Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Peran Guru pada Era Digital

Jum'at, 02 Agustus 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 153 Kali

Saat ini teknologi digital sudah sangat luas dalam hal penerapan dan dampaknya. (Maaive open on Line course MooCs) atau penerapan teknologi digital dalam pelajaran, kini mampu menembus tembok ruang kelas-batas-batas kampus, bahkan garis teritorial negara. Loncatan kemajuan teknologi digital ini mejadi tantangan berat bagi guru.
Disatu pihak ia dituntut untuk mampu beradaptasi dengan masyarakat teknologi; sementara di lain pihak, ia menjadi kunci untuk menyiapkan anak-anak bangsa dalam mengahadapi masa depan yang semakin kopentitif. Sosok yang seperti apa yang dibutuhkan generasi digital?


Zaman berubah.
Jika dulu dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan, maka pada era digital ini, tak seorang pun bisa mengklaim dirinya menguasai pengetahuan. Berbagai sumber belajar kini terdistribusi secara luas dan mudah diakses oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.
Bahkan tanpa bantuan guru, murid-murid dapat mengakses pengetahuan yang mereka butuhkan, hanya degan menggunakan telepon pintar (smart phone) dalam genggaman.
Banjir informasi yang mudah diperoleh ini membantu peroses belajar sekaligus menciptakan problem baru. Tekno digital tidak hanya menyediakan informasi yang baik, tetapi juga memberikan akses kepada informasi yang buruk, tidak akurat, bahkan hoaks (Neil Postmamn, 1992 ).


Aliran informsasi yang membuat kita kewalahan ini juga telah merampok kemam­puan manusia untuk memilih dan memilah manakah penegetahuan penting yang berfiungsi sebagai panduaan intelektual dan moral.


Dampak Teknologi
Dalam konteks hubungan antarpribadi, kemajuan teknologi juga telah merenggut kemampuan manusia untuk membangun relasi sepontan dengan sesama dalam kehidupan nyata. Orang cendrung sangat individualistik dengan gawai di tangan tanpa menghadari lingkungan sekitar.
Dalam konteks inilah profesi guru ber­ada sekarang. Realitas hidup pada era digital mengandaikan sukses pribadi, entah sebagai guru, murid, atau oraganisasi untuk bergantung sepenuhnya kepada kemampuan belajar. Sindrom rasa rendah diri dapat meghinggapi guru, ketika merasa bahwa pengetahuan yang ia pereoleh bertahun-tahun yang lalu sudah daluwarsa.


Kekurangan harga diri pun bisa terjadi aki­bat krisis makna dalam menjalankan tu­gas profesional karena guru dipaksa un­tuk belajar tentang hal-hal baru yang terus bermunculan dalam hitungan menit se­hing­ga membuatnya merasa ketinggalan. Padahal dirinya terpanggil untuk menyiapkan murid-murid dengan pengetahuan dan keteram­pilan penting yang mereka perlukan untuk menghadapi dunia kerja.
Profil pekerja masa depan, sebagaimana yang disampaikan Martin Carnoy dan Castels (1994) di depan wakil dari negara-negara anggota The Organisation For Economic Cooperation and Development (OECD), akan terpusat kepada pengetahuan dan pembelajaran. Tantangan-tantangan masa depan ini harus dihadapi secara proaktif melalui pengembangan disiplin dan etos kerja yang tepat.


Manakala hubungan pribadi antara pribadi menjadi semakin teknis melalui koneksi gadget dan peralatan teknik lainnya, kehadiran fisik guru untuk menyapa, menegaskan dan menguatkan hubungan-hubungan pribadi menjadi kebutuhan yang tak tergantikan.
Dunia multimedia menawarkan kesem­patan-kesempatan bertelekomunikasi melalui gambar-gambar dan bunyi. Akan tetapi kehadiran guru sama pentingnya dengan demensi multi media melalui suara, sapa­an, bahasa tubuh, sentuhan, ungkapan emosi, dan empati.
Selain itu guru dapat menginsinasi, men­dorong refleksi dan menilai informasi yang diperoleh para siswa.
Dengan demikian, kehadiran guru sebagai pembangun karakter tak akan tergantikan oleh peralatan secanggih apapun.


Peran Guru
Berikut ini tiga hal yang perlu dillakukan guru untuk menjaga profesionalitasnya. Petama, guru sendiri harus terdorong untuk terus belajar agar dapat mengajar anak dengan baik.
Ia harus terbuka terhadap hal-hal baru seraya mengenbangkan kemampuan kritis untuk membantu para muridnya dalam menyaring berbagai informasi yang memiliki nilai pembelajaran.


Kedua, guru perlu memiliki kesederhanaan intelektual (intelectual modesty), yaitu disposisi bahwa dirinya tak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Dengan sikap ini ia menjadi panutan bagi murid-muridnya untuk dengan rendah terus belajar dan bereksplorasi demi mencapai kebenaran.


Ketiga, Berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan inklusif agar upaya belajar maksimal. Hal ini akan memicu krativitas murid membuat berbagai temuan baru dan mengembangkan kemampuan demi mengantisipasi perubahan zaman. [John de Santo]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT