Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Menu Penghuni Neraka

Rabu, 13 Mei 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 37 Kali

“Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon Zaqum itu) sebagai fitnah bagi orang-orang zalim.” [QS. Ash Shafat :63]
Pohon zaqqum menjadi salah satu pohon penghasil buah bagi penghuni neraka. Allah SWT mengabarkan tentang kuliner neraka itu dengan membandingkan menu yang ada di syurga. Makanan syurga merupakan berbagai jenis buah yang segar dan ranum dengan beragam jenis dan cita rasa. Pengghuninya akan menikmatinya dengan minuman dari mata air syurga.
Allah SWT menguraikan keterangan mengenai zakum itu dalam Alquran dengan cukup terinci.
“Apakah (makanan syurga) itu hidangan yang lebih baik ataukah pohon zaqqum. Sungguh, Kami menjadikannya (pohon zaqqum itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim. Sungguh, itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka jahim. Moyangnya seperti kapala-kepala setan. Maka, sungguh mereka benar-benar mematikan sebagian darinya( buah pohon itu), dan mereka memenuhi perutnya dengan buahnya (zaqqum). Kemudian, sungguh setelah makan (buah zaqum) mereka mendapat minuman dicampur dengan air yang sangat panas. Kemudian, pasti tempat kembali mereka ke neraka jahim.” (QS. As Shafaat:62-68).


Prof Quraish Shihab dalam tafsir al- Misbah menuliskan, para ulama menjelaskan kata az-Zaqum diduga berasal dari kata az-Zukmah, yaitu penyakit lepra. Ada juga yang berpendapat jika Zaqqum diambil kata at-tazaqqum, yakn supaya menelan sesuatu yang sangat tidak disukai.
Para ulama menggambarkan pohon zaqqum sebagai pohon kecil dengan dedaunan yang sangat busuk aromanya. Getahnya mengakibatkan bengkak bila menyentuh badan manusia. Pohon ini ditemukan di beberapa daerah tandus dan padang pasir. Meski demkian, Quraish Shihab menjelaskan, zaqqum yang dimaksud Alquran bukanlah termasuk hal tersebut. Pohon zaqqum yang dimaksud Alquran tumbuh di dasar neraka.
Alquran menggambarkan kengerian zaqqum dengan ‘Moyangnya seperti kepala-kepala setan.’ M. YunanYusu dalam Tafsir Alquran juz 23 menjelaskan, citra yang dimunculkan Alquran lewat Rasulullah SAW, yakni buah zaqqum yang menakutkan. Moyangnya, yakni tandan buahnya seperti bentuk kepala-kepala setan yang mengerikan. Sayyid Kuthb memahami ayat ini dengan menjelaskan , jika manusia tidak mengetahui bagaimana rupa kepala setan. Namun, ia tentu mengerikan, sekadar membayangkannya saja sudah mengundang ketakutan. Bagaimana bila kepala-kepala mengerikan itu mereka makan. Mereka memenuhi perut dengan hidangan darinya.
Layaknya makanan di dunia, zaqqum juga memiliki minuman pendamping. Alih-alih minuman dingin yang menyegarkan, penghuni neraka justru mendaptkan minuman yang dicampur dengan air mendidih yang sangat panans. Ayat Alquran memang tidak menjelaskan apa jenis minuman penghun neraka itu. Namun air minum itu dicampur air yang sangat panas.


Banyak ulama juga menyamakan pohon dalam ayat ini dengan ayat-ayat lain di dalam Alquran. Contohnya, yakni asy- syajarah al-Mal’unah (QS al- Isra :60). Kata ini biasa digunakan dalam arti pohon kayu. Di dalam surah lain, pohon itu dilukiskan seperti kotoran minyak. Allah SWT menjelaskan, sifat-sifat zaqqun di surah ad-Dukhan. “Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (QS. Ad- Dukhan 43:46).
Pohon itu juga digabarakan sebagai jawaban dari fitnah orang-orang yang zalim. Ketika ayat yang berbicara tentang pohon penghuni neraka ini turun, informasinya mengundang ejekan dan cemoohan dari kaum musrikin. Abu Jahal bahkan meminta pembantunya membawa kurma lalu berkata: “Apakah buah seperti ini diharapkan oleh Muhammad akan menakutkan kita?” Dan ketika ditanyakan bahwa ia tumbuh dari dasar api neraka, mereka berkata: “Bagaimana bisa ada pohon yang tumbuh di dasar api neraka?”
Yusnan mengungkapkan, hikmah penjelasan ayat mengenai zaqqum adalah menimbulkan efek psikologis sehingga ada upaya serius untuk menghidarinya. Tidak ada dosa yang kecil ketika dihadapkan kepada keadilan Allah SWT. Sang Halik, Ibnu Athailllah as- Sakandari menyebutkan,nasihat tersebut mengingatkan pentingnya bersikap hati-hati (wara’) dalam setiap urusan di dunia ini. Apalagi, bila seseorang sudah mengikrarkan diri sebagi seorang Muslim dan mukmin. Wallahu’alam bisawab.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT