Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

ANAK-ANAK PUN BISA MENGIDAP DIABETES MELITUS

Kamis, 03 Nopember 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 579 Kali

 Mendengar nama penyakit diabetes melitus, kita sering menyimpulkan bahwa itu adalah penyakit orangtua.Ternyata anak-anak pun bisa mengalaminya. Anak-anak yang mengidapnya pun memiliki resiko tinggi terdampak ke berbagai organ lain bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.

 

Memiliki anak usia 5-7 tahun adalah masa menyenangkan. Saat itulah anak-anak sudah mulai bersekolah dan kita bisa mengajarkan banyak hal tentang membangun hubungan sosial yang baik dengan teman-teman seumurnya, juga guru-guru di sekolah.

            Aktivitas fisik anak di usia tersebut juga semakin tinggi. Mereka senang berlari, memanjat, melompat, dan sebagainya bersama-sama teman sebaya. Aktivitas otak pun tidak kalah meningkat. Di usia itulah mereka memulai merekam berbagai pengetahuan yang diterima di sekolah maupun lingkungannya.

Akan tetapi di satu waktu, anak kok terlibat lemas dan tubuhnya semakin kurus. Kurusnya tak biasa, bukan karena apa yang dimakannya segera keluar menjadi energi. Akan tetapi ada gejala lain yang muncul seperti dehidrasi dan sering buang air kecil. Pertumbuhannya pun seperti terganggu. Waspadalah karena itu meupakan bagian gejala yang mungkin menunjukkan  anak mengidap diabetes melitus ( DM).

“Katagori usia ketika gejala-gejala DM, paling banyak terlihat memang usia 5-7 tahun . Aktivitas anak semakin tinggi, kebutuhan  energi pun besar. Saat itulah mulai terlihat apabila dia kekurangan insulin dan ketika itulah gejala-gejala mulai muncul, “ kata Novina Adriana, dokter spesialis anak yang ditemui  di tempat praktiknya, RS Hasan sadikin, Jalan Pasteur 38 Bandung.

Insulin menjadi kata kunci bila kita berbincang tentang DM. Insulin adalah hormon yang membuat mekanisme gula darah di dalam tubuh berjalan normal. Anak yang sehat, ketika ia mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat diubah menjadi glukosa yang beredar di dalam darah.

Insulin itulah yang berperan menurunkan kadar gula dalam darah untuk mencapai ambang batas normal. Bila insulin berkurang atau tidak ada, mekanismenya tidak berjalan dan gula darah tetap tinggi.

Novina yang mendalami endokrinologi atau cabang ilmu yang berhubungan dengan hormon mengatakan, dari empat tipe, DM yang paling banyak menimpa anak-anak adalah tipe 1, yaitu organ penghasil insulin dirusak dan tipe 2, yaitu tubuhnya risisten terhadap insulin. Dari kedua tipe itu, kasus terbanyak pada anak-anak adalah DM tipe 1.

“DM tipe 1 diakibatkan proses auotoimun di dalam  tubuh. Proses itu mengakibatkan sel-sel pada kelenjar pangkreas dirusak oleh autoantibodi. Pangkreas adalah penghasil insulin, kalau dirusak, insulin akan berkurang dan lama-kelamaan habis, “ ujarnya.

Novina menuturkan, autoimun adalah proses yang bisa terjadi karena berbagai hal. Penyebabnya antara lain adanya mutasi genetik karena penyakit itu bisajadi diturunkan oleh familinya. Namun, mutasi genetik pun bisa juga berupa mutasi genetik sporadic yang kemungkinan diakibatkan infeksi virus atau karena pemakaian obat tertentu.

“Akan tetapi, ada 80% kasus autoimun yang bersifat indiopatik atau belum diketahui penyebabnya. Oleh karena itu, harus ada penelusuran ke orangtuanya dan  anggota keluarga lain apabila ada yang memiliki autoimun juga.  Selain itu cek laboratorium, “ ujarnya.

DM tipe 2, kata dia melanjutkan, adalah kondisi tubuh sang anak resisten terhadap insulin. Insulin itu ada di dalam tubuhnya, tetapi tubuh tidak sensitif sehingga tidak bisa memasukkan glokusa ke sel-sel.

 

Tanda-tanda

            Novina menyatakan, secara umum gejala awal pada anak yang memiliki DM ada tiga. Anak sering  buang air kecil, anak sering makan, dan anak sering merasa haus. Tanda yang menunjukkan tingkat bahaya adalah apabila anak sudah dehidrasi berat, penurunan kesadaran, bahkan tanda gagal napas.

            Bila melihat secara fisik dari kedua jenis tipe DM itu, tanda-tanda fisik pada anak bisa berbeda. Pada DM tipe 1, anak pendek dan kurus karena glukosa tidak masuk ke sel. Akibatnya pertumbuhan otot terganggu, penyimpanan lemak terganggu, pertumbuhan lain pun terganggu.

            “ Karena glukosa tidak masuk ke sel, tubuh mencari glukosa untuk memenuhinya ke seluruh tubuh. Seperti otak, dia butuh glukosa. Karena tidak ada, dia akan pecahkan sel lain untuk mendapatkannya, misanya ke sel otot dan sel lemak,”ucapnya.

            Di sisi lain anak dengan DM tipe 2 biasanya anak yang gemuk, karena  penyakit itu bisa tumbuh akibat kebiasaan mengkonsumsi makanan yang manis. Oleh karena itu, terapi untuk jenis ini akan dimulai dengan hal yang sederhana, yaitu dengan memperbaiki gaya hidup termasuk pola makan dan rutinitas berolahraga. Bila semua modifikasi gaya hidup belum juga menyembuhkannya, tetapi akan beralih penggunaan obat.

            Berbeda tentunya dengan Tipe 1, harus langsung berhubungan terapi penyuntikan insulin seumur hidupnya. “Penyuntikan insulin seumur hidup. Bertambah usia, bertambah berat badan, maka dosis akan meningkat. Untuk anak-anak yang sudah masa puber, ketika semua hormon mulai bekerja, berbeda lagi dosisnya,” ujar Novina.

            Oleh karena itu, Novina mengatakan, kesuksesan setiap terapi akan terjadi apabila ada kerjasama  antara dokter dan orangtua. Karena pasiennya anak-anak, peran orangtua memang lebih diperlukan. Kerjasama itu berujung pada harapan supaya anak tetap tumbuh normal, beraktivitas dengan baik dan produktif berkarya.

           

Peran dan komitmen orangtua

Keberhasilan terapi pada anak yang mengidap diabetes melitus (MD) adalah pada saat dirumah, bukan ketika dirawat di rumah sakit atau sewaktu kontrol ke dokter. Terapi yang disiplin, tentunya membuat anak lebih nyaman menjalani hidupnya.

Menurut Novina Andiana, ada beberapa hal yang membutuhkan peran dan komitmen orangtua supaya terapi bisa dijalani secara disiplin:

  1. Orangtua tetap memberikan porsi makan yang benar kepada anak, yaitu komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 15%, protein 10% dan serat yang dibagi lagi komposisinya. Bukan berarti anak tidak bisa mengkonsumsi mi bakso ataupun es krim. Namun, orangtua harus menghitung jumlah kalorinya supaya anak tetap mendaptkan diet yang seimbang.
  2. Orangtua harus membiasakan anak rajin berolahraga. Aktivitas itu bisa mengakibatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Setiap hari anak harus banyak bergerak, dengan berjalan kaki atau bersepeda.
  3. Orangtua harus memahami pemberian insulin kepada anaknya.   Antara lain hitungannya, cara penyuntikannya, lokasinya yang harus berpindah dan jarum suntikan yang tidak boleh langsung ditarik. Saat anak sudah besar, orangtua bisa mengajarkan penggunaan insulin pen atau terknologi terbaru berupa pompa insulin.

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT