Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

PERAN SUTAN SYAHRIR DALAM PERSIAPAN KEMERDEKAAN R.I.

Selasa, 16 Agustus 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 4393 Kali

Kecuali angkatan 45, saya yakin banyak generasi muda sekarang tidak lagi mengenal Syahrir, salah seorang pejuang yang tidak mengenal kompromi dengan pihak penjajah. Nama lengkapnya Sutan Syahrir, Dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat pada tanggal 5 Maret 1909. Meninggal di Zurich, Swiss, 9 April 1966. Beliau adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia.

            Ketika Indonesia masih di jajah Belanda, Syahrir bersama para pejuang lainnya sudah aktif berpolitik sejak dari bangku sekolah menengah yang saat itu tergabung dalam Himpunan Pemuda Nasional. Saat duduk di bangku AMS, dia sudah dicari-cari polisi akibat berbagai aktivitasnya untuk memerdekakan bangsa. Syahrir kemudian meneruskan pendidikan ke Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam Belanda. Sejak itu ia tertarik dengan sosialisme dan bergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang di pimpin oleh Dr. Moh. Hatta.

            Tahun 1931 ia meninggalkan kampusnya, kembali ke tanah air dan bergabung dengan Partai Nasional Indonesia ( PNI Baru). Sejak itu ia banyak menulis dan berpidato menyadarkan bangsanya untuk menjadi bangsa yang merdeka. Menurut Pemerintah Belanda saat itu, PNI Baru yang dipimpin Hatta dan Syahrir lebih berbahaya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) di bawah pimpinan Sukarno yang lebih banyak mengandalkan kekuatan masa.  Sedangkan PNI–Baru diam-diam menyiapkan kadernya yang siap bergerak ke arah tujuan revolusioner. Kegiatan politik yang dilakukannya telah menyebabkan (1934) Syahrir bersama Hatta dibuang ke Boven-Digoel, Papua. Kemudian dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani hukuman selama enam tahun.

            Masa Pendudukan Jepang

 Sukarno dan Hatta, ketika Indonesia dijajah Jepang banyak menjalin kerjasama dalam usahanya untuk memerdekakan bangsa. Berbeda dengan Syahrir, ia bersama sejumlah kader muda PNI Baru lebih memilih membangun gerakan bawah tanah anti-fasis.

Ketika Jepang makin terdesak oleh Pasukan Tentara Sekutu, mereka mendengar kabar itu melalui radio luar negeri. Kabar itu diteruskannya kepada Hatta sambil ia menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Kemudian, kelompok Syahrir setelah mengetahui Jepang telah menyerah kepada Sekutu, mendesak Sukarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan RI pada tanggal 15 Agustus 1945 dan kelompok Syahrir telah siap untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai dukungan rakyat. Usulan itu tidak dapat tanggapan, sebab Sukarno-Hatta belum menerima kabar itu dari Jepang. Menurut rencana, proklamasi akan dilakukan pada tanggal 24 September 1945, sesuai dengan keputusan Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang.

Syahrir bersama para pemuda sangat kecewa, sebab mereka beranggapan bahwa kemerdekaan RI itu merupakan hadiah dari Jepang. Guna mendesak dengan keras, serta menjauhkan pengaruh Jepang, maka pada tanggal 16 Agustus 1945 sejumlah pemuda antara lain Chairul Saleh, Sukarni, Jusuf Kunto, Singgih dll, menculik Sukarno-Hatta ke Rangasdengklok. Akhirnya Proklamasi Kemerekaan RI dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.  

Setelah kemerdekaan, dalam usia 36 tahun Syahrir menjabat sebagai Perdana Menteri Pertama R.I. (14 November 1945 - 20 Juni 1947), merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT