Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

DETIK-DETIK KUP PENGHIANATAN G-30-S/ PKI

Jum'at, 30 September 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 2243 Kali

Suasana Ibu kota Jakarta pada tengah malam menjelang 1 Oktober 1965 tenang seperti sediakala. Rakyat Ibu Kota tenggelam dalam tidur setelah menjalani kesibukan hidup masing-masing pada siang harinya. Tiada orang menyangka, kecuali para pengkhianat, bahwa pada malam itu PKI akan melancarkan pemberontakan yang dimulai dengan pembunuhan secara kejam dan keji terhadap pimpinan TNI-AD.

            Jaga malam di sudut jalan memukul kepingan logam yang tergantung di sudut gardunya dua belas kali. Dengan suaranya mengumandang di udara malam menyebar ke segenap penjuru. Suara dentangan lonceng mendapat jawaban dari kampung-kampung lain.  Sebuah mobil Toyota tampak keluar dari rumah gembong PKI Sjam di Jalan Pramuka. Lima orang penumpang ada di dalamnya.  Kendaraan itu meluncur dengan cepatnya, meninggalkan rumah tersebut. Di pertemuan Jalan Pramuka-Jakarta Bypass sopir melambatkan  kendaraannya, belok ke kanan dan menambah kecepatannya. Tak ada satu penumpang pun yang berbicara, masing-masing tenggelam dalam lamunannya. Melamunkan suatu pemberontakan yang beberapa jam lagi akan mereka langsungkan.

            Setelah beberapa saat kendaraan membelok ke kiri, berbelok-belok melalui hutan karet, beberapa rumah penduduk dan akhirnya berhenti di tepi suatu lapangan.  Mesin mobil dimatikan dan turunlah para penumpangnya. Mereka mendekati kelompok-kelompok pasukan bersenjata, berbicara sebentar, mungkin membangkitkan semangat mereka. Seluruh pasukan yang ada di situ tampak berpakaian tempur lengkap. Mereka duduk berkelompok-kelompok. Berbicara ke kanan dan ke kiri. Beberapa pemuda dengan penuh emosi membicarakan pengkhianatan yang akan mereka lakukan tidak lama lagi, seolah-olah mereka yakin pasti akan menang. Beberapa orang wanita anggota Gerwani tertawa histeris. Mereka bergurau dan bergaul dengan para lelaki itu seperti suaminya sendiri, walaupun tidak sedikit di antara mereka sudah bersuami, bahkan kelihatan beberapa orang sedang mengandung.

            Daerah itu memang strategis letaknya untuk menyusun suatu pemberontakan. Jauh dari jalan besar, terlindung dibalik pohon karet yang cukup tebal. Rumah penduduk di situ tidak begitu banyak, sebagian penghuninya ternyata sudah di bawah pengaruh PKI. Lapangan itu sendiri tidaklah terlalu luas, akan tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.

            Rombongan yang baru datang terus berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Akhirnya mereka menjumpai seorang yang rupanya memegang pimpinan di situ. Salah seorang dari rombongan itu berbicara dengannya, memberi instruksi.

            Pada jam 01.30 mereka meninggalkan tempat Lubang buaya. Kelima-limanya adalah gembong-gembong pemberontak G-30-S/PKI yang sedang bertenggayangan menyebar maut di jantung Ibu Kota Jakarta, yaitu Untung, Suparjo, Latief, Sjam, dan Pono. Di tempat ini kelima gembong pemberontak G-30-S/PKI itu membicarakan langkah-langkah lebih lanjut yang mereka akan  lakukan.

            Kemudian Sjam memutuskan untuk segera mengirimkan delegasi yang bertugas menghadap Presiden Sukarno di Istana besok. Mereka berpandangan. Waktu itu sudah jam 02.00 lebih.  “ Agar jangan membuang-buang waktu,” demikian kata Sjam. Sebentar lagi gerombolan Dul Arief bergerak dari Lubang Buaya untuk menculik pimpinan TNI-AD.

            Sesudah diadakan dialog antara mereka, serta berkeyakinan bahwa Dul Arief pasti bergerak, maka Sjam memutuskan menunjuk Supardjo sebagai utusan G-30-S/PKI ke Istana dengan anggota Heruatmodjo, Sunardi, dan Anwas.  Mendengar penunjukan itu Supardjo agak terkejut, ia tahu bahwa tugas itu tidak ringan. Bibirnya bergerak-gerak. Sjam menekankan kepada Supardjo, agar dia tidak ragu-ragu menjalankan tugasnya dan harus berhasil, karena gerakan itu sebagian besar tergantung dari hasil kepergiannya ke Istana. Selain  itu gerombolan pemberontak telah dipersiapkan di sekitar Istana.

            Sementara itu Latief memperkuat kata-kata Sjam.  Untuk meyakinkan Supardjo, diberitahukannya bahwa anggota-anggota Yon 454 dan 530 berada di sekitar Monas. Lagi pula Untung sudah menempatkan orang-orangnya di Istana. Hal ini semua akan mempermudah Supardjo melakukan tugasnya; tugas ke Istana untuk menjumpai Presiden, dan melaporkan bahwa “Gerakan 30 September” telah berhasil mengamankan anggota-anggota “Dewan Jendral” yang terdiri dari Jendral Nasution, Letjen A.Yani, Maylen Parman, Mayjen Soeprapto, Mayjen Haryjono, Brigjen Sutojo dan Brifjen Pandjaitan, kemudian minta restu kepada Presiden tentang “G-30-September” dan “Dewan Revolusi” yang segera akan dibentuk.  Diharapkan dari Supardjo untuk dapat menyakinkan Presiden Sukarno sehingga usaha-usahanya semua akan berhasil. Sjam memberikan petunjuk-petunjuk kepadaSupardjo bagaimana untuk masuk ke Istana. Diberitahukan juga siapa-siapa yang sudah ditempatkan di pintu, serta kode-kode yang harus dipergunakan serta dari arah mana ia harus masuk dan berbagai hal teknis lainnya.

            Sejak pukul 22.00 malam tanggal 30 September, anggota Cakrabirawa yang diperalat oleh G-30-PKI  telah meninggalkan asramanya di Jl. Tanah Abang II, Jakarta.  Mereka berkumpul di Lubang Buaya bersama-sama dengan sebagian anggota Yon 454, 530, PGT, Brigif I yang juga berhasil diperalat oleh G-30-S PKI, dan Sukarelawan PKI yang terdiri dari Pemuda Rakyat dan Gerwani. Pada pukul 2,30 pagi Dul Arief, Komandan Pasukan Pasopati G-30-S /PKI, mengumpulkan anggota-anggotanya. Ia memberikan briefing kepada Komadan-komandan peleton pasukan pemberontak dan kemudian membagi pasukan Pasopati dalam:

  1. Pasukan yang ditugaskan menculik Jendral Nasution, dipimpin oleh Djaharup dari Resimen Cakrabirawa dan terdiri dari I regu Yon  454, 1 peleton Sukta, 1 peleton PGT.
  2. Pasukan yang ditugaskan menculik Letjen A, Yani dipimpin oleh Mukdjan terdiri dari 1 peleton dari Brigif 1/Jaya, 1 regu Cakrabirawa, 1 peleton Yon 530, 1 peleton yon 454, 1 Regu PGT, 2 regu sukarelawan PKI.
  3. Pasukan yang akan menculik Mayjen Suprapto,  sejumlah 1 peleton dai Yon KK Cakrabirawa yang terbagi dalam dua regu, Regu 1 dipimpin Sulaiman, regu 2 dipimpin oleh Sukiman.
  4. Pasukan untuyk menculik Maylen S, Parman, dipimpin oleh Satar terdiri dari 1 regu Men Cakrabirawa-di BP kan pada Satar 1 peleton dari Yon 530 di bawah pimpinan Paat.
  5. Pasukan yang ditugaskan menculik Mayjen M.T. Haryono dengan kekuatan satu peleton  Cakrabirawa, dipimpin oleh Bungkus, terbagi dalam  3 regu, regu 1 dipimpin oleh Arlan, regu 2 oleh Tjarman, dan regu 3 oleh Sjahnan.
  6. Pasukan untuk menculik Brigjen Soetoyo berkekuatan 1 peleton Cakrabirawa, dipimpin oleh Surono; Regu 1 di bawah pimpinan Sudibyo; regu 2 dipimpin oleh Ngatidjo, regu 3 dipimpin oleh Dasuki.
  7. Pasukan yang akan  menculik Brigjen Pandjaitan dipimpin  oleh Sukardjo  dari Yon 454 yang berkekuatan 1 regu dari Brigif I/ Jaya, 1 regu Yon454 sebagai regu pengaman.

PKI dengan licik telah memperalat oknum-oknum TNI dari berbagai kesatuan dan Angkatan untuk kepentingan pemberontakan dan pengkhianatannya. PKI telah mengadu domba dan memperalat para perajurit TNI untuk membunuh pemimpin mereka sendiri. Sebagian besar perajurit TNI yang diperalat itu tidak mengetahui dan menyadari bahwa mereka telah diperalat untuk suatu pemberontakan. PKI telah menyebarkan keonaran di antara sesama perajurit TNI.

      Menurut tuduhan PKI, mereka yang harus diculik ini adalah tokoh-tokoh “Dewan Jendral”, yang difitnah akan mengadakan kup terhadap Presiden. Mereka harus dibawa, hidup atau mati!. Taktik menculik mereka dengan mengatakan, bahwa mereka diperintahkan oleh Presiden untuk menghadap. Untuk ini Dikin ditunjuk sebagai petunjuk jalan. Kode-kodenya sebagai berikut:  Nurdin untuk Nasution, Yansen untuk Yani, Toyota untuk Sutoyo, Singer untuk Pendjaitan. Selanjutnya kalau sudah menyelesaikan tugas, bawalah mereka dan serahkankepada basis di Lubang Buaya, karena pasuan Gatotkaca di bawah pimpinan Gatot Sukrisno akan memberesan mereka, demikian perintah Dul  Arief.

      Pertemua tu ditutup dan komandan-komandan pasukan kembali ke anak buahnya. Kepada seluruh anggota pasukan telah dibagikan kain kuning yang harus digunakan hanya untuk malam hari. Kain kuning tersebut berukuran 30x 40cm. Cara memakainya ialah diikatkan di leher dengan jambul di belakang. Anggota-anggota sukarelawan PKI telah disediakan kain-kain kuning, hijau dan merah sebagai simbul Nasakom.

      Sudjono Kamandan Resimen P3U Halim Perdanakusumah yang telah dipengaruhi PKI memberi perintah kepada Sesan Udara Satu Anis Sujatno untuk mengirim berita melalui DEPAU I di tanah abang Bukit, ditujukan kepada semua Dan Yon P3 di seluruh Indonesia. Dalam berita itu dinyatakan , bahwa situasi di Jakarta sangat genting, agar semua pasukan siap siaga, dikonsinyir, sedangkan yang cuti harus segera dipanggil kembali ke induk pasukannya. Sebagai perwira urusanj logistik dalam “Divis Ampera” G-30-S/PKI tugasnya cukup berat. Ia telah mengirim nota kepada Gatot Sukirno dan Heruatmodjo untuk menyelesaikan pengambilan senjata di Korut V dan harus segera dibagi-bagikan kepada Hansip di daerah Lubang Buaya. Ia pun harus mmengurus permintaan kendaraan, permintaan agar gedung Penas dijadikan Cenko I. Ia harus menyediakan makanan bagi anak-anak Yon 454 dan Yon 530 yang mengepung istana, mempersiapkan tempat di Halim guna sewaktu-waktu mengamankan pejabat-pejabat penting termasuk Bung Karno, Dr Subanrio, dan D.N. Aidit. Kepada para anak buahnya ia selalu menekankan bahwa “Dewan Jendral” akan mengadakan kup.

      Jarum jam menunjukkan pukul 3, Jam D-I. Terdengar abah-abah dan deru mesin mobi dihidupkan. Tiga truk AURI dan dua web Cakrabirawa bergerak meninggalkan Lubang  Buaya. Berangkatlah pasukan penculikan pertama  dengan sasaran rumah Jendral Nasution. Kelima kendaraan ini mengangkut 100 orang G-30-S /PKI yang akan melaksanakan pembunuhan terhadap Jendral D.r. A. H. Nasution. Seperempat jam keudian berangkat pula dua rombongan. Rombongan pertama menggunakan bus pereman no polisi B 889 dan satu truk B 1840 R dengan tujuan rumah Mayjen S,Parman. Rombongan ke dua menggunakan satu truk Toyota No 645 menuju rumah Mayjen Sutojo. Pasukan penculik Letjen A, Yani dan Brigjen Panjaitan berangkat jam 3.30 pagi. Untuk menculik A.yani, mereka menggunaka 2 truk dan 2 bus, sedangkan para penculik Brigjen Pandjaitan menggunakan truk Tirtayasa, 1 bus Ikarus dan 1 bus PPD. Keramaian di basis pemberontalk di Lubang Buaya jadi agak berkurang. Untung yang beberapa saat sebelumnya telah datang dari Penas—untuk menyaksikan pemberangkatan pasukan pemberontak itu diiringi Dul Latief memasuki tenda yang mereka jadikan markas. Mereka berpandangan sejenak. Mata mereka memancarkan sinar “kegembiraan” yang haus darah. Anak panah sudah dilepas. Racun maut sudah disebarkan.

      Pada waktu itu pula Yon 454 dan Yon 530 yang sebenarnya didatangkan ke Jakarta untuk merayakan Hari  ABRI, 5 Oktober 1965, tetapi telah diperalat PKI dan tergabug dalam Pasukan Bima Sakti menduduki posnya di Utara Monumen Nasional, sedangkan Yon 530 di sebelah selatan, sekaligus pula membelokir gedung Telkom dan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Mereka ini adalah sebagian dari “Divisi Amera” G-30-S/PKI pimpinan Latief yang sedang melancarkan “Operasi Takari”. Tugas pokok Bima Sakti ialah penguasaan wilayah. Khusus untuk mereka yang berada di sekitar Monas dinyatakan bahwa setiap anggoata Cakrabirawa yang masuk ke Skomen supaya diperbolehkan, begitu pula setiap anggota ABRi yang akan masuk kerja; sebaliknya pasukan bersenjata harus ditahan. Kalau diserang mereka harus mempertahankan diri, mereka pun dilarang mengdakan provokasi sejauh mungkin setiap perempuran harus dihindari. Apabila terjadi pertempuran jangan menembak ke atas karena akan dianggap msuh oleh AURI. Dan jika keadaan memaksa harus mendur ke Lapangan Halim Perdanakusumah.

      Pada pukl  04.00 datang seorang kurir menghampiri Bambang Supeno Dan Yonn 530. Kepadanya disampaikan perintah agar ia segera datang ke gedung Penas di Jalan Jakarta Bypass bersama-sama Sukirno, Dan Yon 454. Bambang Supeno heran mengapa ia disuruh datang. Tetapi setelah kurir menjelaskan bahwa Bambang Supeno menjadi anggota delegasi untuk menghadap Presiden di Istana, maka ia menyanggupinya. Setelah meninggalkan pesan-pesan pada wakilnya, Kapten Karbi, ia bersama Dan Yon 454 berangkat ke Penas.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT