Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Ramadan: Waktu Sakral

Jum'at, 01 Juli 2016 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 544 Kali

Suatu hari sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib ra berjalan-jalan bersama sahabatnya, Kumail. Tiba di suatu lahan kosong, Ali mendekati kuburan, lalu berkata: “Wahai, penghuni kubur! Wahai engkau yang dalam kesunyian, bagaimana nasibmu di dunia sana? Berita dari pihak kami adalah bahwa semua kekayaan yang kamu tinggalkan di sini telah dibagi-bagikan; anak-anakmu kini menjadi yatim; janda-jandamu telah lama menikah lagi. Sekarang berilah kami kabarmu.” Ali lalu menoleh kepada Kumail dan berujar: “Wahai, Kumail, bila saja mereka dapat berbicara, mereka akan memberi tahu kita bahwa bekal terbaik menuju akhirat adalah takwa.” Air mata Ali bercucuran. Ali menambahkan: “Wahai, Kumail, kuburan adalah penampung amalan-amalan kita; namun orang baru menyadarinya setelah mati.”
Inti cerita tentang Ali dan Kumail ini adalah pentingnya manusia memanfaatkan waktu hidup di dunia. Dalam konteks Ramadan, betapa pentingnya memanfaatkan bulan suci yang tengah kita jalani. Tidak ada Ramadan tanpa waktu. Ramadan adalah penanda waktu yang dalam bahasa antropologi disebut rites of passage. Ramadan menjadi cermin bagi kita betapa waktu itu begitu nisbi. Bahwa waktu yang datang kepada kita tanpa kita manfaatkan sebaik-baiknya akan berlalu sia-sia. Apalagi waktu seperti Ramadan yang begitu berharga, yang datang setahun sekali. Ramadan seperti tamu yang mengunjungi kita sesekali. Maka layanilah ia sebaik mungkin.
Sayangnya pandangan kita tentang Ramadan terhalang oleh pandangan nenek moyang kita yang menganggap bahwa waktu bersifat siklik, yang akan berulang dan kembali lagi. Para antropolog menyebut konsep waktu berputar itu sebagai Waktu Polikronik (Waktu-P). Kita pikir Ramadan kali ini sama saja dengan Ramadan tahun lalu dan akan sama dengan Ramadan tahun depan, sama-sama berlangsung 29 atau 30 hari, yang kita isi dengan saum, berbuka, tarawih, sahur dan diakhiri dengan lebaran.
Sejatinya waktu berjalan seperti garis lurus, yang tak pernah kembali. Para antropolog menyebutnya Waktu Monokronik (Waktu-M). Maka setiap Ramadan berbeda dari tahun ke tahun. Ramadan kali ini orang yang kita cintai sudah meninggalkan kita. Kita sendiri belum tentu memasuki Ramadan tahun depan. Ironisnya, justru orang Barat yang memiliki dan mengamalkan konsep waktu monokronik (Waktu-M) yang mirip dengan konsep waktu ala Islam ini. Mereka bekerja keras, berdisiplin, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, meski lebih banyak digunakan demi tujuan duniawi. Konsep waktu mereka kontras dengan konsep waktu sebagian besar masyarakat kita yang lebih banyak menyia-nyiakan waktu, dengan berleha-leha dan melakukan perbuatan sia-sia.
Menggunakan perspektif Edward T. Hall (1984), Ramadan adalah waktu sakral. Kita meyakini bahwa Ramadan begitu suci dan sesuai untuk melakukan berbagai aktivitas ibadah. Puncak kesakralan Ramadan adalah “Malam Laailatul Qadar” (salah satu malam tanggal 20-an yang ganjil pada bulan Ramadan), yang nilainya kita imajinasikan “lebih baik dari seribu bulan,” sebagaimana disabdakan Allah dalam Quran (Al-Qadr:3), sehingga amal manusia saat itu dipercaya akan dilipatgandakan.
Ramadan memang semarak dengan ritual peribadatan, namun biasanya hanya pada pekan pertama. Kita tetap terjebak dalam kehidupan hedonistik. Sepanjang hari televisi swasta kita sarat dengan acara tentang selebritas yang remeh-temeh. Dini hari sebagai waktu paling sakral, televisi kita dibanjiri acara-acara lawak dan hiburan lainnya. Saya sempat memperhatikan, enam dari 10 stasiun televisi swasta menayangkan acara yang pada dasarnya bersifat hiburan. Padahal dini hari semestinya adalah saat paling hening ketika kita bermunajat kepada Allah Swt. Keheningan seperti inilah yang menurut seorang Muslimah Australia, Amatullah (Jyly) Armstrong dalam bukunya The Sky Is Not the Limit (1993), sebagai musik terindah dalam kehidupan. Acara televisi kita sungguh kontras dengan acara televisi negara tetangga Malaysia yang lebih banyak mencerahkan pemirsanya, bahkan di luar Ramadan sekalipun. Padahal kaum Muslim kita jauh lebih banyak (88%) daripada kaum Muslim di Malaysia (60%).
Imam Ibnul Qayim yang menggunakan perspektif Islam mengatakan bahwa waktu seseorang sebenarnya adalah usianya. Ia mengisyaratkan bahwa nilai sejati waktu hanyalah bahwa waktu itu harus diisi dengan perbuatan mulia oleh orang yang masih hidup, sebagaimana dikatakan Quran: “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, yang saling menasihati untuk menaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (Al-Ashr:1-3).
Seorang sastrawan besar dunia asal India, Rabindranath Tagore, pernah merenungkan pengalaman hidupnya ketika ia berusia di atas 80 tahun. Baginya ternyata bahwa perjuangan untuk meraih keberhasilan, bahkan keberhasilan intelektual sekalipun, tidaklah dengan sendirinya memadai, dan bahwa orang-orang yang mengisi hidupnya dengan ambisi yang tak berkesudahan, baik ambisi material atau ambisi lainnya, adalah orang-orang yang kehilangan banyak dalam hidup ini.
Adakah Ramadan kita lebih baik kali ini daripada Ramadan tahun lalu? Masih ada Ramadan yang tersisa. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya. Jangan sampai kita tertipu oleh waktu. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al Hasyr:18).[Sumber: Deddy Mulyana, Komunikasi Media dan Masyarakat]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT