Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kajian Tasawuf: Penderitaan adalah Kasih Sayang yang Menyamar

Kamis, 08 Agustus 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 86 Kali

Cara Jalaluddin Rumi nencintai Allah bukan sekadar teori. Rumi sudah masuk ke dalam gua yang dialaminya sendiri, sehingga muncul inspirasi dari Allah SWT. Puisi-puisi Rumi memberikan gambaran tentang betapa manusia harus melalui penderitaan terlebih dahulu untuk bersatu dengan Cinta yang Sejati, yakni Allah.


Ustaz Perdamaian Harahap dalam kajian membahas Jalan Cinta Rumi di Jakarta, belum lama ini menggambarkan jalan cinta Rumi suatu yang mengerikan untuk didalami. Jika sudah masuk ke dalam makna hakikat puisi Rumi, pembaca harus bersiap untuk mengalami makna cinta, yang berarti harus melalui kesakitan dan penderitaan terlebih dahulu.


Bang Dame, sapaan ustaz Pardamean, pun mengutip salah satu puisi Rumi. “Dengarkanlah nyanyian seruling bambu itu, betapa ia mengadu keluh karena terusir dari kampung halaman.” Puisi tersebut bermakna, jika kita yang menderita itu adalah seruling bambu.“ Jadi Rumi mau sampaikan: wahai para penderita, kamu adalah kekasih-Nya, keluhan itu adalah panggilan sang kekasih,“ kata Bang Dame.


Bagi Rumi, menderiat itu asyik karena merupakan panggilan. Bagi Rumi, ujar Bang Dame, penderitaan adalah kasih sayang Allah yang tengah menyamar. Sebab di saat menderita, ia telah dipanggil Sang Kekasih . Sampai pada akhirnya, Rumi hanya mengeluarkan suara hatinya yang bersumber dari Sang Allah.


Rumi mengajarkan manusia untuk menyen­tuh dia. Dalam menjalani kehidupan dan berhadapan dengan apa pun, manusia tidak mungkin takut salah dan bohong. Yang ada hanya kejujuran, sebab bukan cinta kalau tidak jujur, “Rumi seperti menyuarakan sekian juta manusia yang menjerit, intisari penderitaan ditampung olehnya, dan dia suarakan lewat puisi,” ujar dia.


Bang Dame membagikan 10 tema cinta dalam kehidupan yang berkorelasi dengan jalan cinta Rumi. Ada pula bagi perjalanan kehidupan masing-masing jiwa. Tema ini disebutnya google map cinta. Pada saat manusia lahir, manusia sudah diberkahi untuk “berpasangan.”
Pertama, cinta anak kepada orangtua. Manusia pertama kali lahir ke dunia ber­temu dengan orangtua, anak diayomi, dan dilindungi. Cinta tersebut berupa perasa­an tertinggi. Kedua, tema cinta kepada saudara. Ibu melahirkan lagi sehingga ada rasa dalam bentuk kekeluargaan dengan saudara. Rasa yang sama pernah berada satu rahim dengan ibu. [Fergi Nadira]


Tema cinta yang ketiga, adalah teman. Ketika individu beranjak besar, individu sekolah, dan menemukan tema cinta yang dinamakan teman. Bersama teman kita bisa melakukan apa pun yang terkadang amat sulit dilakukan bersama sudara kandung. Teman menjadi lebih cair dalam melakukan kegiatan gila.


Keempat, tema “berpasangan”. Pada perja­lan­an­nya, memilih teman spesial adalah hal yang butuh rasa. Jika dirasa teman hanya cocok menjadi teman, tidak akan pernah menyambug ketika keduanya bersama. Hal itu tidak dapat dipaksakan.
Kelima, taman cinta hubungan individu dengan rekan kerja. Pasangan untuk rekan kerja, semisal rekan bisnis. Keenam, ada tema cinta, yaitu hubungan jiwa antara teman dan misi.


Teman dalam misi yang dimaksud, adalah hubungan antar individu tidak akan berjalan baik jika dipaksakan. Jika teman hanya cocok dijadikan sebagai teman buka rekan bisnis, chimisrynya tidak akan sampai.
Ketika sudah mendapatkan vebrasinya, kita dapat pulamerasa dan memilih teman dalam misi untuk dijadikan suami/istri yang sudah lebur menerima kekurangan dan kelebihan dari satu sama lain.


Ketujuh, tema cinta “berpasangan” dengan guru. Kedelapan, Musuh. Dalam kehidupan manusia hidup memerlukan musuh. Musuh dalam artian menguji ketangguhan hidup kita. Bukan untuk dibenci dan dicaci, malainkan dijadikan sparing partener dalam bertumbuh. “Kalau sudah jogo boxer saya butuh yang tangguh dong. Biar saya lihat diri sendiri,” sebut analogi Bang Dame.


Kesembilan tema “berpasangan” dengan sahabat spiritual . Dalam perjalanan manusia, menemukan pasangan jiwa yang disebut sahabat spiritual. Soul to soul. Sehingga dalam berbicara selalu Tuhan, yang keluar tidak lagi ego.
Kesepuluh, pengabdi. Di antara pasangan-pasangan di perjalanan, ada satu pasangan yang disebut pengabdi. Seperti pembantu Nabi Muhammad, yakni Bilal.


Yang terakhir adalah Kekasih Sejati. Pasangan inilah yang Rumi sudah dapat. Pasangan ini tidak dicari, dia akan muncul sesuai dengan perjalanan masing-masing jiwa. Pada hakikatnya, kekasih sejati adalah jiwa, tidak lagi perempuan atau laki-laki. Terdapat objek yang bisa apapun.


Ustaz Danang Purbaningrat pecinta Allah sejati. Menurutnya Rumi bukan mencintai Allah karena teori, melainkan citanya kepada Allah adalah apa yang ia alami dan rasakan sendiri. Dengan pengalaman mencintai Allah itu timbullah kata-kata, timbullah inspirasi ataupun suatu gagasan yang keluar dari dirinya, bukan kesengajaan dia menciptakan puisi itu, tetapi menurut pengalamannya sendiri, “ujar ustaz Danang.


Pena rumi mengguritkan kata-kata yang berbuahkan sebuah intiuisi yang tidak pernah terlintas sebelumnya oleh akal pikiran. Dia sebagai alat untuk mengeluarkan kata-kata Allah.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT