Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Jilbab Bagi Muslimah

Kamis, 23 Juli 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 26 Kali

Jilbab merupakan kewajiban bagi Muslimah. Perintah untuk menggunakan jilbab diturunkan oleh Allah SWTdan tertulis dalam QS. Al- Ahzab ayat 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang Mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka!Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenali (menjadi identitas, dan kareananya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang.”
Dalam surah tersebut terdapat dua sebab atau alasan Allah SWT memerintahkan perempuan Muslimah untuk memakai jilbab. Alasan pertama, yakni agar Muslimah bisa dikenali dan menjadi ciri pembeda dari perempuan lainnya. Alasan berikutnya, agar terjadi kewibawaan karakter dan watak keperempuanannya. Dalam ayat tersebut dijelaskan agar tidak disakiti atau diganggu.
Sebagian besar ahli tafsir menjelaskan , ayat ini turun pada saat situasi sosial tidak aman dan ramah terhadap perempuan. Pada saat itu lokasi untuk buang hajat jauh dari rumah, sehingga banyak perempuan menemukan keluar tengah malam untuk menyelesaikan urusan tersebut. Namun, di Madinah saat itu masih banyak orang fasik yang suka mengganngu perempuan, terutama pada malam hari.
Biasanya, perempuan merdeka (hurrah) pergi bersama budak perempuan (amah).Dalam perjalanannya, sering terjadi sekelompok orang mengganggu budak perempuan. Tapi karena tidak jelas perbedaan budan dan perempuan merdeka pada malamhari, perempuan merdekapun juga tidak bisa menghindar dari gangguan laki-laki hidung belang.
Supaya aman dan tidak diganggu, Allah SWT menyuruh perempuan mukmin untuk menggunakan jilbab agar terlihat berbeda dengan budak perempuan. Syaikh Ali al- Shabuni dalam Rawai’ul Bayan mengatakan, budak perempuan tidak diperintahkan berjilbab karena memberatkan mereka. Budak pada saat itu dibebankna pekerjaan oleh mjikannya dan sering keluar rumah untuk bekerja, sulit bagi mereka kalau ikut diwajibkan memakai jilbab. Hal ini berbeda dengan perempuan merdeka yang pada waktu itu jarang keluar rumah kecuali untuk kebutuhan tertentu.
Pada lain waktu Allah SWT juga mene­kankan tentang aurat bagi perempuan. Wanita, secara keseluruhan disebut sebagai aurat dan hanya boleh diperlihatkan kepada mahramnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Masud dalam HR Tarmidzi, Rasulullah Saw bersabda, “ Wanita adalah aurat, maka apabila dia keluar (rumah), maka setan tampil membelalakkan matanya dan bermaksud buruk terhadapnya.” Hal ini memperkuat alasan seorang wanita Muslimah menggunakan jilbab, yakni untuk menutup auratnya dan menghindari dari fitnah.
Adapun hukum atau ketentuan jilbab sesuai dengan keterangan di atas, yakni menutupi aurat dan dibentangkan menutupi kepala, leher hinggga bagian dada. Menutup aurat di sini menutup tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan. Hal ini sesuai dengan hadis yang disampaikan Aisyah RA, “Asma’ binti Abi Bakar menemui Rasulullah SAW degan pakaian tipis, seketika itu Rasulullah berpaling seraya berkata, “Hai Asma, sesungguhnya jika perempuan telah haid, tidak lagi wajar terlihat darinya, kecuali ini dan ini (ia menunjuk wajah dan kedua tangannya).”
Al Albani berpendapat, seorang wanita boleh menampakkan wajah dan kedua belah telapak tangannya. Namun beliau mengingatkan bahwa pendapat tersebut dibangun dengan syarat pada bagian wajah dan telapak tangan tidak terdapt perhiasan. Hal ini ditandaskan kepada QS. An-Nur ayat 31, “..... dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya. Kecuali yang biasa tampak darinya.
Kedua, jilbab bukanlah perhiasan yang digunakan untuk menarik perhatian atau pendangan kaum laki-laki. Tujuan awal menggunakan jilbab adalah untuk menutupi perhiasan yang digunakan. Meskipun demikian, Syekh Ali Al Halabi menyebut, tolak ukur pakaian sebuah perhiasan atau bukan berdasarkan ‘urf atau kebiasaan. Jika satu warna atau motif menarik perhatian pada satu golongan masyarakat, itu terlarang, namun bukan berarti hal ini berlaku pada masyarakat lain.
Jilbab harus tebal dan tidak menerawang serta tidak menampakkan lekuk tubuh. Ini yang seperti yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada Usamah bin Zaid agar mengenakan pakaian dalam sebelum mengenakan baju Qubthiyah agar tidak terlihat lekuk tubuhnya. [Zahrolyul Oktaviani]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT