Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Rusia Ramadhan yang Dingin

Senin, 19 April 2021 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 97 Kali

Rusia adalah negara yang wilayahnya terbesar di dunia meliuputi 1/8 luas dunia. Terbentang dari barat ke timur sejauh 9.000 Km, dari Laut Baltik di Eropa hingga lautan Pasific di AsiaTimur dan meliputi 11 zona waktu. Wilayah utara selatan membentang dari Laut Putih ke kutub utara hingga laut hitam.


Banyak orang masih beranggapan bahwa Rusia adalah negara Komunis yang anti agama. Padahal sejak pecahnya Uni Sovyet di akhir 1991, komunis telah menjadi masa lalu yang ditinggalkan. Parestorika (pembangunan kembali) dan Glasnost (keterbukaan) yang digagas oleh Mikhail Gorbachev berbuah kesadaran untuk terbebas dari doktrin Komunis yang membelenggu kebebasan hidup selama lebih dari 70 tahun.
Berdirinya negara Rusia modern 31 Desember 1991 memberi ruang terbuka bagi kehidupan beragama yang dulu pernah dirasakan oleh rakyat Rusia semasa Dinasti Romanog, Kekaisaran Rusia. Geliat kebangkitan beragama secara perlahan mulai tumbuh di tengah atheisme dan materaliasme yang sudah mendarah daging di Eropa Barat. Gereja-gereja Provaslavia (Kristen Ortodoks), masjid-masjid, dan sinagog yang sebagian besar sudah diruntuhkan atau dialihfungsikan menjadi gedung atau bar, kini dipugar dan dibangun kembali.


Umat Rusia tidak melepaskan peluang ini dan kembali menghidupkan masjid-masjid sebagai pusat aktivitas ibadah dan dakwah Islam. Pada masa Tsar Niokolas II, Tsar terakhir Rusia yang memerintah tahun 1904-1917, umat Islam Rusia telah memiliki tidak kurang 12.000 masjid. Era Komunisme yang memberangus kehidupan beragama selama lebih dari 70 tahun menyisahkan hanya 343 masjid saja. Semangat dakwah kaum Muslimin Rusia secara perlahan namun pasti telah menghidupkan kembali mesjid-masjid tersebut sehingga pada tahun 2000 telah terdaftar 4.750 masjid dan tahun 2003 diperkirakan telah bertambah lebih dari 7.000 masjid.


Sejarah Masuknya Islam di Rusia
Berbeda dengan muslim di bagian barat Eropa, Umat Islam di Rusia bukanlah kaum imigran yang sering diperlakukan sebagai warga kelas dua. Islam telah masuk Rusia sejak akhir abad ke 7 oleh pedagang Arab yang masuk wilayah Rusia melalui Derbent (Dagestan) dan Khuwarizm (Asia Tengah) . Para pedagang tersebut berinteraksi dengan penduduk sepanjang sungai Volga hingga Moskow dan memberikan pengaruh kepada penduduk yang Paganis tersebut. Bukti-bukti sejarah aktifnya pedagang Islam di wilayah Rusia di antaranya dengan penemuan keping-keping uang logam dirham di wilayah tersebut yang dikeluarkan oleh Bani Umayah, masa Khalifah Yazid II tahun 104 H (722 M), dirham Bani Abasyiyah masa Khalifah Al-Masur tahun 149 H (766 M), Khalifah Harun Arrasyid tahun 184 H (800 M) dan Khalifah Al-Mustain tahun 247 H (862 M).


Berkat pengaruh pedagang Arab yang datang secara berkala, maka suku-suku perpaduan Asia-Eropa di sepanjang sungai Volga yang dikenal dengan bangsa Bulgaria Volga tersebut akhirnya memeluk Islam dan menjadi bangsa Muslim pertama di wilayah Rusia. Keislaman bangsa Bulgaria ini diperkirakan berlangsung pada msa Khalifah Al Makmun (813-833) dan Al-Wasi (842-847M) dari Bani Abbasiyah. Bangsa Bulgaria Volga muslim kemudian dikenal dengan sebutan bangsa Tatar.
Perkembangan Islam yang cepat di wilayah Rusia Tengah kemudian melahirkan sebuah kekuatan politik berupa terbentuknya Kesultanan Tatar yang bepusat di Kazan dan memproklamirkan Islam sebagai agama resmi mereka tahun 922 M. Selama lebih dari 7 abad, Khan Agung, gelar untuk Sultan Tatar, menguasai daratan Rusia termasuk pusat kerajaan Rusia, Moskow dan menaungi daerah-daerah tersebut dengan penuh toleransi, aman dan damai. Masa kemimpinan Kesultanan Tatar ini dalam sejarah Rusia kuno dikenal dengan sebutan Zolotaya Orda, yang artinya Zaman Keemasan.


Dengan latar belakang sejarah yang demikian, maka tidak heran jika Muslim di Rusia adalah orang asli setempat. Umat Islam Rusia saat ini bejumlah tidak kurang dari 25 juta jiwa, yang artinya melebihi dari 15% total penduduk Rusia sebanyak 145 juta jiwa. Sebanyak 25 % dari muslim Rusia adalah bangsa Tatar yang merupakan suku bangsa muslim tebesar. Selanjutnya diikuti oleh bangsa Avar, Baskhir, Checen, Cherkess, Ingush dan lainnya yang jumlahnya tidak kurang dari 40 bangsa. Dakwa Islam yang menggema dari masjid-masjid yang kembali semarak pasca runtuhnya komunisme, berhasil memikat etnis Rusia yang diperkirakan mencapai 60% mualaf.
Warga muslim Rusia umumnya menganut mazhab Hanafi. Sedangkan sebagian muslim di Kaukasus Utara seperti Checen, Chekess dan Ingush bermazhab Syafii. Aktivitas keislaman di Rusia sebagian besar diurus oleh Dewan Mufti Rusia yang berbasis di Moskow. Pemimpin Mufti Rusia ini adalah Imam Ravil Gainutdin.


Ramadhan di Rusia
Bulan Ramadhan adalah bulan yang amat dinanti-nantikan oleh kaun muslimin di mana pun berada. Kaum muslim di Rusia menyambut bulan suci ini dengan tradisi khas jamuan makanan pada setiap keluarga besar bangsa Tatar yang diisi dengan saling memaafkan di antara mereka. Pada jamuan makan tersebut kegembiraan tergambar dengan keriangan anak-anak yang saling melukis wajah mereka dengan hiasan bunga-bunga sebagai simbul kegembiraan.


Pada hari Jumat terakhir sebelum Ramadhan, imam-imam masjid menyampaikan nasehat tentang puasa Ramadhan atau dalam bahasa Tatar disebut Uraza. Pada kesempatan itu disampaikan pula informasi mengenai penetapan awal Ramadhan tahun tersebut.
Puasa Ramadhan terasa pendek jika jatuh pada musim dingin, dan sebaliknya menjadi hari-hari panjang yang penuh tantangan saat musim panas. Pada tahun 2001-2004, Ramdhan jatuh pada bulan November dan Desember yang merupakan awal musim dingin. Hari siang lebih pendek dari malam, sehingga sehingga kaum Muslimin menahan lapar dan haus tidak lebih dari 10 jam saja. Pukul 7 mereka masih bersantap sahur dan pukul 16.00 magrib sudah menjelang. Puasa di musim dingin meskipun hanya dilaksanakan tidak lebih dari 10 jam tidak semudah yang dibayangkan. Suhu pada musim dingin di Moscow dapat mencapai minus tigapuluh derajat C. Dan cukup untuk menguras sebagian besar kalori dalam tubuh kita hingga terasa cepat lapar dan haus.


Pada tahun 2005-2008, Ramadhan jatuh pada bulan September-Oktober yang merupakan musim gugur dengan siang hari bertambah panjang antara 11-14 jam. Pada musim ini kaum muslimin Rusia berpuasa mulai pukul 05.00 hingga 18.00, mirip seperti puasa di Indonesia. Tantangan benar-benar terasa mulai tahun 2009, di mana Rhamadhan jatuh pada musim panas yang puncaknya nanti jika Ramadhan jatuh pada bulan Juni, maka berpuasa harus menahan lapar dan haus lebih dari 17 jam. Apalagi kaum muslimin yang tinggal di kota-kota berdekatan dengan kutub utara seperti St. Petersburg dan Murmansk. Pada akhir bulann Juni, waktu malam tidak lebih dari 1 jam saja. Magrib baru tiba pada pukul 23.30, tidak lama kemudian subuh sudah bertabuh pukul 24.30. Kondisi ini tentu sudah dipahami oleh Dewan Kemuftian Rusia, sehingga mereka berijtihad membolehkan berpuasa mengikuti jadwal imsakiyah negeri yang terdekat, yaitu Moscow.
Bagi Muslim Rusia, berpuasa adalah kewajib­an yang pling pantang ditinggalkan. Masih banyak kaum muslimin yang belum mengenal Islam dengan baik, sehingga mereka masih meninggalkan shalat dan zakat, namun uniknya sudah dengan mantap berpuasa Ramadhan. Bagi mereka berpuasa adalah betuk pengorbaan yang membuktikan keimanan kepada Allah SWT. Sehingga ketika bulan Ramadhan tiba, merupakan aib bagi mereka jika terlihat sedang makan dan minum di siang hari.


Puasa Ramadhan di Rusia secara umum tidak terasa semaraknya, kecuali di kota-kota yang mayoritas penduduknya muslim seperti Kazan, Ufa, Grozny, Magadan, Nazran, dan sebagainya. Akltivitas penduduk di kota-kota tersebut pada siang hari tampak berkurang dengan tutupnya restoran, kafe, stalovaya (kantin), dan pedagang makanan lainnya. Barulah pada sore hari pasar-pasar mulai ramai dengan bazar Ramadhan yang menjual makanan-makanan khas untuk berbuka puasa. Baton (roti bantal), lpyosoka (roti bundar), Vipechka (kue-kue kering), zakuskami (kue-kue basah), sladosty (permen dan manisan) finiks (kurma), napikti (minuman ringan) beberapa diantaranya bisa ditemui dalam bazar Ramadhan.
Toko-toko yang menjual bahan makanan juga mulai ramai pembeli di sore hari. Antrian toko daging halal yang ada di setiap majid menjadi pemandangan biasa saat orang-orang selesai menunaikan shalat Ashar. Di sana dijual berbagai macam daging halal, mulai daging ayam, kalkun, sapi, kambing, hingga daging kuda.


Saat azan magrib bekumandang, maka aktivitas bazar di luar masjid terhenti. Mereka berbondong-bondong menuju masajid dan berbuka bersama. Di pintu masjid biasanya disediakan air minum untuk berbuka dan selalu saja ada di antara mereka membagikan kurma kepada saudara-saudaranya. Air putih dan kurma memang maknan dan minuman berbuka puasa yang menjadi tradisi muslim seluruh dunia, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Setelah shalat magrib, sebagian di antara mereka melanjutkan berbuka puasa di Stalovaya (kantin) masjid atau pergi ke restoran dan kafe terdekat. Menurut khas bangsa-bangsa muslim Rusia seperti plof (nasi daging), logman (sup kental dengan mi dan daging), pemeni (daging giling berbalut tepung), monti (seperti pelmeni), bors (sup merah) menjadi menu pendamping roti baton atau lipyoska.
Orang Rusia umumnya pecandu teh yang fanatik. Semua menu yang disajikan selalu dilengkapi dengan ketel teh panas dan semangkuk kecil gula balok atau manisan. Siapa pun yang duduk di sebelah kita saat berbuka di satalovaya, dipersillakan untuk mengambil makanan yang telah dipesan. Kebersamaan saat berbuka adalah saat-saat yang tak terlupakan. Selain teh disuguhkan juga malako (susu), kvas (semacam bandrek), sok, (jus buah), kopi, limun, dan minuman lainnya. Semua makanan ditanggung oleh mereka yang ingin bersedekah. Pada saat itulah ukhuwah terasa amat manis.


Shalat tarawih di masjid-masjid dipenuhi oleh kaum muslimin berbagai bangsa. Shalat tarawih dilakukan setelah shalat isya 23 rakaat. Imam biasanya membacakan surat-surat pendek. Suasana tarawih semarak di awal-awal Ramadhan dan semakin menurun pada pertengahan Ramadhan. Masjid kembali ramai pada 10 hari terakhir Ramadhan dan beberapa masjid mengadakan ihtikaf.


Merayakan idul Bairam
Seperti banyak negara lainnya, perayaan idulfitri mereka menyebutnya idul Bairam. Di Rusia berlangsung selama tiga hari dan merupakan hari libur. Shalat idulfitri berlangsung di masjid-masjid. Setelah itu melakukan ziarah kubur, membersihkan makam para kerabat, dan berdoa. Tak lupa mereka saling mengunjungi dan bermaaf-maafan dan membagi hadiah berupa barang atau uang. Di luar masjid berjejer mobil membawa domba. Muslim Rusia mempunyai kebiasaan untuk menyembelih domba pada hari lebaran dan membagikan dagingnya kepada kaum miskin selain juga dimasak untuk keluarga. Pada pertengahan hari para muslim Rusia menyantap hidangan idulfitri terdiri makanan yang melimpah, dan mereka juga berbagi dengan siapa yang ingin bergabung. Menurut kepercayaan mereka, jika mau berbagi, maka Allah akan melapangkan rezeki hingga bertemu lagi pada idulfitri tahun depan.
Ingin menikmati daging domba masakan Rusia? Datanglah ke rumah mereka di lebaran nanti.[Nurul Asmayani]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT