Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

SEWA RAHIM

Senin, 31 Oktober 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 484 Kali

    Perkembangan ilmu kedokteran banyak menyisakan pertanyaan besar. Soal sewa rahim misalnya, bolehkah dilakukan untuk mendapat keturunan bagi pasangan yang telah dinyatakan mandul sama sekali atau sulit memiliki anak? Seiring dengan penemuan cara fertelasi di luar Rahim( in-vitro fertilization) praktik surrogate mother , demikian sering disebut, marak ditemukan di berbagai negara.

          Menurut ilmu kedokteran sendiri, yang disebut dengan sewa rahim adalah perempuan yang menampung pembuahan suami-isteri dan diharapkan melahirkan anak hasil pembuahan. Apalagi, dengan diketemukannya metode pengawetan sperma, frekuensi penggunaan nya  kian meningkat.

          Praktik sewa rahim ramai berlaku di sejumlah Negara, antara lain: Australia, Inggris, Kanada, Perancis dan Singapura.  Bahkan, di India  data statistik menyebut tak kurang 150 bayi lahir melalui rahim sewaan pertahunnya. Kehadirannya memang dianggap solusi alternatif bagi pasangan yang hendak memiliki keturunan. Namun, di sisi lain praktik itu dinilai rapuh dari segi hukum dan etika.

          Pelaksanaannya pun menuai pro dan kontra. Prof, Hindun al-Khuli menjelaskan problematika ini dalam bukunya berjudul”Tajir al-Arham fi Figh al-Islam”. Ia memaparkan beberapa bentuk kasus sewa rahim berikut hukum penggunaannya  dalam prespektif hukum Islam. Perbedaan pandangan muncul lantaran praktik modern di bidang kedokteran ini belum pernah mengemuka pada era awal Islam

          Ia mengatakan para ulama sepakat tiga bentuk praktik ‘ibu pengganti’ berikut ini diharamkan. Pertama, fertalasi tersebut menggunakan  sel telur dan sperma orang asing (bukan suami isteri) . Sel telur dan sperma tersebut diperoleh dari pendonor tersebut dengan  kompensasi materi tertentu. Hasilnya kemudian diletakkan di rahim perempuan yang telah ditunjukkan untuk kepentingan orang ketiga

          Contoh kasus kedua yang diharamkan, ialah sperma diambil dari suami dari pasangan yang sah, sedangkan sel telur dan rahim adalah milik perempuan yang bukan isterinya. Bayi yang lahir dari rahim yang bersangkutan akan diserahkan kepada pasangan  sumi isteri yang sah tersebut.

          Sedangkan praktik sewa rahim ketiga yang tidak diperbolehkan  dalam agama ialah bila sel telur berasal dari isteri yang sah, tetapi sperma yang digunakan untuk pembuahan bukan kepunyaan suaminya, melainkan hasil donor dari laki-laki lain. Rahim yang digunakan pun bukan rahim sang isteri, melainkan perempuan lain. Setelah lahir, bayi lalu diserahkan kepada pemilik sel telur dalam hal ini ialah yang isteri dan suaminya yang mandul.

          Silang pendapat

          Prof. Hindun memaparkan, ada dua bentuk praktik yang hukumnya tidak disepakati oleh para ulama masa kini. Kasus yang pertama yaitu, baik sel telur maupun sperma diambil dari pasangan suami isteri yang sah. Setelah proses fertelasi di luar, hasil pembuahan tersebut dimasukkan ke rahim perempuan lain yang tidak memiliki hubungan apapun.

          Kasus yang kedua, yaitu sel telur dan sperma diambil dari pasangan  suami isteri yang sah, lalu diletakkan di dalam rahim isteri keduanya, misalnya, atau isteri sahnya yang lain. Kedua bentuk persewaan rahim ini diperdebatkan oleh para ulama.

          Kubu yang pertama berpendapat, kedua praktik ini haram ditempuh. Opsi ini merupakan keputusan Komite Fikih Organisasi Kerjasama Islam ( OKI) , baik yang digelar di Makkah pada 1986, maupun di Aman pada 1986, Dewan kajian Islam Kairo pada 2001.

          Pendapat ini juga diamini oleh mayoritas ahli Fikih. Sebut saja Prof Jadul Haq Ali mantan Mufti dan syehk Al Azahar, Mufti Mesir Syehk Ali Jumah, maupun Syehk al-Azhar SyehkThanthawi, Sehk  Mustafa az-Zurqra, dan Ketua Asosiasi Ulama Muslim sedunia, Sehk Yusuf al- Qaradawi.

          Menurut anggota Dewan kajian Islam al-Azhar dan mantan dekan fakultas usuluddin di universitas Islam tertua di dunia itu, syarat-syarat yang dimaksud, yaitu rekomendasi yang kuat  dari dokter dan pemeriksaan serta perawatan berkala yang ketat, usia ’ibu sewaan’ harus cukup dan laik untuk hamil dan perlunya kesetabilan emosi pemilik Rahim sewaan. Selain itu, pernyataan dari ‘Ibu sewaan’  bahwa anak yang kelak  yang dilahirkan adalah milik si A dan si B selaku penyewa Rahim.

          Pendapat ini lalu diadopsi oleh sejumlah ulama Syiah dan beberapa dokter Muslim di beberapa Negara manca negara. Misalnya, dr. Ismail Baradah, spesialis dokter perempuan di Universitas Texas , Amerika, dan dr UsamahIzzat , guru besar kesehatan kelahiran di Pusat kajian Nasional Kairo.    (NaahihNasrullah)

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT