Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Bagaimana Kucing Mengobati Penyakit Ketika Sakit

Kamis, 23 Juli 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 24 Kali

Mari kita menelusuri kehidupan kucing di sekitar kita dan bagaimana perlakuan kucing pada tubuhnya ketika ia sakit.
Secara pribadi, saya pernah mengamati kucing liar yang sakit parah di rumah saya. Kucing itu bukan sengaja dipelihara, malainkan datang sendiri dan hidup di sekitar rumah. Pada waktu itu si kucing yang semula sangat lincah, tiba-tiba menjadi pendiam dan berbaring tidur selama berhari-hari. Kalaupun dia bergerak, sangat sedikit sekali, hanya sesekali menghirup udara segar dan menggerak-gerakkan badannya agar tidak kaku.
Pada waktu itu saya melihat berkali-kali dia muntah dengan bau yang cukup menyengat. Lalu, saya merasa kasihan dan coba memberinya susu yang dituangkan di mangkuk. Tetapi sedikit pun susu itu tidak disentuhnya sampai akhirnya saya buang. Lalu saya coba memberinya air dan dia mencicipinya sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa hari, saya lihat kucing itu tidak makan dan hanya berbaring lemas dan kadang menjilati bagian-bagian tubuh tertentu dengan air ludahnya, sambil sesekali jalah perlahan keluar. Saya melihat badannya semakin kurus, tapi sorot matanya tetap tajam dan menunjukkan sebuah tanda-tanda optimis untuk bisa sembuh kembali. Lalu, setelah kucing itu tidak muntah lagi, dia mulai mencari-cari makanan. Lalu saya mencoba memberinya sepotomg ikan yang biasanya dimakan lahap, tapi tidak juga dimakannya. Ikan yang saya berikan hanya dijilati dan diciumi, lalu ditinggalkannya.
Lalu saya mencoba memberi kucing susu lagi. Dia mulai menjilatinya sedikit-sedikit secra perlahan, sambil ia menoleh ke arah saya. Saya terkesan dengan gerak-geriknya. Dia terkesan bertanya kepada tubuhnya dari setiap jilatan susu yang diminumnya, apakah tubuhnya merasa sudah siap dan menerima dengan baik dari makanan yang dimakannya. Kira-kira 25% susu yang dijilatinya masuk ke mulutnya, setelah itu dia tinggalkan dan kembali lagi berbaring.
Keesokan harinya, saya memberi kucing susu lagi, lalu dijilatinya lebih cepat. Hampir sebanyak 75% -nya habis diminumnya secara perlahan, dan mengunyahnya cukup lama. Separuh dari yang disajikan habis dimakannya. Hari berikutnya dia sudah kembali lincah dan menunjukkan energinya kalau kucing itu benar-benar sehat seperti sedia kala.
Dari hasil pengamatan tersebut, kita bisa ambil banyak pelajaran yang sudah dilupakan oleh banyak dokter konvensional maupun pengobatan tradisional, bahwa banyak obat-obatan telah masuk ke dalam tubuh dengan tujuan meredam gejala penyakit. Cara instan dan asal cepat ini sesungguhnya memiliki resiko dan efek samping pada tubuh dalam jangka panjang, dan kebanyakan dari kita tidak memedulikannya.
Kita takut dan amat cemas ketika berat badan dan selera makan anak kita menurun ketika sakit, padahal itu semua reaksi positif tubuh. Para dokter sibuk memberikan obat mual dan berbagai vitamin nafsu makan agar si pasien bisa tetap makan banyak ketika sakit. Ini adalah kebodohan kita akan bahasa tubuh yang membuat kita lupa kalau gejala-gejala itu merupakan bagian dari reaksi positif tubuh dalam memberikan informasi ketika tubuh sakit.
Sungguh sangat menyedihkan. Seekor kucing yang lugu dan tidak pernah masuk sekolah kedokteran bisa lebih bijak dan memahami bahasa tubuhnya lebih baik dari kita sebagai manusia.
Mengapa harus belajar dari kucing?
1. Kucing tidak pernah takut berat badannya menurun ketika sakit, karena dia tahu berat badannya akan kembali normal setelah dia sehat.
2. Kucing tidak pernah takut untuk tidak makan ketika tubuhnya tidak bisa menerina makanan.
3. Kucing lebih bijak dalam menjawab bahasa tubuhnya, kapan dia harus makan dan kapan dia harus berhenti makan.
4. Kucing yang tidak pernah sekolah lebih pandai membaca bahasa tubuhnya daripada kita yang bersekolah dan diberi akal yang lebih baik.
5. Kucing bisa lebih mandiri mengurus diri dan mengobati penyakitnya tanpa bergantung pada dokter seperti manusia umumnya.
Pernyataan tersebut dimaksudkan untuk mangajak masyarakat agar bisa merenungkan kekurang bijakan kita dalam memperlakukan tubuh, harta kita termahal. Saya ingin mengajak untuk mengambil ilmu darimana pun sumbernya, sekalipun dari binatang seperti kucing.
Banyak gerakan-gerakan terapi pernapasan diambil dari binatang. Manusia sejak ribuan tahun yang lalu belajar dari kehidupan positif binatang, seperti gerakan-gerakan dari yoga diambil dari gerakan kucing, kuda, dan bintang lainnya. [Husen A. Bajri, M.D., Ph.D.]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT