Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Muhammad Ali (1769-1849)

Kamis, 23 Juli 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 26 Kali

Muhammad Ali, pada dasarnya, merupakan orang pertama kali meletakkan landasan kebangkitan modern di Mesir. Kami tidak sependapat dengan Brockelmann yang mengatakan bahwa Muhammad Ali adalah tokoh terbesar yang diketahui oleh Islam belakangan.
Sejak awal sudah jelas bahwa pikiran-pikirannya banyak diterapkan oleh pemerintah Mesir. Menurutnya, Mesir Mesir harus berada di bawah satu kekuasaan, tidak dibagi-bagi kepada para sultan seperti masa-masa sebelumnya. Semua pemikiran mengenai pemerintahan harus dihapuskan, semua pegawai yang bekerja harus diberhentikan, dan harus ada seseorang yang betul-betul dapat dipercaya mengurusi harta kekayaan masyarakat. Rakyat harus melihat bahwa pemerintahan adalah tempat meminta dan membagi rezeki. Muhammad Ali kemudian disumpah untuk mendirikan negara baru di atas dasar-dasar tersebut. Ia sangat dipatuhi oleh rakyatnya dalam memikul tanggung jawab negara menghadapi era modern.
Untuk mewujudkan impian itu, pertama kali dia mengikat kebebasan individu. Dia menolak pemikiran yang mengatakan bahwa manusia dapat berbuat apa saja dengan apa yang dia miliki Menurutnya pendidikan adalah urusan pribadi dan kelompoknya, dan bahwa tanggung jawab keamanan, pengawas atas orang-orang yang melanggar batas dan hukum terletak pada pundak angkatan bersenjata. Muhammad Ali menjelaskan bahwa kewajiban penguasa ialah mengarahkan kekuatan individu untuk mancapai tujuan bersama; bukan hanya mengawasi dan menjaga mereka pada saat diperlukan. Dialah yang kemudian mendirikan sekolah-sekolah, membangun angkatan perang nasional, meletakkan aturan dasar administrasi pemerintahan, serta mencetak para ahli yang bertanggung jawab untuk merumuskan pemikirannya menjadi suatu program negara, yang dapat dijadikan landasan bagi negara Mesir untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran modern pada masa yang akan datang.
Dia tidak mengenal tata cara pengaturan kehidupan politik kecuali satu dasar, yaitu kesatuan peradaban manusia; suatu kesatuan yang tidak ternafikan oleh perbedaan letak negara, dan keterikatan manusia dengan negara tertentu. Dalam hal ini, Muhammmad Ali sama dengan Patrik Yang Agung dan Caterine Besar sebelumnya atau sama dengan Kamal Ataturk yang datang sesudahnya.
Muhammad Ali sangat yakin bahwa satu-satunya jalan bagi kebangkitan umat ialah meniru peradaban Barat modern yang menjadi aturan peradaban dunia. Kaum Muslimin tidak dapat diharapkan kecuali jika mereka mengambil pemikiran masyarakat Barat yang dinamis dan tidak statis. Pada gilirannya, filsafat Muhammad Ali dapat diringkaskan sebagai berikut: “Membuat kekuatan besi, ilmu pengetahuan, dan kekayaan untuk membangun landasan titik tolak bagi kemajuan yang hendak dicapai, dengan syarat, masyarakat harus siap menerima metode yang dilakukan oleh bangsa lain (artinya persiapan untuk bercampur dengan bangsa asing). Kedua, masyarakat harus siap membayar campur tangan itu. Ketiga, menciptakan para ahli dalam berbagai bidang melalui pendidikan dan pengkaderan. Keempat, menciptakan sarana yang dapat menunjang stabilitas atau memanfaatkan semua sarana sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat untuk menyongsong perkembangan zaman.”
Al-Thahthawi berkata, ”Muhammad Ali tidak memiliki kelebihan apa-apa kecuali mengadakan kerjasama antara orang-orang asing dengan negara Mesir, setelah bangsa Mesir mengalami kemunduran akibat sistem feodalisme yang diterapkan di sana bertahun-tahun. Hanya itu. Dia telah menghilangkan penyakit keterasingan dan kesendirian dari Mesir dan menjinakannya dengan menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain, untuk menyebarkan kebaikan dan berlomba dalam kemoderenan.”
Pada awal pemerintahannya, dia meng­­gunakan cara-cara kekerasan untuk me­nundukkan musuh-musuhnya dan orang-orang yang menghalangi pembaharuan yang dilakukannya, seperti Mamluk, Keluarga Albania, para Syaikh al-Azhar, dan lain-lain. Itulah tahun-tahun perjuangan, kekerasan, kerusakan, pergantian, dan pembenahan yang dia sendiri tidak menyenanginya dan tidak disenangi juga oleh orang lain. Dia berkata, “ Aku tidak suka dengan masa hidupku pada waktu itu. Sejarahku sebenarnya dimulai sejak aku dapat melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan itu dan mulai membangunkan umat ini dari kerterlenaannya yang panjang.” Masa kekerasan pada awal-awal pemerintahannya merupakan salah satu sebab kebencian al- Jabarti kepadanya. Dia menulis, “ Muhammad Ali adalah penguasa yang paling kejam pada zaman ini. Kalau misalnya Allah mengaruniai saya sifat keadilan kepadanya, pada saat dia memegang kendali pemerintahan, maka hal itu akan membuat semua orang terkagum-kagum kepadanya.”
Kezaliman yang dilakukannya itu bukanlah penyebab kematiannya yang sangat tragis. Penyebab kematiannya adalah ambisinya yang sangat kuat dan tanpa batas untuk membuat masyarakatnya selalu dinamis. Meskipun dia sangat cerdas, dia tidak tahu bahwa gerakan yang diciptakannya satu saat pasti ada jedahnya, apalagi dalam dunia politik yang besar. Bahkan itu akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Apalagi pada waktu itu negara-negara besar di Eropa sepakat bahwa tidak satu negara pun diperbolehkan mengadakan hubungan dengan daulah Utsmaniyah, bahkan harus mengurangi intensitas hubungan tersebut. Mereka tidak boleh melakukan kegiatan apa pun di Mesir. Pada akhirnya cita-citanya gagal, pasukannya kalah, dan dia meninggal dunia.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT