Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

7 Pahlawan Revolusi Jendral Suprapto: Bapak Tak Pernah Kembali

Jum'at, 30 September 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2522 Kali

Meski bertugas di militer dan berpangkat tinggi, Jendral Suprapto berperangai lembut. Ia juga sangat sabar. Orang-orang yang mengenalnya hampir tak pernah melihatnya marah. Kepada anak buahnya pun Suprapto tak pernah bicara dengan nada tinggi.

Selain lembut hati, Suprapto adalah orang yang taat menjalankan perintah agamanya. Dalam keadaan apa pun, salat lima waktu tak pernah ditinggalkannya.

Di tengah keluarganya, Suprapto adalah suami dan ayah yang sangat dihormati. Putera-puterinya sangat patuh dan segan padanya. Anak-anak akan selalu menuruti kata-katanya tanpa harus dimarahi.

Bagi Bu Prapto, Suprapto adalah suami ideal. Lembut hati dan penuh kasih sayang. Hampir selama mendampingi Suprapto, Bu Prapto tidak pernah melihat suaminya marah-marah. Kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya, Suprapto biasanya hanya diam saja. Diamnya Suprapto sudah bisa membuat isterinya kebingungan dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya.

Dalam setiap nasihat yang diberikan kepada anggota keluarganya, Suprapto selalu berpedoman pada agama.

Kepada isteri dan anak-anaknya, Suprapto sering berkata, “Kita harus selalu percaya kepada Tuhan. Karena Tuhan itu adil adanya. Kalau kita mohon pertolongan kepada-Nya, tentu Tuhan akan memberikan pertolongan kepada kita semua. Kita harus memasrahkan segala sesuatunya di tangan Tuhan. Kita juga harus menerima dengan tabah dan tawakal segala cobaan yang diberikan kepada kita.”

Kata-kata itu meresap ke dalam hati isteri dan anak-anaknya. Membuat mereka makin mencintai Suprapto, kepala keluarga yang luar biasa.

Suprapto sangat dekat dengan keluarganya. Tugasnya di militer membuatnya sangat sibuk. Jarang ada kesempatan untuk bisa berkumpul dengan keluarganya. Tapi kesempatan yang jarang itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Suprapto. Bila ada kesempatan untuk berkumpul dengan isteri dan anak-anaknya, Suprapto mengajak mereka bercanda dan berdiskusi mengenai banyak hal. Saat itulah Suprapto menasihati anak-anaknya. Memberi mereka bekal untuk menghadapi masa depan. Suprapto juga memberi kesmepatan kepada anak-anaknya untuk bertanya tentang apa saja.

Seperti biasanya, petuahnya yang berpedoman agama tak pernah dilupakannya. Suprapto ingin keluarganya dekat dengan Tuhan.

“Nasib kita ini sudah ditentukan oleh Tuhan,” kata Suprapto dengan suara yang lembut dan sangat menyentuh hati. “Tentang kematian kita, kapan dan bagaimana caranya, semuanya sudah ditentukan oleh Tuhan.”

Isteri dan anak-anak Suprapto tidak pernah menduga kata-kata itu kelak akan mereka kenang dengan sangat menyakitkan.

Suprapto orang yang sangat sederhana. Meski pangkatnya tinggi, ia tidaklah kaya. Karena Suprapto bukan orang yang mau memanfaatkan jabatannya untuk mengeruk kekayaan. Ia hidup apa adanya, sesuai dengan gaji yang diterimanya. Dengan gajinya itu, Suprapto beserta isteri dan kelima anaknya hidup sederhana. Ia tidak pernah menyelenggarakan pesta di rumahnya. Ulang tahun setiap angota keluarga tidak pernah dirayakan dengan pesta. Cukup dengan mengucap doa syukur saja.

Di halaman rumah Suprapto banyak sekali bunga anggrek. Bunga-bunga itu terawat rapi. Orang yang tidak tahu menyangka Suprapto hidup mewah karena punya banyak anggrek. Karena anggrek termasuk bunga yang mahal. Padahal, anggrek-anggrek itu sering dijual untuk membantu menutupi kebutuhan keluarga.

Jenderal bertubuh agak gemuk ini juga sangat rendah hati. Sering setiap pulang dari kantor, Suprapto mencuci sendiri mobilnya.

Tentu saja sopirnya merasa tidak enak hati.

“Jangan, Pak. Itu kan tugas saya,” kata si sopir sambil berusaha merebut ember dan kain lap dari tangan Suprapto.

“Tidak apa-apa. Saya juga bisa. Kamu pulang saja sana. Kamu kan capek. Istirahat di rumah, supaya besok badanmu segar dan bisa bekerja lagi dengan semangat,” jawab Suprapto dengan senyum ramah.

Pak Sopir pun pulang dengan hati riang. Alangkah enaknya punya majikan seperti Jendral Suprapto.

Suprapto yang periang sering tertawa terbahak-bahak. Kalau sedang bercanda dengan keluarganya, Suprapto sering tertawa keras sekali. Tawanya itu terdengar sampai ke rumah tetangga.

 

 

***

 

Malam itu, seperti biasanya, Suprapto dan keluarganya sedang berkumpul. Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Sesekali terdengar tawa keras Suprapto setelah mendengar cerita lucu salah seorang anaknya. Saat berikutnya Suprapto kelihatan serius menasihati keluarganya. Sungguh malam yang menyenangkan, malam tanggal 30 September 1965.

Malam semakin larut.

“Sudah malam. Tidur sana. Nanti kesiangan, lagi,” kata Suprapto kepada anak-anaknya.

Kelima anak Suprapto pun masuk ke kamar masing-masing.

Suprapto mengajak isterinya ke kamar.

Rumah besar itu pun sunyi senyap.

Pukul 4 dinihari, ketika Suprapto dan keluarganya sedang tidur lelap, beberapa buah bus dan truk berhenti di depan rumah.

Dari kendaraan-kendaraan itu muncul orang-orang berseragam tentara dan bersenjata lengkap. Mereka bergerak dengan sangat cepat, menyebar ke seluruh bagian rumah Suprapto. Wajah mereka tampak begitu bengis. Bagai binatang yang siap menerkam mangsanya.

Dalam waktu singkat, para penjaga rumah dilumpuhkan. Beberapa dari mereka masuk ke rumah. Sementara yang lainnya berjaga-jaga di luar.

Kehadiran orang-orang itu menimbulkan kegaduhan. Isteri Suprapto pun terbangun dan langsung keluar dari kamar.

Bukan main tekejutnya Bu Prapto melihat orang-orang bersenjata sudah ada dalam rumahnya. Dari seragamnya, Bu Prapto tahu mereka adalah Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Ada apa Cakrabirawa datang pagi-pagi buta begini? Perasaan Bu Prapto langsung tidak enak.

“Bapak ada, Bu?” salah seorang dari pasukan itu bertanya dengan nada kasar.

“Ada. Sedang tidur,” jawab Bu Prapto tegas. Ia berusaha mengatasi rasa takutnya.

Mendengar ribut-ribut, Suprapto pun terbangun. Ia keluar dari kamar, masih mengenakan kain sarung dan kaos oblong.

“Ada apa ini?” tanya Suprapto bingung.

“Maaf, Jenderal. Jenderal diminta untuk menghadap Presiden, sekarang juga!” kata salah seorang dari pasukan Cakrabirawa.

Tentu saja Suprapto heran Presiden memanggilnya pagi-pagi buta begini. Tapi sebagai seorang prajurit, ia patuh pada perintah atasan.

Suprapto membalik badan mau masuk lagi ke kamarnya.

“Mau ke mana, Jenderal?”

“Saya mau mandi dan ganti pakaian dulu.”

“Tidak perlu. Jenderal harus ikut kami, sekarang juga!”

Suprapto belum sempat menjawab lagi ketika beberapa orang dari pasukan itu mengepungnya. Dengan kasar orang-orang itu memegang kedua tangan Suprapto dan menyeretnya dengan paksa.

Suprapto mau berontak. Tapi ia melihat isteri dan anak-anaknya yang saat itu sudah bangun. Firasatnya mengatakan orang-orang ini tidak main-main. Mereka orang-orang kejam. Suprapto mengkhawatirkan keselamatan keluarganya. Karena itu ia menurut saja dibawa dengan kasar oleh orang-orang yang tak dikenalnya. Dalam hati sakit juga rasanya. Orang-orang yang pangkatnya lebih rendah darinya ini begitu kurang ajar. Tapi demi keselamatan keluarganya, Suprapto menahan sakit hatinya.

Suprapto dipaksa masuk ke dalam bis, didorong dengan senjata dan ditendang pula.

Di dalam rumah isteri dan anak-anaknya menyaksikan kepergiannya dengan hati pilu. Airmata mengalir deras di pipi mereka. Itulah untuk terakhir kalinya mereka melihat Suprapto, orang yang paling mereka kasihi. Anak-anak Suprapto menangisi kepergian ayah mereka tercinta. Karena sejak saat itu, Bapak tersayang tak pernah pulang.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT