Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Tuntunan: Kualitas Shalat Sahabat

Sabtu, 15 Februari 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 100 Kali

Setiap kata dan kalimat yang dibaca membuat mereka tenggelam dalam kebenaran.

Sepotong malam di bulan Rajab, Rasulullah SAW bangun tengah malam untuk memeriksa masjid. Dia hendak melihat adakah orang yang bangun pada malam itu.
Begitu dekat masjid, beliau mendengar suara Sayidinah Abu Bakar as-Shiddiq sedang menangis dalam syalatnya. Abu Bakar hendak mengkhatamkan Alquran dalam dua rakaat shalatnya. Namun, ketika sampai ayat “Allah telah membeli para mukmin, harta mereka dan jiwa mereka, bahwa bagi mereka adalah syurga,” (QS at-Taubah:111), ia menangis keras. Air matanya menitik ke sajadah, sedangkan Nabi SAW berhenti di pintu masjid.
Di sudut lainnya, Nabi SAW juga men­dengar Ali sedang menangis dalam shalatnya. Ali pun berniat menghatamkan Alquran dalam shalat dua rakaat. Ia sampai di ayat, “Samakah mereka yang tahu dan tidak tahu?Yang dapat menerima pelajaran hanyalah mereka yang berakal.” (QS az-Zumar : 9).
Di dua sisi lainnya, Nabi SAW mendengar kerasnya tangisan Muaadz bin Jabal yang juga hendak mengkhatamkan Alquran. Dia selalu gagal karena selalu terhenti pada pertengahan surah yang dibaca atau ayat lainnya. Namun bacaannya kembali terhenti karena air matanya selalu berlinang.
Demikian dengan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat mulia yang memiliki keistimewaan sebagai muazin Rasulullah SAW. Billal juga tersedu di tengah khusuknya menjalankan shalat malam. Melihat para sahabatnya begitu khusuk menjalankan shalat, Rasulullah juga menangis. Beliau pun pulang kembali ke rumahnya.
Ketika subuh tiba, mereka shalat di belakang Nabi. Dia pun menghadap ke arah para sahabat dan bertanya,” Apa yang membuatmu menangis, Abu Bakar, ketika pada sampai pada bacaan ‘innallahasytara’ (Allah telah membeli)?”
Bagaimana tidak? Allah telah membeli jiwa para sahabat-Nya. Tentunya jika ternyata hamba itu cacat? Tidak akan jadi dibeli. Juga setelah dibeli tapi terlihat cacatnya. Atau cacat saya diketahui, kemudian dikembalikan. Bukankah saya menjadi penghuni neraka? Karena itu, saya menangis.”
Kemudian datang Jibril dan berkata kepada Nabi, “Katakan kepada Abu Bakar, wahai Muhammad, jika pembeli tahu cacat si hamba dan pembelinya dengan cacatnya itu, ia tidak bisa mengembalikannya. Dengan cacat hamba-Nya—sebelum diciptakan—dengan cacat itu pula Dia membelinya. Tidak ada yang dikembalikan. Demikian dengan cacat setelah dibeli.”
Nabi bergembira mendengarnya, juga para sahabat. Pertanyaan selanjutnya kemu­dian disampaikan kepada Ali. “Apa yang membuatmu menangis ketika membaca ayat ‘qul hal yastawi’?”
Ali menjawab, “Bagaimana tidak, Allah berfirman, samakah orang yang tahu dan tidak tahu? Bapak kita Adam adalah orang yang paling tahu. Seperti yang disampaikan Allah dalam firman-Nya: Allah mengajarkan Adam nama-nama keseluruhannya. Sedangkan kami tidak sama dengan beliau. Bagaimanakah bisa sama?”
Jibril pun datang memberi petunjuk untuk meluruskan anggapan Ali. Yang benar, tidak akan sama kelak pada hari kiamat antara orang kafir dengan orang yang beriman. Orang kafir hanya menyembah berhala, tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat Orang beriman menyembah Allah dan menyebut Laillahaillallahu Muhammadarrasulullah.”
Orang mukmin akan berbuat baik saat bergembira. Jika berbuat buruk, dia beristigfar. Jika berpergian meng-qasar shalatnya dan berbuka puasa. Itu tidak berdosa. Tempat tinggal di kampung akhirat juga menjadi pembeda bagi orang mukmin dan kafir. Orang beriman akan menikmati syurga, sementara orang kafir neraka.
Begitu gambaran kualitas keimanan sahabat generasi pertama. Mereka membaca Alquran dengan ilmu dan iman kepada Allah. Setiap kata dan kalimat yang dibaca membuat mereka tenggelam dalam kebenaran.
Mereka mengukur kualitas lahir batin dengan pernyataan kebenaran dalam Al­quran. Pikiran terguncang, sedangkan hati bergetar bila sampai ayat-ayat yang me­ngo­­reksi kondisi mereka atau ayat-ayat yang menggambarkan masa depan umat manusia yang mencekam (Wa’id) .
(Syekh Muhammad Ibn Abu Bakar dalam Yshufuriah untuk zaman kita. Dialog Republika)

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT