Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Allah Menambahkan Nikmat-Nya Kepada Orang-orang yang Bersyukur

Jum'at, 08 Nopember 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 312 Kali

Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya  hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seorang benar-banar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan oleh apa yang dikurniakan kepadanya.  Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sediri. Aggapan ini adalah merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya  dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya.  Bagaimana pun nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut : “ Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “

(QS. An- Nahl: 18).

Meskipun kenyataan demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun sebabnya diceritakan dalam Alquran;  Setan, yang telah berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah: “ Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari syurga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya.” (QS. Al-A’raf:17-18).

Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga besyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikurniakan kepada mereka dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran . Mereka bersyukur karena telah dibimbing  dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan , perbutan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semuanya ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukan rahmat dan kasih sayang-Nya.       

Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebuah pahala menunggu orang-orang yang beriman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam Alquran; Allah menambahkan nikmat-Nya kepada orang-orang  yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak kepada orang-orang yang bersyukur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang ia miliki. Bahkan, Allah mengurniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan kurnia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelindung mereka. Allah menceritakan rahasia Allah ini dalam Alquran sebagai berikut :

“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (Qs.Ibrahim:7).

Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikurniakan Allah. Rasulullah SAW juga menyebutkan masalah ini, beliau  bersabda: Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu. (Ramuzel-Hadis, jilid 1, halaman 22).

Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia merasa tidak bahagia dan tidak puas, maka Allah  menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandanga yag tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih banyak  nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.

Bahwa Allah menambahkan kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari Alquran. Bagaimanapun harus kita camkan dalam  hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling  dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa menghayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang terrsimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-                  orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpul dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja mensyukuri nikmat ketika ia tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan mengingkari nikmat.

Perlu diperhatiakan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah meskipun mereka dalam keadaan yang sangat sulit.  Seseorang yang melihat dari luar, mungkin melihat kekurangannya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitan tersebut. Misalnya, Allah menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia  dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah  akan memberi pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut.  Mereka mengetahui bahwa  Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka.  Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap akan menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya  yang mensyukuri nkimat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT