Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Memimpikan Rasulullah SAW

Kamis, 23 Juli 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 26 Kali

Memimpikan orang yang sudah wafat lumrah terjadi pada setiap diri orang. Namun agak sulit memaknai dan membedakan mana mimpi yang benar-benar bisa memberikan isyarat hidayah dan mana dalam arti kembang tidur.
Dalam literatur tasawuf, bermimpi, bahkan berkomunikasi intraktif dengan orang-orang yang sudah wafat sesuatu yang bisa terjadi di kalangan para arifin. Memimpikan orang saleh, apalagi ulama yang taat dan bersih, dianggap bagian isyarat dari Tuhan. Dalam Alquran, dapat dipahami bahwa mimpinya para nabi dapat disejajarkan dengan wahyu. Syariah qurban, menyembelih hewan qurban, yang kita lakukan sampai saat ini pada awalnya adalah mimpi Nabi Ibrahim yang diminta untuk menyembelih anak kesayangannya.
Banyak hadis sahih yang meriwayatkan keutamaan mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Di antara hadis itu ialah: “Barang siapa yang melihatku dalam mimpi, maka itu benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku.” (HR Muslim dan Abi Hurairah).
Dalam redaksi lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar.“ (HR Muslim dari Sabu Qatadah). Dalam riwayat lain disebutkan, “Barang siapa yang sering bersalawat terhadapku, aku tahu dan aku tentu memberikan syafaat di hari kiamat.“ Dalam redaksi lain dikatakan, “Barang siapa memimpikan aku, maka akan bersamanya nanti di syurga.”
Penggambaran Rasulullah SAW dalam Alquran menarik untuk dikaji karena hampir semuanya menggunakan bentuk fi’il mudhari’ (present and future), bukannya menggunakan bentuk fi’il madh (past tense). Salah satu contohnya ialah: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al- Kitab dan al-Hikmah ( as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al- Baqarah [2]: 151). Kata membacakan, menyucikan dan mengajarkan digunakan bentuk fi’il mudhari; itu artinya Rasulullah masih bisa berkomuinikasi aktif dengan umatnya secara khusus.
Mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW tentu merupakan dambaan seiap umatnya. Sejumlah ulama khawas menasehatkan, jika ingin bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW, maka berdoalah kepada Allah SWT, wujudkan rasa cinta yang sangat mendalam, dan banyaklah bershalawat terhadapnya.
Mimpi berjumpa Rasulullah memiliki banyak bentuk, mulai dari melihat anggota badan Rasulullah secara samar-samar sampai memjumpainya secara utuh, bahkan ber­komunikasi (batin) degannya. Mimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW merupa­kan kenikmatan tersendiri. Bagaimana orang yang selama ini kita cintai dan kita rindukan tiba-tiba muncul di hadapan kita. Air mata tak tertahankan dan rasa cinta semakin mendalam.
Ada umatnya yang merasa sangat bahagia karena perjumpaannya dengan Rasulullah SAW bisa menikmati berulang kali. Pantas sekitar 500 para sahabat yang hidup bersama Rasulullah dan masing-masing di antara mereka mengesankan bahwa akulah yang paling dicintai Rasulullah.
Dalam kitab-kitab kuning banyak sekali dijelaskan pengalaman para sufi yang menggambarkan pengalaman mistisnya menjumpai Rasulullah SAW. Serbagai contoh, pada satu ketika Imam al-Ghazali ( 1058- 1111 M) ditanya, “Mengapa engkau sering mengutip hadis-hadis ahad (tidak populer) di dalam kitab Ihya’ Ulumud Din?” Ia menjawab, “Saya tidak pernah menulis satu hadis di dalam buku ini sebelum saya konfirmasikan kepada Rasulullah SAW.” Padahal Rasulullah wafat 632 M dan Al-Ghazami wafat tahun 1111M, selisih 479 tahun. Kitab Ihya Ulumu Din merupakan masterpiece al Ghazali yang ditulis di puncak manara masjid Damaskus.
Kejadian serupa juga dialami Ibn Arabi (1165-1240 M), seorang Sufi besar, ketika ditanya seorang muridnya perihal bukunya, Fushush al-Hikam, yang terasa seperti mengandung misteri. Kata muridnya, setiap kali ia membaca buku ini, setiap itu pula ia mendapatkan sesuatu yang baru. Lalu dijawab, “Buku itu memang pemberian Rasulullah langsung kepada saya, bahkan judul bukunya pun dari Rasulullah (khudz hadza kitab Fushuhsh al Hikam). Padahal selisih masa hidup Rasulullah dan Ibn Arabi terpaut 608 tahun.
Bemimpi menjumpai Rasulullah SAW salah satu bagian dari karunia Allah SWT yang paling tinggi. Apalagi dengan hadis yang disampaikan Nabi: “Barang siapa yang bermimpi memimpikan diriku akan bersama-sama aku di dalam surga. Jika seseorang ingin memimpikan Rasulullah, tentu harus menghidupkan rasa cinta yang sangat dalam di dalam dirinya. Amin.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT