Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengenal Tokoh Islam: Al-Al Hallaj

Sabtu, 15 Februari 2020 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 125 Kali

Al-Hallaj adalah penghulu gerakan sufi pada awal perkembangan Islam. Ketenaran dan kewibawaannya mengguncangkan peme­rin­tahan Bagdad yang sedang rapuh. Pemerin­tah­an Bagdad kemudian memerintahkan kepada kelompok fuhaka untuk mengadili dan meng­hukumnya. Ucapannya, baik yang dituturkan maupun diungkapkan dalam syairnya dianggap penghujatan. Dia di salib pada tahun 921 M.
Pada abad ketiga Hijrah, sufisme telah berubah dari kezuhudan dan kesederhanaan kepada suatu pemahaman yang cendrung mengabaikan syariat secara berlebihan, seperti kecenderungan para fuhaka Ahlusunah kepada pelaksanaan syariat. Komentar yang sangat tepat hal ini pernah dilontarkan oleh Abu Hamid al-Mirwardzi, “Kalaulah orang Khawariij tidak berkata, ‘Ali itu kafir’, maka orang yang sangat mengkultuskan Ali tidak akan berkata, ‘Ali itu Tuhan.’” Tokoh-tokoh Sufisme berpendapat bahwa pelaksanaan syariat itu hanya tepat untuk tahapan permulaan, atau sekadar tangga yang mesti dilalui untuk pindah ke tahap berikutnya. Sebagian tokoh—terutama al- Hallaj—berpendapat bahwa barang siapa yang sudah sampai ke tujuannya, dia tidak memerlukan perantara lagi; dia diperbolehkan mengabaikan perantara-perantara tersebut. Karena itu, mereka berpendapat bahwa syariat itu boleh saja dilaksanakan sekadar formalitas; karena pelaksanaan syariat itu bahkan kadang-kadang menyebabkan timbulnya halangan dalam menyelamatkan diri mereka.
Al-Halllaj dan kawan-kawannya lebih jauh bahkan berpendapat bahwa para wali mereka lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan Nabi. Hubungan para wali dengan Tuhan mereka adalah hubungan langsung; mereka menyatu dan melebur (fana) di dalam-Nya kecuali perantara. “ Kami mengarungi lautan, sedangkan para Nabi berdiri di tepi lautan itu.” Mereka para sufi berkata bahwa hanya diri mereka yang paling dekat dengan Sang Mawla (Tuhan) jika dibandingkan dengan fuhaka Ahlusunah yan paling takwa skalipun. Bahkan mereka mengaku lebih tahu tentang agama dibandingkan mereka. Agama ulama fikih, menurut mereka adalah agama lahir, sedangkan agama mereka sendiri adalah agama batin. Mereka mengklaim bahwa makrifat dan hikmah Illahiyah lebih tinggi daripada ilmu para ulama. Alasannya, tidak ada ilmu yang menandingi tafakur, dan sudah mendalam ilmunya, maka dia akan dapat melihat dengan benar.
“Kalian mengambil ilmu dari orang mati kepada orang mati, sedangkan kami mengambil ilu dari Yang Maha Hidup dan tidak mati. Orang-orang kami berkata: ‘Hatiku menerima bisikan dari Tuhanku’; sedangkan kalian berkata: ‘Fulan memberitahu kepadaku, di mana dia sekarang ini?’ Mereka menjawab: ‘Meninggal dunia. Dia dari fulan dan di mana dia?’ Mereka menjawab: ‘meninggal dunia.’” (Al-Busthami).
Tidaklah mengherankan, ketika al-Hallaj dan murid-muridnya semakin berani, orang awam semakin banyak mengikuti ajaran-ajarannya, dan ajarannya dianggap meng­ganggu meresahkan, para fuhaka dan ulama agama memberikan peringatan dan larangan. Pemikiran al-Hallaj tentang inkarnasi (hulul), kefanaan dalam Zat Tuhan, serta kesatuan wujudnya dengan Tuhan dituduh telah mengganggu ketenanagan Islam. Dia mengumumkan tentang pencampuran ruli Tuhan dengan ruh manusia, seraya menjelaskan syairnya bahwa dirinya dan al-Haqq, Sang Pecipta dalah satu:
Akulah yang ingin dan Yang ingin adalah aku
Kami adalah dua ruh yang tinggal di satu badan
Jika kamu melihatku, berarti melihat-Nya
Dan jika kamu melihat-Nya, berarti kamu melihat Kami.

Dalam dua buah bait syair di atas, dia mengemukakan bahwa dua sisi jurang telah bergabung. Yaitu, jurang yang tak bterbatas dengan jurang yang berbatas; antara Allah dan mausia, menururt pandangan para fukaha Islam.
Dengan mudah para fukaha mengadili al- Hallaj . Mereka meminta penguasa untuk menghukum mati al- Hallaj dengan alasan bahwa dia adalah pengikut Kristen, tetapi menyembunyikan kekeristenannya. Selain itu kakeknya adalah seorang pengikut Majusi Persia, yang menyembah api.
Penyaliban al-Hallaj merupakan upaya pertama membendung perkembangan sufisme. Pada tahap kedua adalah pengejaran tehadap tokoh sufisme, sebagai kelanjutan penghakiman dan penyaliban al- Hallaj. Lalu diikuti dengan demonstrasi para fuhaka dan kemarahan penguasa, yang pada gilirannya melulu-lantakkan gerakan sufisme. Tidak cukup sampai di situ, penguasa memberi peringatan keras terhadap ajaran al-Hallaj, sangat menganjurkan pelaksanaan syariat, serta kembali ke jalan yang benar; berdasarkan penolakan fuhaka Ahlusunah terhadap ajaran al-Hallaj dan pengikutnya yang dianggap menyimpan dan kafir.
Semua tuduhan itu terus ditimpakan kepada al-Hallaj dan mazhabnya. Mazhabnya tidak akan diakui sebagai mazhab yang memberikan sumbangan bagi Islam karena mazhabnya telah menuduh ajaran fuhaka tidak ada demensi batiniahnya, samasekali kosong dari demensi ruhaniah, merupakan perjalanan panjang yang tidak disertai dengan perasaan yang hidup. Mazhabnya memberikan penjelasan bahwa dalam Islam, hakikat tanpa batin adalah tidak benar, dan orang-orang yang sibuk mengikuti mazhab fikih bagaimanapun dianggap masih kurang.
Al-Hallaj dapat dikatakan sebagai salah satu pionir Islam yang melakukan eksperimen terhadap pengalaman keberagamaan, dari sudut yang sangat dalam, setelah demensi yang formal gagal, dan yang tradisional membahayakan agama.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT