Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Silaturahim dengan Burung

Sabtu, 15 Februari 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 170 Kali

Burung-burung banyak diungkap dalam Alquran. Bahkan burung-bururng, terutama burung hud-hud menjadi guru Nabi Sulaiman yang dikenal sebagai nabi paling jujur. “Wa’ulilimma manthiq al-thair...” (kami telah memberi pengertian tentang suara burung) (QS al-Naml/27:20-24). Pernyataan Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam Alquran ini lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa burung-burung merupakan salah satu makhluk yang memiliki kecerdasan sekaligus menjadi kekuatan untuk menegakkan kebenaran yang diemban olehnya.
Khusus burung hud-hud, Allah SWT menceritakan panjang lebar dalam Alquran, seperti ayat-ayat berikut, “ Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata,’Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya, kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.’
Maka tidak lama kemudian (datang­lah hud-hud), lalu ia berkata, ‘Aku telah me­ngetahui sesuatu yang kamu belum mengatahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, sesunggunya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk..’” (QS. Al-Nam/27:20-24).
Kehadiran burung hud-hud menjadikan salah satu faktor penting dalam pemerintahan Nabi Sulaiman sebagaimana cuplikan kisah di atas. Ketika Nabi Sulaiman,mengapel para peserta rapat, salah satu undangan rapat belum kelihatan, yaitu hud-hud. Sebagai pimpinan yang tegas, dia berjanji akan menjatuhkan sanksi indisipliner kepada kelompok burung-burung hud-hud.
Namun, hukuman batal dijatuhkan lantaran burung hud-hud membawa berita menarik. Sebuah kerajaan yang dipimpin Ratu Balqis dan berhasil mengantar bangsanya menjadi negeri indah penuh pengampunan Tuhan (baldatun thayyibah wa Rabbun gafur). Ratu Balqis juga mendapatkan gelar “pemilik singgasan besar” (laha aarysun adhim). Kedua prestasi ini belum pernah terulang di dalam sejarah umat manusia.
Kecerdasan burung hud-hud dalam menceritakan pengalaman nya, maka Tuhan memberikan kepercayaan burung hud-hud untuk mengantar surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis. Isi surat Nabi Sulaiman singkat: Akhirnya si burung hud-hud meletakkan surat itu tepat diatas dada Ratu Balqis. Dalam suasana kaget, ia memanggil para pembesarnya untuk mendiskusikan peristiw yang baru saja dialaminya, “Wahai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusan ini, aku tidak pernah memutuskan sesuatu persolan sebelum kalian berada di dalam majelisku. (27:32).
Berikan kearifan dan kecerdasan yang dimiliki perempuan ratu ini, strateginya betul-betul membuat Nabi Sulaiman berpikir berat. Tapi pada akhirnya Nabi Sulaiman atas izin Allah SWT berhasil mengendalikan situasi, bahkan berhasil menggabungkan dua negeri adidaya tersebut.
Peran burung hud-hud yanmg menyam­paikan adanya potensi musuh di negeri seberang ditanggapi serius Nabi Sulaiman dengan mengirim surat kepada Ratu Balqis, pemimpin bangsa Saba’. Langkah pertama pendekatan Sulaiman mengirim surat diplomasi kepadanya yang diantar oleh burung hud-hud.
Dalam riwayat disebutkan burung hud-hud menerobos ke dalam lubang angin, kemudian surat itu diletakkan di atas dada Ratu Balqis yang sedang beristirahat siang di tempat tidurnya seorang diri, Begitu membaca surat itu, langsung ia mengumpulkan para pembesarnya, lalu menceritakan peristiwa aneh datangnya surat yang disebutnya sebagai surat mulia ( kitab karim) karena intinya surat itu mengajak Ratu Balqis menjalin hubungan diplomatik. [Prof. Dr. Nasaruddin Umar]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT