Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Menikmati Alam Kubur

Sabtu, 15 Februari 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 93 Kali

Jika orang yang mukmin diletakkan dalam kuburnya, sebuah pintu menuju syurga akan dibukakan di dekatnya.

Alam kubur tak selamanya menyeramkan. Seorang hamba bahkan bisa merasakan alam setelah mati bak tidur seperti pengantin baru. Ketika itu amal kebajikannya di dunia menjadi buah manis yang siap untuk dipetik. Para mukmin pun mendapatkan perlakuan berbeda dengan orang kafir dan munafik sejak malaikat maut menjemput.
Al-Bara’ bin Azib selain menerangkan tentang sakitnya mati juga menceritakan tentang kenikmatannya. Imam Ibnu Qayyim al- Jauziy dalam bukunya “Roh” menjelaskan tentang hadis ini. Saat mengurus jenazah di Baqi’ al-Fardad, Nabi SAW mendatangi Bara’ dan kawan-kawan. Nabi SAW duduk. Lantas mereka yang ikut duduk mengelilingi Nabi. Rasulullah menghadap ke arah mayat yang baru dikuburkan. Dia bersabda tiga kali, “Aku berlindung kepada Allah dari siksa kubur.”
Nabi pun bersabda, sesungguhnya jika hamba itu menuju ke akhirat dan terputus dari dunia, maka para malaikat turun ke­padanya. Seakan-akan wajah mereka matahari. Mereka duduk di hadapannya sepanjang mata memandang. Kemudian malaikat pencabut nyawa datang hingga duduk di dekat kepalanya. Malaikat itu berkata, “Hai jiwa yang tenang, keluarlah kepada ampunan Allah dan keridaan-Nya.”
Maka jiwa itu keluar dengan cara mengalir seperti air yang mengalir. Malaikat itu pun mengambilnya. Para malaikat lain tidak membiarkannya ada di tangannya sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya lalu meletakkannya di kafan. Jiwa itu keluar dengan bau yang harum, seharum embusan minyak kasturi di muka bumi.
Nabi melanjutkan ceritanya, “Lalu para malaikat itu membawa jiwa itu naik. Mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan sekumpulan malaikat ini berkata, ‘betapa harumnya roh ini’. Para malaikat yang membawanya berkata, “Ini adalah fulan bin fulan.” Mereka menyebutkannya dengan nama yang paling baik seperti manusia menyebut namanya di dunia hingga mereka tiba di langit dunia.
Mereka meminta agar langit itu dibuka. Langit itu pun dibukakan baginya. Dia diantarkan dari satu langit ke langit berikutnya hingga tiba di langit tempat bersemayam Allah. Allah berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku di illyin dan kembalikan ia ke bumi. Sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari tanah dan di dalam tanah pula Aku mengembalikan mereka dan dari tanah pada kali yang lain Aku mengeluarkan mereka.”
Roh pun dikembalikan kepada jasadnya. Kemudian, ada dua malaikat yang menda­tanginya lalu mendudukan mayatnya. Dua malikat bertanya, “Siapakah Rabbmu?” Dia menjawab, “Rabbku Allah.” “ Apa agamamu?” tanya dua malikat. Dia menjawab, “Agamaku Islam. “Siapakah orang yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat. “Dia adalah Rasulullah,” jawabnya. “Apa yang kamu ketahui tentang benda in?”tanya dua malaikat. “Aku membaca Kitab Allah, maka aku beriman kepada-Nya dan aku membenarkan,“ jawabnya.
Dari arah langit, terdengarlah suara menyeru, “Hamba-Ku benar, maka hampar­kanlah syurga baginya dan bukakan baginya salah satu pintu syurga. Hamba itu pun didatangkan dengan aroma yang harum semerbak. Kuburnya dilapangkan baginya sejauh mata memandang. Dia didatangi seorang lelaki berwajah menawan. Pakaiannya indah dan baunya harum. Orang itu berkata, “Ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu.”
Hamba itu bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang sambil membawa kebaikan,“ “Aku adalah amalmu yang saleh.” Hamba itu berkata, “Ya Rabbi, datangkanlah hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.”
Ibnu Qayyim menjelaskan, jika orang mukmin diletakkan dalam kuburnya, sebuah pintu menuju syurga akan dibukakan di dekat kakinya. Dikatakan kepadanya, “Lihat­lah balasan yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Lalu di dekat kepalanya dibukakan satu pintu menuju neraka. Dikatakan kepadanya,” Lihatlah siksa yang dijauhkan Allah darimu.” Setelah itu dikatakan kepadanya lagi, “Sekarang tidurlah dengan tenang.” Tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai selain tibanya hari kiamat.
Menurut Ibnu Qayyim, Rasulullah SAW pernah bersabda, jika orang mukmin diletakkan di dalam liang kuburnya, tanah berkata kepadanya, “Engkau benar-benar yang kucintai. Sebelum engkau berada di atas punggungku, maka bagaimana jika sekarang engkau berada di dalam perutku agar aku dapat memperlihatkan apa yang akan ku perbuat terhadap dirimu? Kuburannya dilapangkan sejauh mata memandang.”
Allah SWT bahkan menjelaskan di dalam surah Ali Imran ayat 169, jika para mujahid yang mati syahid hidup disisi-Nya. “Janganlah kalian mengira bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”
Sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, pernah mengisahkan perihal ayat ini. Rasulullah bersabda, arwah mereka (para syuhada) berada di dalam tembolok burung hijau, baginya terdapat pelita-pelita yang bergantungan di bawah arasy. Dia terbang di bagian syurga dengan bebas menurut kehendaknya, kemudian hinggap pada pelita-pelita tersebut. Maka Tuhan mereka menjenguk keadaan mereka sekali kunujungan, lalu berfirman, “Apakah kalian menginginkan sesuatu?”
Mereka menjawab, “Apa yang kami inginkan lagi. Bukankah kami terbang dengan bebas di dalam syurga ini menurut kehendak kami?” Allah melakukan hal tersebut kepada mereka sebanyak tiga kali. Setelah mereka merasakan bahwa diri mereka tidak dibiarkan oleh Allah melainkan harus meminta, maka berkatalah mereka, “Wahai Tuhan kami, kami menginginkan agar Engkau mengembalikan arwah kami ke jasad kami, hingga kami dapat tebunuh lagi demi membela jalan-Mu sekali lagi.” Setelah Allah melihat bahwa mereka tidak mempunyai keperluan lagi, maka barulah mereka ditinggalkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat, siksaan dan kenikmatan ditimpakan kepada jiwa dan badan. Jiwa dapat merasakan kenikmatan dan siksaan terpisah dari badan. Jiwa bisa merasakan kenikmatan dan siksaan dalam hubungannya dengan badan dan badan berhubungan dengannya. Kenikmatan dan siksaan ditimpakan pada keduanya dalam keadaan seperti ini bersama-sama. Sebagaimana jiwa yang bisa merasakannya sendirian.
Menurut Ibnu Qayyim, pendapat para ulama salaf mengatakan bahwa jika seorang yang sudah meninggal dan menjadi mayat, dia akan berada dalam kenikmatan atau siksaan. Hal ini akan dialami oleh roh dan badannya. Roh tetap kekal setelah berpisah dari badan, lalu mendapatkan kenikmatan atau siksaan. Ia terkadang berhubungan dengan badan, sementara badan bersama roh mendapatkan kenikmatan atau siksaan. Pada hari kiamat kuburan, semua roh dikembalikan ke badan dan mereka bangkit dari kubur untuk menghadap Rabbul alamin.
Hanya, bagaimana kunci untuk menempati alam kubur yang nyaman dan bebas dari siksaan? Al-Baihaqi mengungkapkan, amal saleh akan membuat nyaman tempat tinggal di alam kubur. ”Dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar-Rum[30]:44)
Merujuk kepada pendapat mujahid, tempat yang menyenangkan yang dimaksud ialah ‘kediaman’yang nyaman selama di alam barzakh.
Fakta ini juga dipertegas dalam hadis riwayat Abu Hurairah. Disebutkan, bahwa ketika mayat telah diletakkan di dalam kuburnya, ia mendengar gesekan sandal handai tolan yang meninggalkannya sendirian. Bila ia orang yang beriman, maka amalan shalat akan berada di atas kepalanya, puasa di sebelah kanannya, dan zakat ada di samping kirinya.
Sedangkan amalan lainnya, seperti sede­kah, silaturahim dan perbuatan baik ada di sekitar kedua kakinya. Masing-masing akan menjadi saksi dan pelindung baginya. Wallahu a’lam.[Achmad Syalabi Ichsan]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT