Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Merajut Nasib Merubah Takdir

Jum'at, 01 Juli 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 743 Kali

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan-ungkapan sebagai berikut:
“Yah, sudah suratan takdir saya menjadi pegawai rendahan.”
”Saya terima nasib saja menjadi orang kecil.”
”Dasar garis tangannya, orang itu akhirnya jadi pengusaha sukses.”

Ungkapan-ungkapan seperti di atas sangat sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan sehingga tanpa kita sadari menjadi sebuah mitos yang dianggap benar namun sesungguhnya belum teruji. Pertanyaan bodoh saya terhadap ungkapan-ungkapan tersebut adalah sebagai berikut:

Andai benar bahwa pencapaian seseorang ditentukan oleh suratan takdir, nasib atau garis tangan, maka untuk apa kita susah-susah mengadakan pemilihan umum?

Cukup seluruh rakyat negeri ini di-scan tangannya lalu dimasukan ke dalam computer. Selanjutnya, pada saat kita hendak memilih walikota, gubernur atau bahkan presiden, tinggal kita cari siapa orang yang garis tangannya mengatakan bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin.

Kita perlu berhati-hati terhadap pemikiran-pemikiran yang bersifat melemahkan. Pemikiran-pemikiran tersebut cenderung dijadikan dalih oleh orang-orang yang tidak berhasil untuk menutupi kegagalannya. Saya pribadi, sudah sejak lama, memilih untuk tidak mempercayai mitos-mitos di atas. Bagi saya, paradigma atau cara pandang yang jauh lebih bisa diterima dan jauh lebih berguna adalah bahwa pikiran seseorang akan mempengaruhi sikapnya. Selanjutnya, sikap seseorang akan menentukan tindakannya. Lalu, tindakan seseorang akan menentukan hasilnya. Dan, bila hasil demi hasil ini diakumulasikan maka akan menjadi… nasib atau bahkan takdir. Jadi, singkatnya, nasib atau takdir seseorang ditentukan oleh pikirannya.

Anda tidak percaya? Marilah kita menelaah ilustrasi berikut. Dua orang pengusaha, sebut saja Si Bijak dan Si Bodoh, memulai usaha yang sama, pada saat yang sama di tempat yang sama dengan jumlah modal yang sama. Semuanya sama. Yang berbeda adalah cara pikir si Bijak dan Si Bodoh. Si Bodoh berpikir bahwa uang yang didapatnya dari hasil usahanya bisa ia gunakan sesuka hati. Sedangkan Si Bijak berpikir bahwa uang yang didapatnya dari hasil usahanya harus digunakan untuk memperbesar usahanya tersebut. Ternyata penjualan Si Bijak dan Si Bodoh sama lakunya. Omset mereka dari di bulan pertama sama. Si Bodoh menggunakan keuntungan yang diperolehnya untuk bersenang-senang sementara Si Bijak menggunakan keuntungan yang diperolehnya untuk menambah kapasitas usahanya. Bulan ke dua, penjualan Si Bijak sedikit lebih banyak dari Si Bodoh karena ada barang-barang yang tidak disediakan oleh Si Bodoh namun disediakan oleh Si Bijak.

Perlahan-lahan, para pelanggan Si Bodoh mulai beralih ke Si Bijak karena barang-barangnya tidak lengkap. Di bulan-bulan berikutnya, karena skala bisnis Si Bijak membesar, maka Si Bijak mulai mendapatkan berbagai diskon dari para suppliernya sehingga selanjutnya Si Bijak bisa menurunkan harga jualnya dengan tetap mempertahankan keuntungannya. Pada bulan ke-12, omzet Si Bijak sudah meningkat 10 kali lipat dibandingkan pada bulan pertama. Sementara Si Bodoh sudah menutup usahanya. Lalu pantaskah bila Si Bodoh mengatakan keberhasilan dalam menjalankan usaha tersebut bukan merupakan peruntungannya melainkan sudah menjadi garis tangan Si Bijak?

Marilah kita simak kembali ilustrasi di atas. Siapakah yang memiliki pemikiran yang benar terhadap uang yang dihasilkan? Jawabannya adalah Si Bijak. Siapakah yang bersikap benar terhadap uang yang dihasilkan?

Kembali Si Bijak. Siapakah yang mengambil tindakanyang benar terhadap uang yang dihasilkan? Lagi-lagi Si Bijak. Siapakah yang mendapatkan hasil yang baik dari waktu ke waktu? Tentu saja Si Bijak. Dan terakhir, siapakah yang akhirnya nasibnya lebih baik dalam usaha tersebut? Jelas Si Bijak.

Dari kisah di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa nasib seseorang adalah sejauh mana pikirannya. Semakin seseorang mempersempit pikirannya, maka semakin suramlah nasibnya. Demikian pula semakin seseorang memperluas pikirannya, semakin cerahlah nasibnya. Bahkan, pikiran seseorang bukan hanya bisa merajut nasibnya tetapi juga bisa mengubah takdirnya. Kisah mengenai Hsieh Kun-Shan mungkin salah satunya.

Hsieh Kun-Shan lahir di TAIDONG, Taiwan 21 Juni 1958 dengan tubuh yang sempurna dan dalam kondisi yang sehat. Karena tekanan ekonomi, ia membantu ayahnya Xie Shu dan ibunya Zhang Guihua untuk mencari uang bahkan sejak ia masih kecil. Pada usia 12 tahun, Hsieh terpaksa harus berhenti sekolah dan menjadi buruh pabrik garmen. Di tahun 1974, pada saat ia berusia 16 tahun, Hsieh membawa tiang besi yang secara tidak disadarinya menyentuh kabel bertegangan tinggi. Celakanya lagi, ia tidak menggunakan sandal sehingga seluruh tubuhnya menjadi konduktor listrik. Hsieh pun kontan terkena sengatan listrik yang membuatnya tak sadarkan diri selama dua hari. Pada saat ia terbangun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua tangan dan kakinya hancur serta mata kanannya rusak. Mata kanan Hsieh akhirnya tidak bisa digunakan untuk melihat sama sekali ketika saudara perempuannya secara tidak sengaja memukulnya dengan jepretan pada saat hendak memperbaiki buku. “kehilangan anggota tubuh dan rasa sakit tidak membuatku lemah, namun hatiku hancur melihat air mata, keputusasaan dan ketidakberdayaan ibuku.”Demikian penuturan Hsieh. “Aku hanya menambah penderitaan kepada perempuan yang hidupnya sudah penuh dengan duka. Ia harus merawat aku seperti bayi. Aku lalu memnbangunkan pikiranku, bahwa aku harus menjadi orang yang berguna dan tidak akan pernah membiarkan ibuku menangis lagi.” Begitulah tekad Hsieh.

Dan ternyata perubahan dalam pikiran Hsieh tersebut telah membuat perbedaan besar. Hsieh pun mulai berlatih untuk hidup dengan kekurangan fisiknya. Ia berlatih mengenakan celananya dan memandikan dirinya. Bahkan Hsieh menolak ketika teman-temannya mengajaknya untuk mengemis. “Tubuhku terkurung, namun pikiranku bebas.” Begitulah keyakinan Hsieh. Akhirnya Hsieh memutuskan untuk mulai melukis. Kenangan terhadap hobinya menggambari buku pelajaran hingga dimarahi guru telah memberinya gagasan. Ia pun mulai berlatih membuat sketsa dengan menggunakan pensil yang digenggam menggunakan mulutnya. Di saat berusia 20 tahunan, setelah menggunakan kaki palsu, Hsieh bergabung dengan dua orang rekannya untuk mendirikan studio yang menjual lukisan cat minya.

Tekad Hsieh yang kuat telah menarik perhatian pelukis cat minyak terkenal Wu Ah-Sun yang ditemuinya dalam sebuah pameran. Wu kemudian memberinya kuliah gratis melukis kepada Hsieh dan ikut mempromosikan karya-karya Hsieh. DI kelas itulah Hsieh bertemu dengan calon istrinya, seorang wanita cantik bernama Lin Yeh-Chen. Pernikahan itu sendiri pada awalnya tidak disetujui oleh keluarga Lin. Hsieh kemudian melanjutkan sekolahnya hingga lulus SMU pada usia 30 tahun. Pada tahun 1987, Hsieh telah mendapatkan banyak penghargaan. Setiap bulannya ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar US $ 3.000. Bahkan lukisannya yang berukuran sedang bisa terjual seharga US $ 5.000,- Selain itu, Hsieh juga mendapatkan penghasilan dari mengajar. Kisah hidup Hsieh telah menjadi legenda di Taiwan dan menjadi pelajaran untuk para siswa SD dan SMP. Film tentang Hsieh sepanjang 30 episode pun diputar televisi Taiwan dan Negara-negara lain termasuk salah satu televisi lokal di Indonesia. Dalam serial televisi tersebut, Hsieh ikut memerankan dirinya setelah dewasa. Pada tahun 2002, Hsieh menulis biografi yang kemudian menjadi buku wajib anak-anak setahun kemudian. Hsieh juga kerap diundang untuk menjadi pembicara dalam berbagai acara penting. Kini Hsieh mengabdikan dirinya untuk menolong banyak orang. Sebagai contoh, Hsieh menyumbangkan hasil penjualan lukisannya seharga Rp. 400 juta yang diperoleh melalui lelang apda saat berkunjung ke Indonesia tahun 2007 lalu.

“Bagiku, tidak ada kesulitan dalam hidup. Yang ada hanyalah tantangan untuk dihadapi dan masalah untuk diselesaikan. “ Ujarnya sambil tersenyum di apartemennya yang ditata rapi oleh istri dan dua orang putrinya. “ Aku selalu memikirkan sisi terang hidupku dengan mensyukuri apa yang masih aku miliki daripada meratapi apa yang sudah diambil dariku. “Sungguh sebuah cara pandang yang telah mengubah takdir. Takdir dari seorang cacat tak berdaya menjadi seorang yang sukses, terkenal, dikagumi dan bisa menolong orang lain. Bahkan, mertua Hsieh pun sekarang bangga kepadanya karena menantu mereka ini benar-benar memiliki jiwa yang sangat kuat untuk menopang kehidupan putrid kesayangan mereka itu. Anda ingin mengubah takdir Anda? Bangkitkanlah pikiran Anda! [Sumber: teks Jemy V. Confido, Majalah LionMag, Mei 2016]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT