Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Teknologi: Tantangan Keluarga Muslim Pada Era Digital

Sabtu, 15 Februari 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 86 Kali

Seperti kebanyakan keluarga urban lainnya, Mumpuni Dyah Islamey memperkenalkan gawai kepada anak sejak dini. Putriny yng baru berusia empat tahun delapan bulan pun sempat mengalami kecanduan. Beruntung, Mumpuni tidak kalah akal. Dia pun mencoba mengalihkan aktivitas anaknya ke kegiatan positif.
“Memang salah saya dari awal yang mengenalkan Kiya (nama putirinya) gadget pas umur tiga tahun. Alhamdulillah, semakin ke sini makin kurang main gatgetnya,” ujar ibu dua anak tersebut pada saat ditemui.
Bila anak mulai merengek minta smart­phone, Mumpuni sudah terbiasa me­ng­alihkan perhatian ke saluran khusus anak-anak di telivisi kabel. Dia juga terus mengawasi gerak-gerik si anak. Mumpuni bercerita, ia sengaja mengenalkan gawai ke sang buah hati supaya bisa mengurus pekerjaan rumah dengan tenang. Sekarang dia bisa menyadari tindakan itu tidak benar. Meski begitu, wanita kelahiran 1990 ini menilai anak tetap perlu dikenalkan dengan teknologi sejak dini, tapi harus sesuai dengan porsinya. “Saat ini saya membolehkan Kiya main gaget, tapi dengan aturan. Misalnya, saya melarang keras dia main gadget saat jam-jam belajar ngaji, les, serta tidur malam,” ujarnya. Mumpuni dan suaminya pun sudah saling berkomitmen agar meminimalkan penggunaan gawai ketika sedang bermain bersama anak-anak, termasuk makan. “Saya dan suami kalau makan, yah makan, tidak pernah nyambi pegang smartphone. Paling kalau ada telepon atau chat penting aja baru diihat,“ ujarnya.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI)n Rita Pranawati menjelaskan, kecanduan gawai dapat menyebabkan fokus anak terganggu. Anak juga sulit diajak bicara karena terpaku kepada permainan di smartphone.
Tidak hanya itu, Rita menyebutkan, cyber crime banyak terjadi pula pada anak melalui smartphone. “ Misalnya anak menjadi korban penipuan di media sosial atau jadi kekerasan seksual lewat online. Itu yang biasanya yang dilaporkan kepada kami,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, dia tidak memungkiri kalau anak harus dikenalkan dengan gawai karena hidup zaman digital. Di sini orangtua harus melakukan pengawasan ketat.
Penggiat parenting Idzma Mahayatika menambahkan, sebetulnya anak-anak, khususnya balita, belum membutuhkan smart phone. Mereka membutuhkan komunikasi dua arah. Sementara smartphone merupakan bentuk komunikasi satu arah. Ketika anak terlalu sering bermain gatget, stimulasinya akan terganggu. “Karena mereka engga gerak, enggak bermain, enggak beriteraksi,” tuturnya.
Selama ini, lanjutnya, orangtua menyalah­kan gawai sebagai sumber masalah. Padahal, bila dirunut dari akarnya, orangtualah yang pertama kali memberikan gawai kepada anak, dengan alasan supaya anak tenang atau makannya lebih lahap. “Orangtua yang akhirnya menjerumuskan anak sendiri,” ungkap peraih gelar magister pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada bidang studi pendidikan anak usia dini itu.
Apabila anak sudah kecanduan, Idzma menyebut, mereka harus tegas mengambil smartphone anaknya. Mungkin itu akan menyakitkan dan anak dipastiakan akan rewel, tetapi ini harus dilakukan . Selanjutnya, kata Idzman , tugas orangtua yakni memberikan kesenangan lainnya, misalnya dengn mengajak mereka bermain atau beraktivitas luar rumah.

Kehangatan kelurga
Digital kini menjadi kebutuhan dasar setiap orang. Selain sandang pangan, dan papan, kini dibutuhkan pula kuota dan pulsa. Tidak mengherankan jika sekarang banyak orang lebih memilih menahan lapar demi memiliki smartphone lengkap bersama kuotanya. Sayang penomena itu berdampak besar terhada komunikasi di keluarga.
Kesibukan anggota keluarga pada perang­kat elektroniknya masing-masing membuat interaksi antara anak dan orangtua hanya sebatas seremonial. “Orangtua hanya bertanya, ‘Sudah makan belum?’ Anak lalu menjawab. Diskusi mendalam sudah tidak ada lagi. Indikasinya, saat anak-anak jarang curhat dan memiliki rahasia, maka yang muncul anak cendrung mudah mendapat pengaruh buruk dari luar,“ kata pakar parenting Islam Ustaz Bendiri Jaisyurahman.
Dia menuturkan, kedekatan antara orang­­tua dan anak sangat penting. Hal itu dicontohkan oleh Nabi Yusuf AS yang sangat dekat dengan ayahnya hingga tidak ragu menceritakan mimpinya kepada sang ayah. “Di era digitalini, anak tidak lagi memiliki keinginan curhat buka rahasia kepada orangtua. Kalau orangtua tanya dibilang keo. Ini menjadi cela para predator seksual dan pengedar narkoba,“ ungkapnya.
Solusinya, ujarnya, perkuat bonding atau ikatan batin antara orangtua dan anak. Kedua, harus bijak sekaligus memahami kapan perlunya memperkenalkan gawai kepada anak. Terakhir aplikasikan mengenaihak milik seperti yang termaktub dalam Alquran, surah an- Nisa ayat 6. Ustaz Bendiri menyatakan, setiap keluarga Muslim harus mampu men­jadikan meja makan sebagai tempat untuk mengobrol serta tertawa bersama.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT