Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Hukum Donor Anggota Tubuh

Senin, 25 Januari 2021 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 120 Kali

Kesehatan merupakan kunci kebahagiaan. Berbagai cara dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan kesehatan. Selain pengobatan, baik medis maupun tradisional, upaya pencegahan penyakit selalu dilakukan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang tidak ternilai harganya. Nabi Muhammad sangat peduli dengan upaya pencegahan penyakit. Suatu ketika beliau bersabda: “Barang siapa tertidur dan di tangannya terdapat lemak (kotoran bekas makan) dan ia belum mencucinya, lalu ia tertimpa oleh sesuatu, maka janganlah ia mencela melainkan dirinya sendiri.” (HR Abu Daud).


Ketika seseorang sakit, maka banyak penyakit yang dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Namun, ada pula penyakit tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan. Disfungsi organ tubuh merupakan salah satu penyakit yang secara medis tidak dapat disembuhkan.
Meskipun demikian, seiring dengan perkem­bangan zaman, peralatan dan ilmu penge­tahuan medis semakin canggih. Disfungsi organ tubuh dapat diatasi dengan penggunaan organ tubuh orang lain. Misalnya, seseorang tidak dapat melihat karena disfungsi mata akan dapat melihat kembali ketika diganti dengan mata orang lain yang sehat.


Sejak kesuksesan transplantansi yang pertama kali berupa ginjal dari seorang donor kepada seorang pasien gagal ginjal tahun 1954, perkembangan dalam transpantasi mengalami kemajuan yang pesat. Permintaan untuk transpanlantasi organ tubuh terus mengalami peningkatan melebihi kesediaan donor yang ada. Sebagai contoh, di Tiongkok, pada tahun 1999 tercatat hanya terdapat hanya 24 transplantasi hati. Namun pada tahun 2000, jumlahnya meningkat menjadi 78 angka. Sedangkkan tahun 2003, angkanya bertambah lagi menjadi 356 dan di tahun 2004 meningkat lagi menjadiui 507 kali transplantasi. Peningkatan ini 3 kali lipat melebihi Amerika. Ketidak seimbangan antara jumlah donor dan penerima organ hampir terjadi di seluruh dunia.


Sebagai umat Muslim, terdapat kecanggihan dunia medis ini, selalu mendasarkan diri kepada agama. Dalam hal ini, kita harus mengetahui apakah mendonorkan organ tubuh dibenarkan agama atau tidak?
Ditinjau dari keadaan pendonor, hukum mengenai transpalntasi organ dan donor organ harus memperhatikan hal-hal berikut ini:
Pertama, transpalantasi dari orang yang masih hidup. Di dalam agama seseorang yang masih hidup diperkenankan mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain. Hanya saja jangan sampai mendonorkan organ yang hanya punya satu yang menyebabkan dirinya meninggal. “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Karena sesunggunya Allah menyukai orang yang berbuat baik.” (QS. Al- Baqarah [2]:195). Di dalam surat an-Nisa ayat 29, Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.

Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS., an-Nisa {4}: 29). Dan di dalam surat al- Maa’ida, Allah memerintahkan kepada manusia untuk saling tolong- menolong : “Dan Tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al- Maa’idah [6]:2).
Kedua, transpalntasi dari orang telah meninggal. Dalam rangka mendonorkan organ tubuh orang yang sudah meninggal, lebih dahulu harus dipastikan bahwa penyumbang ingin menyumbangkan organ tubuhnya setelah meninggal dunia. Kepastian ini bisa dilakukan dengan surat wasiat atau mendatangi kartu donor atau lainnya. Jika penyumbang belum memberikan persetujuan terlebih dahulu untuk menyumbangkan organ tubuhnya ketika meninggal, maka persetujuan bisa dilimpahkan kepada pihak keluarga penyumbang terdekat yang dalam posisi dapat membuat keputusan atas nama penyumbang.


Organ atau jaringan yang disumbangkan haruslah yang dapat meneyelamatkan atau mempertahankan kwalitas hidup manusia lainnya. Organ tersebut juga harus dipindahakan setelah dipastikan secara prosudur medis bahwa sipenyumbang organ telah meninggal dunia. Apabila orang yang meninggal itu dikarenakan karena kecelakaan dan identitasnya tidak diketahui, maka bisa meminta persetujuan dari hakim setempat terhadap organ tubuh yang disumbangkan.


Hukum donor organ telah dibahas oleh para ulama. Selain MUI dan Ormas Islam terbesar, Muhammadiyah dan NU, telah menetapkan fatwa masalah ini. Dalam Forum Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III, tahun 2009 para ulama telah menetapkan bahwa hukum melakukan transplantasi kornea mata kepada orang yang membutuhkan adalah diperbolehkan. Apabila sangat dibutuhkan dan tidak diperoleh upaya medis lain untuk penyembuhannya.


Salah satu butir fatwa MUI mengatakan bahwa pada dasarnya, seseorang yang mempunyai hak untuk mendonorkan anggota tubuhnya kepada orang lain, karena ia bukan pemilik sejati atas organ tubuhnya. Akan tetapi karena untuk menolong orang lain, dibolehkan dan dilaksanakan sesuai dengan wasiat. Para ulama juga berfatwa bahwa orang yang hidup hukumnya haram mendonorkan konea mata atau organ tubuh lainnya kepada orang lain.
Ijtima ulama memperbolehkan seseorang berwasiat untuk mendonorkan kornea mata atau oragan tubuh lainnya dan diperuntukkan bagi orang yang membutuhkan dengan niat tabaru’ (prinsip sukarela dan tidak bertujuan komersial).


Majelis Tarji dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam fatwanya membolehkan seseorang berwasiat untuk mendonorkan matanya. Hukum Islam dapat membenarkan donor kornea mata yang diwasiatkan seseorang ketika ia masih hidup. Sebab hal itu akan membawa kemaslahatan bagi penderita yang menerima sumbangan kornea mata. Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa mereka yang berwasiat untuk mendonorkan kornea matanya hendaklah ikhlas untuk memperoleh ridho Allah. Jangan berkecedrungan komersial. Untuk menghindari keberatan dari ahli waris, harus mendapatkan izin dari keluarganya.


Para ulama NU juga telah membahas masalah donor bola mata mayit untuk mengganti bola mata orang buta. Hal ini ditetapkan pada Muktamar NU ke 223 di Solo, Jawa Tengah pada 25-29 Desember 1962. Dalam fatwanya para ulama menegaskan bahwa haram hukumnya mengambil bola mata mayit. Walaupun mayit itu tidak terhormat, seperti misalnya orang murtad. Ulama NU juga mengeluarkan fatwa bahwa haram menyambung anggota organ tubuh dengan organ tubuh lainnya. Sebab bahayanya buta itu tak sampai melebihi bahaya merusak kehormatan mayit.


Ulama terkemuka Syekh Yusuf Qardhawi secara rinci dan gamblang telah menetapkan tentang masalah ini. Tindakan seorang muslim yang mendonorkan salah satu ginjalnya yang sehat kepada muslim lainnya yang menderita gagal ginjal dapat di benarkan oleh syara’. Bahkan tindakan ini terpuji dan berpahala. Islam tidak membatasi sedekah pada harta semata-mata, bahkan semua kebaikan mendaptkan sedekah.
Namun, mendonorkan organ tubuh kepada orang lain ada syaratnya. Seseorang tak boleh mendonorkan organ tubuhnya jika menimbulkan bahaya, kemelaratan, dan kesengsaraan. Tidak diperkenankan mendonorkan organ tubuh yang cuma satu-satunya seperti hati dan jantung, sebab seseorang tidak bisa hidup tanpa organ tersebut. Boleh mendonorkan kepada orang muslim dan non muslim. Seseorang dilarang menjual organ tubuhnya, ditawar-tawarkan sehingga menjadi objek jual beli.


Marilah kita menjaga kesehatan tubuh kita sehingga tidak perlu mendapatkan donor dari orang lain. Kita harus melakukan medis seperti ini tetap berpegang teguh kepada ajaran agama dan harus melakukan tindakan ini sesuai dengan ajaran yang benar.[Ibnu Marzuki al-Gharani]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT