Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

BAGAIMANA HUKUM JUAL BELI ORGAN TUBUH

Selasa, 19 April 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 797 Kali

Tindakan jual beli organ tubuh kembali mengemuka. Orang-orang rela menjual organ tubuhnya kepada sindikat karena mendapat iming-iming uang yang tak sedikit.

            Secara hukum positif, praktik jual beli organ tubuh dilarang. Tindakan ini bisa mendapatkan ancaman pidana. Lalu bagaimana hukum Islam memandangnya?

            Anggota Dewan fatwa Al Washliyah, K.H. Oviet R berpendapat, sesuai dengan ijma ulama, praktik jual beli organ tubuh dikatagorikan haram. Tindakan menjual organ tubuh adalah tindakan batil dengan alasan donor anggota tubuh hukumnya haram.

            Landasannya terdapat dalam Alquran surah Al Maidah ayat 32, “Barang siapa yang membunuh seseorang manusia, bukan karena (membunuh ) orang lain, atau bukan membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang telah memelihara kehidupan, maka seolah-olah telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang  kepada mereka rasul-rasul. Kami dengan  (membawa) keterangan- keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”

            Haramnya jual organ tubuh juga dikarenakan praktik donor tubuh masih terdapat silang pendapat. Ada yang mutlak mengharamkannya. Sementara ada yang memperbolehkan, berpendapat donor harus bersifat kemanusiaan.

            Menurut K.H. Kiai Ovied, sebagian ulama yang mengharamkan donor organ tubuh beralasan karena organ tubuh manusia tidak boleh di ubah-ubah dari tempatnya. Mengubah bentuk manusia sama dengan menyakiti manusia itu sendiri atau mengubah ciptaan Allah baik manusia masih hidup maupun sudah mati.

            Namun, sebagian ulama ada yang membolehkan donor organ tubuh. Mereka beralasan untuk kepentingan dan kemaslahatan yang lebih besar , seperti donor mata, dan ginjal yang diambil  dari orang yang telah mati agar dapat digunakan oleh orang yang masih hidup. , sehingga kemanfaatannya dan kemaslahatannya lebih besar.

            Berdasarkan kaidah Fikih yang menyebutkan, Idza Ta`aradhat Al Mashih Bada`a Biahammiha ( Apabila bertentangan sebuah kemaslahatan, maka diutamakan kemaslahatan yang lebih besar). Dari kaidah ini disebutkan donor itu merupakan tindakan pertolongan dalam kebaikan dan membawa kemaslahatan yang lebih besar.

            Namun,  ada beberapa persyaratan cukup ketat dalam donor jenis ini. Pertama, harus sesuai dengan syariah agama, artinya donor organ tubuh tidak dilakukan dengan cara-cara yang zalim, pencurian, kecurangan, atau jalan yang batil.

            Kedua, tidak dibenarkan dan hukumnya haram menjual organ tubuh dengan alasan donor karena miskin atau ingin mencari keuntungan finansial.

            Selanjutnya harus sesuai menurut undang-undang kesehatan dan kedokteran terhadap donor organ tubuh manusia atau donor darah. Lalu harus ada izin orang yang ingin mendonorkan, semata-mata untuk kemaslahatan yang dibenarkan oleh Syar`i.  Kemudian tidak menyebabkan kemudaratan yang lebih besar bagi yang mendonorkan

            Majelis Tarjih Muhammadiyah, dalam kumpulan fatwanya juga berpendapat hampir sama. Meski jawaban yang diberikan khusus donor mata, namun bisa diqiyaskan dengan donor organ tubuh secara umum. Soal donor organ tubuh diperbolehkan asalkan pendonor melakukan niat kemanusiaan. Tidak boleh karena motivasi komersil. Sehingga harus ikhlas karena Allah.

Bagi pendonor yang memiliki ahli waris, izin ahli waris sangat diperlukan. Setidaknya tidak ada ahli waris yang merasa keberatan. Kecuali si pendonor berwasiat semasa hidup akan mendonorkan organ tubuhnya di hadapan ahli waris, maka donor seperti ini tidak masalah.

            Hal ini juga sejalan dengan  fatwa MUI tentang donor kornea mata. Seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghidupkan kornea matanya sesudah wafat dengan diketahui ahli waris, wasiat itu dapat digunakan.

            Melihat berbagai pendapat tadi, maka dapat disimpulkan jika praktik jual beli organ tubuh tidak dapat dibenarkan secara agama.

            Yang diperbolehkan, hanya donor organ tubuh dengan niat membantu, bukan komersil. Selain itu juga harus memenuhi beberapa persyaratan agar donor organ tubuh bisa dilaksanakan. Allahua`lam.  

( Hafidz Multsany)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT