Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengenal Tokoh Islam: Muhammad Bin Jarir Al-Thabari

Rabu, 13 Mei 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 36 Kali

Al Thabari adalah pengarang Tafsir Alquran, Jami al- Bayan fi Tafsir al Quran, dan salah satu penulis buku sejarah Islam yang sangat terkenal. Dialah pemeran utama sekaligus terbaik bagi peradaban manusia pada zamannya.
Thabari belajar dari berbagai guru di Basrah, Kufah, Syria dan Fusthath, sebelum dia menetap di Bagdad. Setelah belajar lebih dari empat puluh tahun, dia menguasai ilmu fikih, bahasa, dan sejarah Islam secara sempurna, yang bahkan tidak mungkin tertandingi oleh orang-orang sebelumnya atau sesudahnya.


Dia menghabiskan waktu empat puluh tahunnya yang lain untuk mengajar dan menulis. Sedikitnya dia menulis empat puluh halaman setiap harinya.Diriwayatkan bahwa Thabari pernah berkata kepada kawannya: “Apakah kalian mau menulis tafsir Alquran ?” Mereka balik bertanya: “Berapa banyak ?” Dia menjawab: “Tiga puluh ribu lembar.” Mereka berkata: “Pekerjaan itu akan menghabiskan umur, sebelum pekerjaannya sendiri selesai. “Kemudian Thabari menguranginya menjadi tiga ribu saja (sepersepuluhnya). Lalu Thabari berkata lagi kepada mereka: “apakah kalian mau menuliskan sejarah dunia dari Adam hingga masa kita saekarang ini?” Mereka menjawab: “Berapa banyak ?” Thabari menyebutkan angka yang sama dengan angka trafsir, lalu mereka menjawabanya dengan jawaban yang sama. Kemudian berkata: “Sesungguhnya kita memiliki Allah (Inna lillahi), telah mati keinginan manusia.” Lalu Thabari menguranginya sebagaimana yang dilakukannya dalam tafsir.
Pada mulanya Thabari adalah seorang ahli hadis yang bermazhab Syafi’i. Kemudian mendirikan mazhab fikih sendiri, tetapi tidak berkembang dengan baik. Mazhab fikihnya cepat hilang, apalagi setelah dia meninggal dunia. Dia bertahan di Bagdad melawan para pengikut mazhab Hanbali karena ada ucapan Ahmad bin Hanbali yang dianggap oleh para pengikut Ahmad yang menghinanya. Rumahnya dilempari batu oleh mereka sehingga menjadi sebuah bukit.


Perhatian Thabari ditumpahkan untuk mengkaji dua hal besar yang berkaitan dengan keinginan Tuhan, yaitu dalam bidang Alquran (yang merupakan kalimat Allah yang diturunkan kepada manusia) dan sejarah yang dengan mempelajarinya kita dapat mengunhgkap kan hakikat di balik peristiwa yang diinginkan oleh Tuhan.
Meskipun – pada saat ini—kita menem­patkan tafsir Thabari pada tempat yang lebih tinggi dibandingkan kajian sejarahnya, kita mesti mengakui bahwa buku sejarah yang ditulisnya, Tarikh al- Umam wa al- Muluk, sama seperti usahan yang dilakukan oleh Bukhari dan Muslim dalam bidang hadis. Thabari memilih bahan-bahan penulisan sejarahanya dari bahan-bahan yang telah ditulis dalam buku sejarah sebelumnya. Dia melengkapi bukunya dengan memberikan kajian mendalam mengenai ilmu kalam (mutakallimin) dan para fukaha, sehingga bukunya mendapat penghormatan tinggi dari kalangan pemikiran Ahlusunah dan para ahli sejarah yang datang setelah dirinya. Para sejarawan menganggap bahwa Thabari merupakan seuah model yang patut dicontoh dalam penulisan sejarah.


Dalam pemulisan sejarahnya hingga tahun 249 H. Dia melakukannya secara kronologis, tahun per tahun. Dia mengulas peristiwa demi peristiwa, tahun demi tahun, bukan dalam suatu cerita panjang yang bersambung . Dia sangat mementingkan rujukan dan mata rantai periwayatan sejarahnya. Jika dalam suatu peristiwa terdapat berbagai riwayat, dia menyebutkan semuanya secara bergantian sambil mengutip nas riwayat tersebut persis seperti aslinya, tanpa mengadakan perubahan. Tujuannya menggabungkan semua hadis mengenai sejarah Arab dalam bukunya dari sumber-sumber paling utama. Seperti uasanya mengumpulkan semua hadis yang berkaitan dengan Alquran dalam tafsirnya. Namun, dalam kajian sejarahnya, Thabari jarang melakukan keritik dan penjelasan riwayat atas riwayat yang lain sehingga buku tersebut dapat dianggap memiliki kekurangan (tafakkuk).


Bagaimanapun, dalam buku tersebut masih terkadung banyak kekurangan dari berbagai sudut. Kita pun perlu mempertanyakan , bagaimana dia dapat menuliskan sejarah Penaklukan Sejarah Andalusia secara singkat sekali, enam baris saja. Padahal, pemaparannya terhadap sejarah Persia kuno cukup memadai, begitu juga Sejarah Jahiliyah, dan sejarah awal perkembangan Islam.
Bukunya yang lain, Jami’ al- Bayan fi Tafsir al-Quran, disepakati sebagai buku tafsir yang belum tertandingi oleh buku tafsir sebelum atau sesudahnya, karena cakupan bahasanya luas serta informasinya objektif serta orisinil. Buku itu dijadikan rujukan utama dalam penulisan tafsir hingga zaman kita sekarang ini, khususnya dalam pengkajian ilmu-ilmu Ahlusunah tentang Alquran di dunia Islam yang ada di bagian timur. Sebaliknya kaum Muslim yang ada di barat, menempatkan tafsir al- Qurthubi sebagai rujukan utama.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT