Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

7 Pahlawa Revolusi Letnan Jenderal Siswondo Parman: Pejuang Sejati

Senin, 03 Oktober 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 1689 Kali

Letnan Jenderal Siswondo Parman, biasa disebut S. Parman, mengajak isterinya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Saat itu tanggal 31 Desember 1964. Bu Parman agak heran juga dengan ajakan suaminya. Tapi ia tidak berani membantah. Sebagai seorang prajurit, mungkin Parman ingin menziarahi makam rekan-rekannya yang telah gugur membela negara.

Sesampainya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Parman berdiri sambil merokok. Ia tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya menerawang jauh. Bu Parman tidak berani mengganggu keasyikan suaminya. Ia diam saja, berdiri di samping sang suami.

Cukup lama juga Parman menyapu pemakaman itu dengan pandangannya. Lalu ia tersenyum.

“Wah, ini benar-benar tempat yang indah,” katanya, seolah pada dirinya sendiri. Lalu ia menoleh ke arah isterinya. “Jangan lupa, Bu. Kalau saya gugur nanti, makamkan di sini. Jangan lupa juga, di batu nisannya nanti ditulis “Pejuang Sejati””.

Bu Parman tercekat mendengar kata-kata suaminya. Ia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa.

Parman memanggil sopirnya.

“Pak, sini, Pak. Tolong potret saya,” seru Parman.

Sopir Parman pun datang menghampiri.

Parman memberikan tustelnya. Lalu ia bergaya dengan latar belakang jajaran makam para pahlawan bangsa.

Perasaan Bu Parman tak menentu melihat tingkah suaminya. Tapi ia berusaha melupakan kegundahan hatinya. Ia tersenyum melihat Parman berpose di depan kamera.

***

Parman sangat mencintai isterinya. Mereka telah hidup bersama cukup lama. Meski tidak ada anak dari perkawinan mereka, rasa cinta dan kasih sayang di antara keduanya tak pernah pudar.

Sebenarnya Bu Parman pernah mengandung. Pada bulan Nopember 1957 terjadi peristiwa pelemparan granat di Cikini. Saat itu Parman sedang bertugas di sana. Bu Parman kaget mendengar berita itu. Ia sangat menguatirkan suaminya. Akibatnya, ia mengalami keguguran. Tentu saja Bu Parman amat sedih kehilangan buah hati yang dinantikannya. Tapi ia bersyukur karena suaminya selamat dalam “peristiwa Cikini” itu.

Sejak saat itu Bu Parman tidak hamil lagi.

Parman selalu bersikap lembut pada isterinya. Tak pernah ada kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Bu Parman juga seorang isteri yang lembut hati. Maka keduanya mengarungi hidup ini dengan penuh kelembutan.

Karena tidak pernah melihat suaminya marah, Bu Parman sudah cukup kaget kalau mendengar suaminya bicara dengan nada agak tinggi.

Suatu ketika Parman minta dibuatkan jus mangga. Ia minta isterinya memarut buah mangga dan memberinya es.

Tidak biasanya Parman minta makanan atau minuman yang aneh-aneh. Maka permintaannya itu cukup mengherankan Bu Parman.

“Minta makanan kok yang aneh-aneh, Pak. Mbok yang biasa saja,” kata Bu Parman menanggapi permintaan suaminya.

Parman tertawa. Dengan bercanda ia bilang, “Saya kan sudah memenuhi kebutuhanmu. Coba, kurang apa saya dalam menyenangkan kamu. Masa saya minta begitu saja kamu keberatan.”

Meski diucapkan dengan bercanda, ucapan itu cukup menyentuh perasaan Bu Parman. Ia pun segera pergi ke pasar untuk membeli mangga.

Ketika jus mangga yang dimintanya diantarkan, Parman tersenyum manis sekali.

“Terima kasih ya, Bu. Kamu memang isteri jempolan.”

Bu Parman tersenyum malu.

Sama sekali tak terbayang oleh Bu Parman, permintaan aneh suaminya itu merupakan pertanda akan terjadinya perpisahan di antara mereka.

***

Pada tanggal 29 September 1965 Letnan Jenderal S. Parman yang menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat Republik Indonesia mengetahui adanya dokumen rahasia PKI. Dalam dokumen itu dipaparkan rencana PKI untuk melakukan kudeta. Parman terkejut bukan main. Selama ini ia memang telah mencurigai gerak-gerik PKI. Tampaknya mereka memang sedang berusaha merebut kekuasaan. Kini semua menjadi jelas.

Parman melaporkan temuannya itu kepada Ahmad Yani. Jawaban Ahmad Yani singkat dan tegas, “Kita tumpas saja mereka!”

Parman segera mengeluarkan perintah untuk melakukan pengintaian pemotretan kegiatan latihan sukarelawan PKI di lubang buaya. Dari hasilnya nanti akan diputuskan tindakan untuk menumpas kegiatan gelap itu.

Tapi semuanya sudah terlambat.

Rupanya Letnan Jenderal S. Parman sudah menjadi target PKI. Ia termasuk dari sekian banyak pimpinan TNI yang akan dilenyapkan. Karena Parman termasuk orang yang sangat menentang partai komunis itu. Ia menjadi penghalang utama bagi PKI untuk merebut kekuasaan dan menjadikan negara ini negara komunis.

Jumat ninihari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan penculik telah tiba di rumah Parman. Mereka mengenakan seragam Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden. Memang, pasukan itulah yang berhasil dipengaruhi dan dikuasai oleh PKI untuk mendukung setiap kegiatannya.

Begitu tiba di rumah Parman, pasukan penculik itu bergerak cepat mengepung rumah. Beberapa orang berjaga di setiap sudut pekarangan depan dan belakang. Beberapa orang lainnya bergerak ke dalam rumah.

Pintu depan pun didobrak. Orang-orang beringas itu masuk rumah dengan langkah tegap dan sikap kasar.

Kedatangan para penculik itu menimbulkan kegaduhan. Parman dan isterinya terbangun. Mereka keluar dari kamar.

Parman terkejut melihat pasukan Cakrabirawa mendatangi rumahnya pagi-pagi buta begini. Sikap mereka yang kasar dan tidak sopan sangat mengherankan. Sama sekali tidak mencerminkan sikap prajurit TNI.

“Selamat malam, Jenderal. Jenderal diminta untuk menghadap Presiden sekarang juga!” kata salah seorang dari mereka yang kelihatannya komandan. “Mohon Jenderal ikut kami.”

Heran juga Parman mendengarnya. Tidak biasanya Presiden memanggil sepagi ini. Apakah ada keadaan darurat? Tapi kenapa para pengawal presiden ini tampak begitu beringas?

Meski diliputi keheranan, Parman tidak membantah. Ia kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Parman keluar dari kamar mengenakan pakaian dinas PDH. Ia melangkah dengan gagah menemui tamu-tamunya.

Pasukan itu segera mengelilingi Parman.

“Mari, Jenderal. Kita berangkat sekarang,” seru sang komandan.

Parman melangkah diiringi pasukan Cakrabirawa. Sikap mereka tidak tampak seperti sedang mengawal perwira. Mereka kelihatan tidak sabar dan mendorong-dorong tubuh Parman, supaya lebih cepat berjalan. Hal itu menambah rasa heran Parman. Bahkan ketika masuk ke dalam mobil pun, Paran didorong dengan ujung senjata oleh para penjemputnya. Perasaan Parman pun makin tidak enak. Ia pun banyak berdoa dalam hati.

Bu Parman menyaksikan kejadian itu dengan perasaan tak menentu. Ia punya firasat buruk. Jangan-jangan ia tidak akan bertemu lagi dengan suaminya. Bu Parman menepiskan perasaan itu. Ia berdoa dengan khusyuk dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Semoga suami tercinta selalu dalam lindungan-Nya.

Sampai subuh tiba Bu Parman masih gelisah. Ia pun salat Subuh dan berusaha menenangkan pikirannya.

Ketika Bu Parman selesai salat subuh, Bu Haryono datang. Ia menceritakan kejadian di rumahnya sambil berurai airmata. Jantung Bu Parman pun berdetak cepat. Berarti suaminya pun akan mengalami nasib yang sama dengan MT Haryono. Ya, Allah, kutitipkan suamiku pada-Mu…. Bu Parman mengusap airmata yang menetes membasahi pipinya.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT