Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Sudahkah Kita Menjadi Muttaqin?

Jum'at, 02 Agustus 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 115 Kali

Salah satu target kita dalam berpuasa ialah memperoleh derajat orang-orang bertakwa (muttaqin). Apakah sudah merasa ada tanda-tanda ketakwaan dalam diri kita? Yang paling tahu hanyalah Allah dan diri kita sendiri.
Salah satu tanda ketakwaan ialah mun­cul­nya kelembutan di dalam hati, ada­nya keluhuran niat di dalam pikiran, dan kesediaan diri untuk berbagi dengan orang lain, sebagaimana diformulasikan di dalam QS. Al-Baqarah: 3-4 dan Ali Imran: 134-135. Selama sebelas bulan, kita menjadi hamba yang bebas dan mungkin di antara kita ada yang liar, gentayangan kesana-kemari mencari mangsa.


Maka, selama sebulan penuh di dalam bulan Ramadhan ini kita ditempa dan di recharge energi speritual kita, semoga meninggalkan bekas yang dalam. Bulan Ramadhan ibarat oase di tengah padang pasir dan memberikan kepuasan kepada kafilah yang sedang berlalu.
Balan Ramadhan adalah manifesatasi dari rahmania dan rahimiah Allah SWT. Allah SWT menggambarkan diri-Nya di dalam dua kualitas, yaitu kualitas ketegaran dan keagungan (jalaliyyah/ struggling) serta kualtas kelembutan dan kasih sayang (Jamaliyyah/nurturing).


Melalui nama-nama-Nya, kita bisa me­nge­­nal bahwa Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang daripada Tuhan Yang Maha Pemurka dan Pendendam. Seolah-olah Allah SWT memperkenalkan diri-Nya, tidak untuk ditakuti, tetapi untuk dicintai.
Seorang yang mendekati Allah SWT lewat pintu maskulin akan menegaskan Tuhan bersifat transenden, jauh, berserah diri, satruggling, dan menakutkan. Seseorang yang mendekati Allah SWT lewat pintu feminin akan mengesankan Tuhan bersifat imanen,dekat, dominan, struggling, dan lebih tepat dicintai daripada ditakuti.


Sebagai orang yang telah menjalani puasa dan amaliah Ramadhan sebulan penuh, seniscayanya kita telah berada pada maqam spiritual yang lebih tinggi, syukur kalau di antara kita yang sudah masuk ke derajat yang paling tinggi, yaitu muttaqun (QS. Al-Hujarat [49]:13).
Tanda-tanda seorang muttaqun tidak saja menaruh kasih dan perhatian kepada sesama manusia, tetapi juga kepada makhluk –makhluk Tuhan yang lain. Idealnya orang berpuasa sudah dapat menciptakan kualitas ukhuwah basariah, ukhuwa Islamiah, dan ukhuwah makhlukiah.
Kuwalitas muttaqin yang dijanjikan Tuhan bagi mereka yang menjalankan puasa secara ikhlas dan baik bukanlah janji sederhana. Kualitas muttaqin merupakan dambaan setiap orang. Selain dilihat sebagai rahmat oleh sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan, yang bersangkutan juga mengalami spiritual yang mengasyikkan.


Seorang memiliki takwa akan merasakan kelapangan dada, meniru sifat Tuhan yang Maha lapang (al-Wasi’). Hujatan dan celaan atau pujian dan sanjungan apapun yang dialamatkan orang kepadanya tidak lagi akan ditanggapi secara emosi berlebihan karena dadanya sedemikian lapang.
Berbeda kepada yang tidak memiliki unsur ketakwaan selalu diwarnai suasana batin yang fluktuatif. Jika dihujat dadanya terasa sumpek dan jika disanjung lehernya akan bertambah panjang. Orang yang bertakwa sulit dikenali kapan ia ditimpa musibah dan kapan ia dikurniai rezeki.
Ia memberikan respon yang biasa kepada semua yang datang kepadanya. Orang yang bertakwa akan menyadari Allah SWT sebagai Tuhan makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia sebagai makhluk mikrokusmos merupakan bagian yang teramat kiecil di antara seluruh makhluk ciptaan Tuhan.


Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalifah di bumi (khala’if al-ardh), menusia tidak sepantasnya mengklaim Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan manusia daripada Tuhan makrokosmos. Pemahaman yang demi­kian dapat memicu egosentrisme untuk menaklukkan, menguasai, dan mengekplotasi alam raya sampai di luar ambang daya du­kung­nya, bukannya bersahabat dan ber­damai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan.


Meskipun dipercaya oleh Tuhan sebagai khalfah di bumi (khala’if ai-ardh), manusia tidak sepantasnya mengklaim Allah SWT lebih menonjol sebagaai Tuhan manusia daripada Tuhan makroskop. Pemahaman yang demikian, dapat memicu egosentrisme manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan mengeksploitasi alam raya sampai di luar ambang daya dukungnya, bukannya bersahabat dan berdamai sebagai sesama makhluk dan hamba Tuhan.


Tuhan tidak ahanya memperhatikan ke­pentingan manusia, sebagaimana pema­haman yang keliru sebagai orang ter­hadap konsep penundukan alam raya (taskhir) kepada manusia. Seolah-olah konsep taskhir adalah ‘SIM’ untuk menaklukkan alam semesta.
Padahal, konsep terakhir sebenarnya ber­tujuan untuk merealisasikan eksistensi asal segala sesuatu itu sebagai the feminine nature, yang mengacu kepada keseimbangan kosmos dan ekosistem. Manusia sebagai khalifah selayaknya menjalankan fungsi kekhalifahaan nya dan senantiasa mengidentifikasikan diri dengan tha Feminine God.


Sekiranya demikian, sudah barang tentu tidak akan pernah terjadi kekacauan lingkungan alam dan lingkungan sosial. Sebaliknya, yang akan terjadi adalah kedamaian kosmoolitan (rahmatan lili alamin) di timgkat makrokosmos dan negeri tenteram di bawah lindungan Tuhan (baldatun thayyibatun wa Rabbun Gafur) di tingkat mirokosmos.
Hanya bagi mereka yang berpuasa yang dapat menjelaskan kaitan antara mikrokosmos, Tuhan, dan makrokosmos. Mereka akan me­ra­sakan bagaimana peranan puasa dalam menjalankan misi dan kapasitanya sebagai khalifah dan representasi Tuhan di bumi. Orang-orang yang demikian inilah sesung­guhnya yang dapat menjalankan konsep ketauhidan yang paling ideal.


Mereka menganggap dirinya sebagai makhluk mikrokosmos yang mempunyai konsep kesatuan dengan makhluk makrokosmos. Di tingkat kemanusiaan, mereka dengan sendirinya berupaya menyingkirkan berbagai kesenjangan sosial yang ada di dalam masya­rakat dalam upaya mewujudkan keu­tuh­an sesama makhluk mikrokosmos.
Konsep intergeralistik scara internal ini merupakan perwujudan prilaku insan kamil dan inilah konsep Tauhid yang sesungguhnya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan latihan-latihan spiritual untuk berusaha untuk memperoleh martabat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.


Di siang hari kita berpuasa untuk men­con­tohkan sifat-sifat Tuhan. Tuhan tidak makan, tapi memberi makan. Baru saja kita menyelesaikan satu ujian berat, yaitu menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, menahan diri untuk tidak makan dan minum, dan tidak berhubungan seks, meskipun semua sepenuhnya di bawah kewenangan kita.
Semoga pridikat muttaqin yang dijanjikan Allah SWT berhasil kita raih dan dapat dipertahankan sampai bulan Ramadhan berikutnya. Berpuasa dalam arti menahandiri untuk tidak makan dan tidak minum bisajadi upaya meladeni Tuhan. Tuhan memberi makan, tetapi tidak makan (Huwa yuth’im wala yuth’am (Qs. [16:14]).


Tuhan tidak memiliki teman seksual (wa­lam takun shahibah /QS.[6]: 101). Diharapkan pada diri yang berpuasa senantiasa mengendali­kan diri dari sifat-sifat yang tercela. Sebaliknya mereka dianjurkan untuk mengembangkan sifat-sifat utama, seperti meladeni Tuhan dalam sifat-sifat-Nya yang baik, misalnya Tuhan Maha Pengasih (al-Rahman), Maha Penyayang (al-Rahim), Maha Pemaaf (al- Afuw), Maha Bijaksana (al- Hakim), Maha Adil (al-Adl), Maha sopan Santun (al-Latif), Maha Pemberi (al-Wahab), dan beberapa sifat lainnya yang lebih dikenal dengan (al-Asma’alHusna).


Manusia dituntut meladeninya sebatas kemampuannya orang-orang yang berpuasa,. Tetapi tidak menampakkan bekas sebagai sifat-sifat Tuhan tadi, dikhawatirkan mereka itulah yang tidak memperoleh sesuatu, kecuali lapar dan dahaga. Orang yang dapat meneladani sifat-sifat Tuhan itulah yang sesungguhnya disebut orang bertakwa (muttaqin), sebagimana dijanjikan bagi orang-orang yang berpuasa.[Prof. Dr. Nassarudin Umar]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT