Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Nyamuk Memilih Manusia Karena Baunya

Kamis, 08 Agustus 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 126 Kali

Nyamuk makhluk paling mematikan, yang menularkan berbagai penyakit melalui gigitannya. Berdasarkan data pusat Pengen­dalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, nyamuk menyebabkan kematian lebih dari satu juta jiwa orang setiap tahunnnya. Harimau dan gajah masing-masing hanya menewaskan 100 orang setahunnya.


Sebenarnya, hanya nyamuk betina yang menggigit. Mereka membutuhkan protein dalam darah mangsanya agar mereka bisa memproduksi telur. Binatang yang telah membumi jauh sebelum manusia ini, mulanya hanya menghisap darah binatang di hutan.
Namun, ribuan tahun yang lalu beberapa jenis nyamuk mengubah seleranya; mereka lebih sukan memilih darah manusia. Salah satunya adalah Aedes aegypti yang dikenal sebagai nyamuk urban. Selain menularkan demam berdarah, Aedes juga bisa membawa beragam penyakit lain, seperti zika, chikungu­nya, dan demam kuning (yellowfever).


Nenek moyang Aedes aegypti awalnya tinggal di hutan Sahara, Afrika, dan hanya menggigit hewan liar, seperti masih dilakukan keturunannya, subspesi Aedes Aegypti formousus. Kajian Carolyn S. McBride dari Rockofeller Unioversity, New York, dalam jurnal Nature (2014) menyebutkan Aedes Aegypti cenderung bertelur di luar rumah dan lebih suka mengigit binatang hutan.
Namun, sepupu mereka yang berwarna coklat muda (Aedes aegypiti aegypiti) cendrung membiakkan di dalam ruangan dalam kendi air dan kebanyakan memburu manusia. Untuk memahami dasar evolusi darri daya tarik ini, McBride dan rekan-rekannya memeriksa gen yang mendorong beberapa nyamuk lebih menyukai manusia. “Temuan mereka menunjukkan bahwa nyamuk yang menyukai aroma manusia dan itu adalah langkah kunci dalam mengkhususkan diri pada kita,” katanya.


Sejumlah kajian telah menemukan, nyamuk pada umumnya mendeteksi keadaan makhluk hidup di sekitarnya berdasarkan jejak karbon yang dikeluarkan. “Karbondioksida merupakan sinyal terbaik bagi keadaan makhluk berdarah panas dan nyamuk biasa mendeteksinya hingga jarak 10 meter,” kata biolog dari Universitas Washington , Jeff Riffell, dalam jurnal Currtent Biology,2015.” Dan berikutnya, mereka menggunakan penglihatan dan indra penciuman lain untuk membedakan apakah itu anjing, rusa, atau manusia. Inilah cara mereka membedakan sumber mangsa.”


Aroma yang menentukan


Kajian terbaru yang dipublikasikan Joshua I Raji dari Departement of Biological Siences & Biomolecular Siences Institute, Florida International University, Miami, dan timnya di jurnal Current Biology edisi 28 Maret 2019, menyebutkan untuk mendeteksi keberadaan manusia ditentukan oleh reseptor penciumman ionotropik (IR8a) yang ada di antena nyamuk Aedes Aegypiti.


Kesimpulan ini diperoleh setelah mereka melakukan rekayasa genetik CRISPR/Cas9) untuk menghingkan konseptor IR8a pada nyamuk. “Kami menemukan nyamuk betina mutan, yang tidak lagi memiliki IR8A, tidak lagi tertarik pada asam laktat, kompenen keringat manusia yang menarik nyamuk,“ kata Raji.


Inspirasi untuk karya baru ini berasal dari pekerjaan sebelumnya yang akan dilakukan anggota tim ini, Mattew DeGenaro dari Florida International University. Sebelumnya Degenaro menemukan, dengan menggangu ko-reseptor penciuman nyamuk yang lain, yang disebut Orco, perilaku serangga ini berubah. Nyamuk-nyamuk yang diganggu Orconya lebih sulit membedakan orang dan hewan lain. Sekalipun demikian, mereka masih bisa menemukan manusia. Ini berarti masih ada lebih banyak resetor yang harus ditemukan adanya IR8a ini.


Kulit manusia sebenarnya memiliki 400 senyawa kimia yang mengeluarkan aroma tertentu yang bisa menarik nyamuk. Bau ini diproduksi oleh jasad renik atau mikrobium yang hidup di kulit dengan variasi jenis dan jumlah pada tiap orang. Ini menyebabkan tiap orang memiliki aroma berbeda. Genetika memainkan peran terbesar dalam hal ini, tetapi selain itu juga dipengaruhi diet dalam fisiology.


Ternyata reseptor IR8a pada nyamuk Aedes aegypti terutama mengejar bau asam laktat yang terdapat dalam keringat manusia.”Kulit manusia dan mikrobiumnya mengeluarkan banyak asam laktat dibandingkan dengan vertebrata lain,” kata anggota peneliti yang juga ahli genetika, Mattew De Gennaro dari Florida International University, seperti dikutip Siencenews.Org.


Tiap orang yang memiliki tingkat asam laktat yang berbeda sehingga beberapa orang akan lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan lainnya. Selain itu juga aktivitas juga menentukan kadar asam laktat. Misalnya orang habis berolahraga atau beraktivitas fisik atau stres akan mengeluarkan asam laktat lebih banyak dan itu bisa lebih menarik bagi nyamuk aedes Aegypti.


Kembangkan parfum


DeGennaro mengatakan, tujuan akhir penelitian mereka adalah mengembangkan parfum yang bisa melindungi orang dari gigitan nyamuk, khususnya Aedes Aegypti. Penularan penyakit seperti demam berdarah, demam kuning, dan zika, dapat dicegah jika menghentikan nyamuk ini menggigit kita,” ujarnya. Untuk menemukan solusi baru untuk mencegah gigitan nyamuk, kita perlu fokus pada pemahaman dasar mulekuler prilaku nyamuk.


Mislanya, beberapa jenis nyamuk memiliki ketertarikan dan penolakan terhadap bau-bauan yang berbeda. Salah satunya yang paling terkenal adalah nyamuk yang menye­barkan malaria (Anopeles gambiae) ternyata tertarik kepada keju limburger seperti dikaji oleh Knols (1996)
Bakteri yang menyebabkan keju yang memiliki aroma khas ini ternyata terkait erat dengan kuman yang hidup di antara jari-jari kaki. Itu menjelaskan mengapa nyamuk anopheles cendrung mengigit area kaki kita. Eksprimen yang dilakukan terhadap aedes aegypti ternyata bau keju limberger itu tidak menarik mereka.


Secara sederhana, masyarakat di Indonesia biasa menggunakan bau-bauan tertentu seperti minyak sereh dan kayu putih untuk mengurangi kejaran nyamuk. Beberapa lainnya menyarankan agar menghilangkan bau keringat dengan mandi dengan sabun. Barangkali ini bisa menyamarkan bau keringat tubuh kita, tetapi seberapa efektif?


Selain itu menarik untuk diteliti, apakah kebiasaan masyarakat Papua yang merupakan endemik malaria, mengolesi tubuh mereka dengan minyak babi benar bisa mnghindarkan mereka dari gigitan nyamuk. Atau lebih spesifik, jenis nyamuk yang apa? Pertanyaan-pertanyaan ini masih membutuhkan kajian dari peneliti, terutama peneliti di Indonesia.[Kompas]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT