Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

7 Pahlawan Revolusi Jendral Ahmad Yani: Malam Paling Menakutkan

Jum'at, 30 September 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2204 Kali

30 September 1965. Hari sudah sore. Jenderal Ahmad Yani baru pulang dari kantor. Ia kelihatan ceria. Sama sekali tidak tampak kelelahan di wajahnya yang tampan. Padahal seharian tadi, Ahmad Yani disibukkan oleh banyak tugas.

Ahmad Yani tersenyum pada isterinya yang menyambut kedatangannya.

“Capek, Pak?” tanya Bu Yani sambil mengambil tas kerja suaminya.

“Ah, tidak. Namanya juga kerja, Bu,” jawab Ahmad Yani sambil tersenyum.

Ahmad Yani pergi ke kamar mandi, sementara isterinya menyiapkan makan malam.

Sore itu suasana di rumah Ahmad Yani begitu tenang. Ini akan menjadi malam yang penting. Karena besok adalah hari ulang tahun Bu Yani. Ahmad Yani sudah menyuruh ajudannya, Sersan Slamet, untuk membeli karangan bunga. Itu adalah hadiah ulang tahun bagi isteri tercinta. Ahmad Yani juga menyuruh supir pribadinya untuk pulang. Ia tidak akan pergi ke mana-mana malam ini. Kebetulan, ini adalah malam Sabtu Pahing, hari kelahiran Ahmad Yani. Bisa dibilang, ini adalah malam istimewa bagi Ahmad Yani dan isterinya. Besok, pagi-pagi sekali, Ahmad Yani harus menghadap Presiden Sukarno.

Ahmad Yani makan malam sambil menonton televisi. Bu Yani menemaninya. Mereka membicarakan hal-hal ringan. Sesekali keduanya tampak tertawa bahagia. Sungguh malam yang penuh kemesraan.

Selesai membereskan peralatan makan, Bu Yani menyiapkan segala keperluan untuk tirakatan. Ia akan melakukan tirakat di rumahnya pada malam ulang tahunnya ini.

Ahmad Yani mematikan televisi. Ia menutup tirai-tirai di rumahnya. Malam sudah larut. Kantuk pun sudah mulai menyerang Ahmad Yani.

Ahmad Yani menuju kamarnya. Malam itu ia tidur sendirian karena Bu Yani sedang melakukan tirakat.

Malam terus berlalu. Sunyi sekali. Kesunyian yang terasa amat mencekam. Entah mengapa malam itu terasa berbeda dengan malam-malam lainnya. Alam seolah mengisyaratkan akan terjadinya sesuatu. Tapi isyarat itu tak terbaca. Di rumah Ahmad Yani, semuanya berjalan seperti biasa. Ahmad Yani dan anak-anaknya tidur lelap. Bu Yani juga melakukan tirakat dengan khusyuknya. Para penjaga di depan rumah, berjuang keras menahan kantuk. Sementara para pembantu lelap dibuai mimpi. Maklum, siangnya mereka sudah bekerja keras.

Fajar menjelang. Sekitar pukul 3 dinihari, Mbok Milah, pembantu rumah Ahmad Yani, sudah terbangun. Ia memang biasa memulai tugasnya sepagi itu.

Eddy, putera bungsu Ahmad Yani juga sudah terbangun. Ia langsung menghampiri Mbok Milah dan merengek.

“Mbok. Mbok. Aku mau ke Ibu…,” rengek Eddy sambil menarik-narik ujung kebaya Mbok Milah.

“Nanti ya, Mas. Ibu ndak boleh boleh diganggu,” kata Mbok Milah berusaha menenangkan Eddy.

Eddy tidak mau diam. Rengekannya malah tambah keras. Kakinya dihentak-hentakkan ke lantai.

Mbok Milah kebingungan. Ia takut majikannya terbangun oleh rengekan Eddy.

“Mas ndak boleh begitu. Nanti Ibu marah,” kata Mbok Milah lembut.

Mendengar itu, Eddy takut juga. Ia mengurangi rengekannya.

Mbok Milah lega. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.

Eddy mondar-mandir di dapur. Hatinya masih dongkol karena tidak bisa bertemu dengan ibunya. Ia masih merengek, tapi tidak seheboh tadi.

Di luar rumah, terjadi kegaduhan. Segerombolan orang berseragam dan bersenjata turun dari beberapa buah kendaraan. Mereka bergerak cepat menyerbu rumah di Jl. Lembang D 58 itu.

Orang-orang tak dikenal itu segera menyergap para penjaga. Para penjaga yang tidak menduga datangnya serangan tiba-tiba itu, terlalu terpana. Mereka tidak sempat berbuat apa-apa ketika disergap dan dilumpuhkan.

Kemudian orang-orang beringas itu menyebar ke seluruh bagian rumah.

Salah satu angota gerombolan yang bernama Tumiran, membuka pintu depan yang kebetulan tidak terkunci.

Mbok Milah kaget mendengar kegaduhan di luar. Ia segera lari ke bagian depan rumah. Saat itulah ia berhadapan dengan Tumiran yang menerobos masuk.

Mbok Milah langsung lemas. Ia takut melihat lelaki gagah berseragam tentara yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Apalagi wajah lelaki itu kelihatan begitu bengis.

“Bapak ada, Mbok?” tanya Tumiran dengan nada membentak.

“Ada, Pak,” jawab Mbok Milah dengan suara gemetar. “Sedang tidur.”

Eddy menyusul ke depan. Ia ketakutan dan berlindung di balik tubuh Mbok Milah.

“Cepat bangunkan!” bentak Tumiran lagi.

“Saya ndak berani, Pak,” kata Mbok Milah lebih gemetar lagi. Sekarang bahkan sudah hampir menangis karena ketakutan.

Tumiran melihat Eddy yang mengintip di balik tubuh Mbok Milah.

“Sini, Nak,” kata Tumiran sambil menarik tangan Eddy.

Eddy gemetar. Ia berusaha bertahan dengan memegangi baju Mbok Milah. Mbok Milah ingin melindungi Eddy. Tapi ia tidak berani.

“Kamu bangunkan Bapak ya?” kata Tumiran pada Eddy.

Dengan takut-takut Eddy pergi ke kamar ayahnya.

Eddy mendekati ayahnya yang sedang tidur lelap.

“Pak. Pak. Bangun, Pak,” kata Eddy sambil mengguncang-guncang tubuh ayahnya.

Ahmad Yani kaget dan terbangun.

“Ada apa, Ed?” tanya Ahmad Yani.

“Ada tamu, Pak.”

Ahmad Yeni heran. Ia melihat jam dinding. Siapa yang datang pagi-pagi buta begini?

Ahmad Yani keluar dari kamar diikuti Eddy.

Anak-anak Ahmad Yani yang lain terbangun oleh kegaduhan itu. Mereka kebingungan melihat tentara memenuhi rumah mereka. Apakah mereka anak buah Bapak? Tapi kok wajah mereka kelihatan bengis?

Ahmad Yani menemui orang-orang itu di ruang tamu belakang.

Raswad, salah satu anggota gerombolan yang memakai tanda kapten, memberi hormat pada Ahmad Yani.

“Bapak diminta untuk menghadap Presiden sekarang juga!” kata Raswad dengan tegas.

Ahmad Yani agak terkejut. Kalau Presiden memintanya menghadap saat ini, pasti ada hal yang sangat penting.

“Baik, saya mau mandi dulu,” kata Ahmad Yani sambil berbalik mau masuk ke ruang tengah.

Tiba-tiba Tumiran berseru, “Tidak usah mandi!”

Ahmad Yani kaget mendengarnya. Berani-beraninya orang ini membentaknya.

“Kalau begitu saya akan cuci muka dan berganti pakaian,” jawab Ahmad Yani dengan sabar.

“Tidak usah ganti pakaian!” seru Tumiran lagi.

Ahmad Yani marah. Ia berbalik dan menempeleng Praka Dokrin, angota gerombolan yang menguntitnya dan berada persis di belakangnya.

“Tahu apa kau, Prajurit!” kata Ahmad Yani dengan nada tinggi.

Ahmad Yani pun masuk ke ruang tengah dan menutup pintu kaca.

Giyadi, yang berada dekat Dokrin langsung bereaksi. Ia melepaskan tembakan ke arah Ahmad Yani. Kaca pintu pun pecah dihantam peluru. Enam peluru Thompson yang menembus kaca itu mengenai tubuh Ahmad Yani. Sesaat Ahmad Yani sempat membalik badan dan menatap penembaknya dengan pandangan heran bercampur marah. Lalu tubuhnya ambruk ke lantai. Ahmad Yani jatuh terlentang. Piyama biru muda kesayangannya berlumuran darah.

Untung, salah satu anak Ahmad Yani, menyaksikan peristiwa itu. Ia menjerit melihat ayahnya dibunuh dengan kejam. Untung ingin sekali memeluk ayahnya. Tapi ia tidak berani karena orang-orang bengis itu segera menghampiri tubuh ayahnya.

Tumiran memegang kaki Ahmad Yani. Kemudian ia menyeret tubuh jenderal yang sudah tak bernyawa itu. Tanpa perikemanusiaan, Tumiran menyeret tubuh Ahmad Yani melalui lorong sampai keluar rumah. Sepanjang jalan yang dilalui, darah Ahmad Yani mengotori lantai. Tak bisa dilukiskan bagaimana perasaan Untung dan saudara-saudaranya yang lain melihat ayah mereka diperlakukan sekejam itu.

Sesampainya di luar, tubuh Ahmad Yani dilemparkan ke dalam bus Icarus. Kemudian rombongan pengkhianat bangsa itu meluncur ke Lubang Buaya.

Malam itu tak akan pernah dilupakan oleh Bu Yani dan anak-anaknya. Malam paling menakutkan yang merenggut orang yang paling mereka cintai.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT