Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Merambah Jalan Sunyi

Senin, 25 Januari 2021 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 146 Kali

Suatu jalan bercabang di hutan, dan aku
Aku mengambil jalan yang jarang dilewati
Dan itu itu sungguh jalan yang berbeda

Itulah tiga garis terakhir baik ke 4, puisi Robert Frost berjudul “The road not taken.” Puisi itu melukiskan keputusan sang aku untuk mengambil jalan sunyi yang tidak setiap orang mau merambahnya.
Metafora Frost layak kita renungkan di tengah maraknya korupsi Indonesia selama ini (terutama korupsi terkini senilai 2,4 triliun rupiah e-KTP yang diduga melibatkan puluhan nama besar Komisi II DPR 2009-20140, kisruh perebutan kursi ketua DPA yang memalukan dan ingar bingar “ perburuan kekuasaan” dalam pilkada dan Pileg di negeri kita, termasuk putaran 2 Pilgub DKI Jakarta 2017 serta Pilwakot Bandung dan Pilgub Jawa Barat tahun 2018.


Di negeri yang mewarisi feodalisme seperti Indonesia, banyak orang berlomba-lomba menjadi pejabat publik. Sebagian tak menekar kepantasan diri. Saya percaya, tak semua orang melampiaskan syahwat kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara, seperti menyuap, memfitnah, adu domba, dan cara klinik-irasional. Salah satunya adalah mantan pejabat pemerintah yang pernah saya jumpai di suatu taman saat berolahraga jalan kaki. Entah mengapa kami merasa cepat akrab. Saya memintanya berbagi pengalaman dan hikmanya.


“Hidup adalah mesteri,” katanya. Ia bilang, tak pernah terpikir olehnya untuk men­duduki jabatan itu, meski tak sedikit orang mendambakannya. Berkat didikan agama sejak masa mudanya, tertanam keyakinan dalam dadanya bahwa jabatan itu adalah amanah, bukan untuk diminta atau diberikan kepada orang yang memintanya. “ Saya tak pernah kasak-kusuk kepada siapa pun. Orang menganggap saya lugu, padahal saya ingin memegang teguh prinsip saya,” katanya. “Saya bukan orang hebat. Awalnya saya ragu karena saya merasa tak punya bakat untuk kepempinan. Tantangan pekerjaan pun menggunung. Jika orang mengganggap saya mulus menuntaskan jabatan, itu karena Allah menolong saya.”


Setelah mulai menjabat, penampilannya tetap bersahaja, termasuk cara berbusana dan berkendaraan. Setiap keputusan yang ia ambil, berdasarkan aturan lembaga, tetapi secara moral juga etis, sering dengan lebih dahulu meminta masukan kepada sebagian bawahannya yang ia percayai. Ia sadar sebaik apa pun keputusannya, itu takkan memuaskan semua orang karena kepentingan orang berlainan. Berkat dukungan orang-orang sekelilingnya , kinerja dan produktivitas lembaganya melesat. Ia juga mendorong semua untuk bersaing dalam kebajikan sesuai dengan kepercayaan agamanya. Suasana kantornya terasa lebih teduh. Gosip meredup, pun kebocoran anggaran. Ia yakin tak ada keberhasilan sejati tampa berkah-Nya. “Bukankah Bimbo mendendangkan bahwa tujuan dunia akan terbawa jika kita bertujuan akhir?” kilahnya.


Saat masih pejabat, sesekali ia mengendarai mobil pribadinya kekantornya, sebagai konpensasi atas penggunaan darurat mobil dinas untuk kepentingan pribadi, bahkan menambahnya dengan sedekah kepada orang yang membutuhkannya. “Ini ijtihat pribadi saya. Saya belajar sedikit dari dari Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Bani Umayyah yang berhasil memakmurkan rakyatnya meski memerintah kurang dari tiga tahun dari 717 hingga 720 saat ia berusia 30 tahunan. Ia memadamkan lampu saat menghitung dan mencatat uang negara di istananya dan tiba-tiba kedatangan putranya untuk urusan pribadi yang membuat putranya terheran-heran,“ ujarnya. Ia menambahkan, ”Setiap pemimpin harus sering mengingatkan diri dan diingatkan orang lain.”
Dalam sejarah Islam dirIwayatkan, ketika Umar bin Kattab berkotbah dalam pelantikannya dan berjanji bahwa ia akan bertindak adil, sertamerta orang Arab Badui berdiri dengan pedang terhunus di tangannya seraya berseru, “Wahai Umar, jika tindakanmu salah, pedangku ini akan meluruskannya”. Di Indonesia yang budaya paternalistiknya kental, warga biasa tidak berani memperingatkan seseorang camat dengan cara demikian.


Jabatan adalah ujian kehidupan. Orang harus waspada menjalaninya, jangan sampai terpedaya olehnya. Ia berusaha untuk menebarkan manfaat kepada sebanyak-bayaknya orang. Meski aturan resmi membolehkannya menggunakan beberapa fasilitas, ia menahan diri dan tidak ajimumpung. Ia ingin pensiun dengan manis tanpa membuat orang lain merasa teraniaya. “Saya pernah menyaksikan mantan pejabat tinggI yang mendapat cemoohan ‘uuu’ dari banyak bawahannya saat namanya disebut dalam sebuah acara instansi, karena ia diduga kuat telah memperkaya diri dengan menerima banyak gratifikasi dan ‘menzalimi’ beberapa bawahannya dulu. Saya tak mau mengalami hal itu,” tuturnya. Ia menceritakan pada suatu dinihari ia terisak menjelang jabatannya berakhir. Bukan karena ia sedih akan segera meninggalkan jabatan itu, melainkan ia khawatir kalau-kalau ia telah berbuat khilap selama ia menduduki jabatannya, sehingga ia memohon ampunan-Nya.


“Tidak ada dihinggapi postpower syndrom atau sejenis itu?”
“Jabatan itu sementara, dari orang biasa menjadi penjabat dan kembali menjadi orang biasa. Saya malah merasa lega kini dan tanpa beban. Menjadi orang biasa itu ternyata lebih nikmat,“ jawabnya diplomatis.
Jalan sunyi itu telah ia lewati tanpa gang­guan yang berarti. Ia merasa tak tak ada yang “istimewa” dalam jabatannya, kalau bukan kehampaan. Baginya jabatan seperti fata­morgana antara ada dan tiada, bak angin sepoi membelai tubuh lalu pergi entah kemana. Ia merasa dedikasinya tak seberapa, namun berharap diridhai-Nya. Semuanya itu kini tinggal kenangan yang lebih banyak sukanya daripada dukanya. “Begitu banyak orang mengejar jabatan dengan segala cara, demi popularitas dan fasilitas tanpa menyadari tanggung-jawab di belakangnya. Banyak pejabat memiliki kecerdasan emosional yang begitu rendah. Mereka mempermalukan diri, istri dan anak-anaknya untuk menumpuk harta haram yang tanpa itu pun mereka hidup berkecukupan,” ujarnya lirih.


Siapa gerangan pejabat itu? Ia memang seorang tokoh imajiner yang melintas begitu saja dalam benak saya. Saya kira sekarang pun ada segelintir pejabat atau mantan pejabat yang tengah atau telah mencapai jalan sunyi itu, hanya saja tak pernah diekspos media. Sebagaimana dikatakan Amatullah Armatrong (1993), kesunyian adalah musik indah dalam kehidupan.
Mungkinkah, makin besar rasa takut sesorang dimintai pertanggung jawaban oleh-Nya, makin besar kemungkinannya untuk sukses dalam jabatannya? Ini hipotesis menarik untuk diteliti. Becermin kepada penelitian Moh. Soleh (2000) dalam desertasinya di Universitas Airlangga Surabaya yang menemukan pengaruh signifikan salat malam terhdap kesehatan pelakunya, hipotesis ini pun boleh jadi akan teruji secara ilmiah. [Prof. Dr. Deddy Mulyana]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT