Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Taskhir

Senin, 19 April 2021 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 82 Kali

Taskhir atau ketundukan alam semesta kepada manusia sebagai khalifah disebut dalam surah al-Hajj [22] ayat 65. “Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya?” Konsep taskhir menarik untuk dikaji karena kita sering melihat bencana alam yang menyebabkan jatuhnya korban manusia. Di mana ketudukan alam dalam hal ini?


Taskhir dalam Islam mempunyai prasyarat. Alam raya tunduk sepanjang manusia menjalankan fungsi kekhalifahanannya dengan benar. Manakala manusia melakukan eksploitasi alam yang melampaui ambang daya dukungnya dan sesama mereka saling menghujat dan menyebabkan pertumpahan darah, tidak ada jaminan alam semesta akan tunduk [Qs. Ar-Rum (30):41].
Ketika para pemimpin masyarakat tidak lagi memihak keadilan dan kemasyarakatan, masyarakat mengabaikan akal sehat dan hati nurani, para pembisnis tidak lagi mengindahkan etika bisnis, para ulama dan ilmuwan sudah kehilangan pertimbangan objektivitas, ketika itu bencana mengintai manusia.


Wabah dan bencana seringkali diawali oleh berbagai penyimpangan prilaku masyarakat. Prilaku alam raya makrokosmos seringkali berbanding lurus dengan prilaku manusia mikrokosmos. Umat Nuh yang keras kepala [QS an-Najm(53):52] ditimpa bencana banjir [Qs. Hud 911): 40].
Umat Saleh yang hednostik (QS. Asy-Syu’ara [26]: 146-149] ditimpa keganasan virus dan gempa bumi [QS. Hud: (11): 67-68]. Umat Luth yang ditandai dengan penyimpangan seksual [Qs. Hud (11):78-79] pun ditimpa gempa dahsyad [Qs. Hud (11) : 82]’
Hujan yang tadinya menjadi sumber Air bersih dan pembawa rahmat [Qs. Al-An’am (6):99] tiba-tiba menyebabkan banjir yang memusnahkan area kehidupan manusia [Qs. Al-Baqarah (2):59]. Angin yang tadinya berperan dalam proses penyerbukan dalam dunia tumbuhan [Al-Kahfi (18): 45] dan mendistribusikan awan [Qs. al-Baqarah (2): 164] tiba-tiba tampil ganas melululantakkan segala sesuatu yang dilewatinya [Qs. Fushilat 941): 16]. Laut yang tadinya jinak melayani mobilitas manusia [QS. Al-Hajj 922):65, tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya [QS. At-Takwir (81): : 6].


Diparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukun-hukum ekosistem [Qs.Ar-Raad (13): 4]. Namun, mereka tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia sehingga kesulitan memenuhi komposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang [QS. Ar-Raf (7) : 132]. Itu semua menjadi isyarat bahwa taskhir tidak sepantasnya membuat manusia menjadi angkuh.[Prof. K.H. Nasaruddin Umar]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT