Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

MENJADI KEKASIH ALLAH

Kamis, 14 Juli 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 783 Kali

Diriwayatkan, ketika Adam diciptakan, Allah memerintahkan Jibril untuk mengambil tiga mutiara paling berharga dari perbendaharaan Ilahi: kearifan, iman, dan kerendahan hati.Dan ketiga mutiara yang diwadahi talam emas itu disodorkan kepada Adam untuk dipilih. Adam memilih mutiara kearifan.

            Jibril kemudian bermaksud membawa kembali talam yang masih berisi dua mutiara itu ke perbendaharaan Ilahi. Namun, dengan segenap kekuasaannya yang perkasa, ia tidak kuasa mengangkat talam itu.

            Kedua mutiara itu berkata kepadanya, “Kami tidak akan berpisah dari kearifan kami yang tercinta. Kami tidak dapat bahagia dan tenang bila jauh darinya. Kami bertiga senantiasa merupakan tiga serangkai keagungan Ilahi, dan tidak dapat dipisahkan satu  sama lain”.

            Kemudian terdengar sebuah suara agug dari hadirat Ilahi, “Jibril, biarkan mereka, dan pergilah!”

            Kisah sufistik itu disadur dari karya klasik penulis kenamaan Syaikh Syamsuddin Ahmad Al-Aflaki (1992). Kisah yang semburat cahaya hikmahnya bisa membimbing setiap kita menjadi salikin (para pelaku spiritual) menuju kesempurnaan hidup : menjadi kekasih Allah apabila kita mewarisi ketiga mutiara yang notabene merupakan pusaka anak cucu Adam yang terpilih, mulai dari Rasul Shaddikqin, Ayahanda, dan orang-orang saleh. (QS. Al-Nisa:68)

            “ Barangsiapa di antara anak cucu Adam tidak memiliki ketiga mutiara itu, maka ia tidak memiliki perasaan dan kemuliaan asal-usul Ilahiahnya,“ demikian fatwa seorang sufi, Jalaluddin Rumi kepada husam. “Kearifan mengambil tempat di otak, iman mengambil tempat di hati, sedangkan kerendahan hati menempatkan dirinya  dalam air muka, “ tambahnya.

            Mufassir besar Al-Thabathaba’i dalam Al- Mizan fi Tafsir Alquran, mencatat tiga pensyaratan  yang mesti dipenuhi untuk menjadi kekasih Allah. Ketiganya merupakan wasilah ( perantara) bagi tergenggamnya ketiga mutiara Ilahi tadi; di dalanya tersimpul pembumian nilai-nilai ketiga mutiara itu dalam praktis kehidupan sehari-hari.

            Pertama, menjadikmunitas Alquran (ahl. Alquran). Artinya, Alquran bukan hanya dibaca sebatas ibadah ritual atau tadarrus  (pembaca teks), tetapi lebih dari itu, ia juga menjadi imam dalam derap langka sejarah keseharian kita,  dipraktekkan dalam aksi nyata ( pembacaan konteks). Atau dengan kata lain, Alquran menjadi watak (khuluq) kita.

            Ketika Aisyah ditanya ihwal watak Rasulullah, Aisyah menjawab, Wataknya adalah Alquran. Jawaban Aisyah adalah sebuah jawaban yang meniscayakan setiap kita untu “menjadi” Muhammad yang benar-benar utuh merefleksikan dan mengaktualisasikan kitab suci Alquran. Dari proses ”pembacaan yang padat” ini, kita menjadi Qur’an natig ( penyambung lidah Alquran) dan Alquranya sendiri menjadi Qura’an shamit (Alquran yang diam) sebagaimana sifat Nabi. Menjadi Qur’an natig, maka Alquran pun akan membalas kita dengan membimbing ke arah  cepatnya terbentuk pribadi-pribadi kekasih Allah. Balasan itu berwujud hudaan (QS. Al-Isra:9), nur (QS AlNisa :105. dan hidayah (QS Ibrahim:1).

            Kedua, selalu ikhlas dalam beramal. Semakin dominan keikhlasan, semakin bersinarlah kebenaran dalam hati. Atau dalam tamsil Rumi, “ Semakin panas oven, kian bagus rotinya. Jika dingin, rotinya tidak akan masak sama sekali.”

            Ibn Abbas pernah meriwayatkan, ketika ditanya tentang maksud firman Allah, “ Para kekasih Allah tidak pernah takut dan bersedih (ala inna aulya Allah la khauf walahum yahjanun), Imam Ali menjawab, “ Mereka adalah orang-orang yang selalu ikhlas dalam beribadah, kuasa menyelami hakikat dunia ketika mayoritas orang dilenakan dzahir dunia sehingga yang mngontrol dunia tidak dikontrol dunia (yamlik ad-dunya wa la tamllikuh ad-duyya). Walaupun ia seorang kaya raya, kekayaannya tidak mempengaruhinya. Ia sumbangkan kekayaannya sesuka hatinya.”

            Syaikh Abdul Qadir Jailani menyatakan,” Orang yang hidup hanya terkonsentrasi kepada Tuhan (ikhlas) adalah sejatinya kekasih Allah yang tengah berlayar ke samudra kesempurnaan dan tidak akan karam sedikit pun di dunia.”

            Ali Ibn Husain mengelaborasi lebih lanjut tentang ikhlas, dalam konteks kekasih Allah sebagi orang yang tak pernah alpa menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah diisyaratkan Tuhan,  berpegang teguh kepada Sunnah Rasul, menjauhkan diri dari hal-hal yang haram dan syubhat (wara), zuhud, mencari rezeki melalui jalan yang benar, memiliki kometmen sosial yang kental, dan tidak pernah bersikap rakus ( al- takatsur) dan monopolistik (al-tafakkur).

            Ketiga, Sharih al-iman: mengejawantahkan nilai-nilai keimanan. Ahmad, Hakim dan Al Turmidzi  meriwayatkan dari Umar bin Al-Jumuh bahwa Nabi Saw bersabda, “Seutama-utama hamba adalah mereka yang sharih imannya yang diterjemahkan dalam rupa: mencintai dan membenci sesuatu semata karena Allah.  Apabila telah bersikap demikian, ia berhak mengkelaim sebagai kekasih Allah.”

            Kaitannya dengan isharih al-imani ini, Imam Jakfar Al- Shjadiq memberikan penjelasan: “Allah meletakkan iman di atas tujuh fundamen, yakni: kebajikan ( al- birr), kejujuran (ash-shidq), kerelaan kepada ketentuan Allah (ar-ridla), kesetiaan ( al-wafa), pengetahuan ( al-ilm) dan kemampuan mengendalikan syahwat yang negatif ( al-hilm). Kemudian Allah mendistribusikannya di antara umat manusia. Orang yang berikhtiar semaksimal mungkin dan diberi tujuah fundamen kekayaan diri ini adalah manusia sempurna, Kekasih Allah.

            Menjadi kekasih Allah haruslah menjadi orientasi hidup kita. Di sanalah pusaran kebahagiaan dan kesejatian hidup, baik di dunia maupaun di akhirat. Mudah-mudahan setiap kita bisa merengkuhnya.

(Asep Salahudin)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT