuk peremuan. Jadi total kromosom mencapai 46. Namun, anak down syndromememiliki kelebihan pada kromosom 21. Jumlah total kromosomnya menjadi 47, yaitu 45xy atau 45xx.

 

 

Memanfaatkan teknologi

            Saat baru dianugerahi kehamilan bayi pada usia beresiko itu, kita tentu mengharapkan harapkan lahirnya bayi yang sehat dan berkondisi baik. Meskipun demikian, karena  sadar kehamilannya beresiko, mungkin ada orang yang khawatir ingin  mengenali apakah sang jabang bayi memiliki resiko down syndropme atau tidak.

            Hal tersebut bisa dikenali sejak bayi masih dalam kandungan pada trimester perama. Ada banyak teknologi di bidang kedokteran yang bisa melakukan deteksi sejak dini.  Yang terbaru adalah Non Invasivew Prenatal Test ( NIPT).

            Menurut Susan, yang sudah beberapa kali melakukan test ini untuk pasiennya, NIPT adalah pengujian yang teknik pengambilan sampelnya lebih aman. Pengujiannya hanya menggunakan sampel darah sang ibu. Tes itu pun bisa dilakukan saat usia kehamilan baru menginjak 10 minggu.

            Melalui sampel darah ibu, kita bisa menemukan sel janin. Karena ternyata dari plasenta ada jaringan sel bayi yang bisa masuk ke darah ibu. Sel janin itulah yang diperiksa kromosomnya apakah normal atau tidak,“  katanya.

            Hasil pemeriksaan NIPT, kata dia, memiliki akurasi 99% untuk melihat apakah jabang bayi dari pasiennya memiliki down syndrome atau tidak.  Pengambilan sampel dilakukan di Rs Malinda, tetapi pengujiannya dilakukan dilaboratorium  luar negeri. Ibu pun tidak perlu jauh-jauh lagi ke luar negeri untuk memeriksakannya.

            Sebelum ada NIPT, Susan juga beberapa kali melakukan tes yang tujuannya sama. Namun, teknik pengambilan sampelnya mengandung resiko dan bisa menyebabkan traumatis pada ibu.

            Dulu pemeriksaan dimulai dengan USG dan pemeriksaan darah . Namun pemeriksaan darah tidak langsung membuktikan apakah jabang bayi memiliki down syndrome, melainkan hanya untuk melihat besarnya kemungkinan. Bila hasilnya menunjukkan perbandingan angka di bawah 200, berarti kemungkinan nya sangat besar. 

            Saat  dilihat kemungkinannya besar, dilakukan pengujian dengan menggunakan sampel. Ada juga jenis pemeriksaan untuk mengecek sel janin itu. Pertama, adalah dengan pemeriksaan amniocentesis yang menggunakan sampel cairan ketuban yang diambil melalui penyuntikan ke dalam rahim. Itu  bisa dilakukan saat usia kehamilan di atas 14 minggu.

            Selain itu, ada pemerikasaan chorionic villous sampling yang menggunakan sampel dari plasenta. Itu bisa dilakukan ketika usia kehamilan mulai masuk 12 minggu. Namun, teknik pengerjaannya cukup berisiko, yaitu dengan memasukkan kateter melalui vagina, lalu masuk ke rongga rahim untuk mengambil sampel dari plasenta.

            Selain dua pengujian itu, kata Susan menambahkan, ada pula pemeriksaan USG. Pemeriksaaan USG dilakukan untuk melihat ketebalan kulit di belakang tengkuk. Namun, pengujian itu tidak terlalu akurat karena tidak semua yang kulit tengkuknya tebal memiliki down syndrome.

            Oleh karena itulah, menurut Susan, ia sekarang memanfaatkan teknologi terbaru seperti NIPT yang  akurasinya lebih baik dan pengambilan sampelnya pun lebih aman. Hasilnya pun bisa dimanfaatkan orangtua untuk mengenali apakah jabang bayinya  terdampak resiko hamil di usia tua.

 

(Vebertina Manihuruk)        

 

 


 


 
 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT