Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Abdurrahman al-Dakhil (731-788)

Jum'at, 02 Agustus 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 113 Kali

Khalifah Abbasyah al-Manshur, pada satu hari pernah berkata kepada saha­bat­nya: ”Tunjukkan kepadaku siapakah pemimpin dari bangsa Quraissy?” Mereka menjawab: “Anda sendiri.” Al Manshur menjawab: “Tidak.” Mereka berkata lagi “Kalau begitu Mu’awiyah.” Dia berkata lagi “Tidak.” Mereka berkata “Abdul Malik bin Ridwan,” dia berkata lagi, juga “Tidak.”Mereka balik bertanya kepadanya, “kalau begitu siapakah dia wahai Amir al-Mukminin?” Al Mashur menjawab: Abdurrahman bin Mu’awiyah yang menyeberang lautan dan menuruni jurang, lalu masuk ke negeri asing sendirian. Kemudian dia membangun kota di sana, membentuk pasukan tentara, membangun kantor pemerintahan, dan mendirikan kerajaan setelah dia selesai mengatur semua sarananya dengan baik dan penuh disiplin.


Setelah menggulingkan daulah Umawiyah yang telah berkuasa selama sembilan puluh tahun, orang-orang Abbasiah mengeluarkan perintah pada tahun 750 M untuk mengkikis habis orang-orang yang ada kaitannya dengan dinasti Umawiyah. Mata-matapun disebar diseluruh pelosok negeri mencari jejak mereka. Hanya segelintir orang yang selamat dari tebasan pedang Abbasiyah, di antaranya ialah seorang pemuda berusia sembilan belas tahun, yaitu Abndurrhaman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik, yang lari dari Irak, mengarungi gurun gurun Syria, menuju Palestina. Kemudian dia menyeberang gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Adalasia yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari dinasti Umayah.


Andalusia pada waktu itu masih sangat kacau. Di sana selalu terjadi perang saudara antara orang Arab Selatan (al-Yamaniyyun) dan Arab Utara (al-Qaysiyun) yang tak mau melupakan pertarungan dan dendam lama mereka. Sepertinya mereka memperbaharui pergaulan mereka di zaman jahiliyah. Sebagian besar Al- Qaysium adalah pengikut Alusunah, sedangkan al-Yamayiyun adalah orang-orang Syiah. Orang-orang Barbar sendiri mmerupakan musuh mereka semua, yang kebanyakan terdiri atas kaum Khawarii. Pada sisi lain, orang asli Sepanyol menanti-nanti saat yang tepat untuk melepaskan diri dari kungkungan mereka. Mereka silih berganti menduduki pemerintahan selama dua puluh tiga tahun sebelum munculnya Abdurrahman.


Abdurrahman memasuki Andalusia hanya diikuti oleh empat ratus budak yang setia kepada Bani Uamayah. Ada yang me­nga­ta­­­­kan bahwa ketika ia mendarat pada tahun 755 M, pasukan tentara Syam me­ng­­­ha­­diahkan seorang budak perempuan yang sangat cantik kepadanya. Ketika dia melihat dan memperhatikan kecantikannya, dia berkata, “Sesungguhnya hati dan mata ini talah sepakat. Akan tetapi, jika saya meninggalkan perempuan ini, maka saya telah menzaliminya . Namun, juka aku sibuk dengan perempuan ini, maka berarti saya menzalimi kepentingan saya. Oleh karena itu aku tidak memerlukannya.” Kemudian dia mengembalikan perempuan itu kepada mereka.


Silih berganti para utusan mendatanginya memberi tahu bahwa mereka siap memban­tunya karena mereka sudah sangat bosan selama berpuluh-puluh tahun berada dalam kondisi yang seperti itu. Merek memerlukan seorang penguasa yang diakui oleh semua pihak. Tatkala barisan tentaranya sudah banyak pengikutnya, dia mulai merangkak menyerang Cordoba. Dia berhasil menakluk­kan kota itu dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaannya. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Andalusia dilanda pergolakkan terus menerus yang dipelopori oleh orang Yamanyyun dan bangsa Barbar. Pada saat yang sama, Khalifah al- Mashur mengirimkan bala tentaranya yang terdiri atas para budak belian yang setia kepada daulah Abbasiah untuk mengembalikan ke tangan mereka. Akan tetapi Abdurrahman mampu memadamkan berbagai pemberontakan tersebut, serta memukul mundur tentara al- Manshur.


Tatkala Harun al-Rasyid memegang kendali pemerintahan di Bagdad, Chalemagne, Raja Perancis , dengan leluasa dapat memerangi musuhnya di Andalusia, karena di sisi lain Harun al-Rasyid sedang memerangi Byzantium, musuh Charlemagne. Maka Charlemagne menyeberangi gunung Brawns untuk menyerang Abdurrahman. Namun, karena ada berita kekacauan yang melanda dalam imperiumnya, terpaksa dia kembali lagi dan urung menyerang Andalusia.


Kekalahan Perancis membuat Abdurrahman al- Dakhil sangat senang. Selama beberapa tahun setelah itu, dia tidak pernah tidak masuk masa-masa pembenahan yang dilaku­kan oleh Abdurrahman al-Tsalis. Takala memasuki Andalusia, sudah menemukan bahwa tentaranya telah diatur sesuai dengan cara yang berlaku di kabilah Badui. Dia kemudian membangun angkatan bersenjata yang teratur yang jumlahnya tak kurang dari empat puluh ribu personil. Dia sadar bahwa Sepanyol sangat mungkin diserang dari arah lautan. Oleh karena itu dia mulai membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada pertama kali di Andalusia Islam. Armada inilah yang pada zaman Abdurrahman al-Tdalits menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.


Pada zamannya pula, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi. Dan pengembangan peradaban yang sangat pesat. Tampaknya dia telah menyiapkan hal itu dalam masa yang cukup lama. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Sepanyol, sebelum itu adalah Cardoba bersaing dengan Konstantinopel dan Bagdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu penegetahuan serta seni. Cardoba dikenal oleh orang Arab sebagai “Pengantin Andalusia dan permata dunia.”


Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi bangunan masjid Cardoba dan memperluasnya. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar sebanyakl 1293 tiang. Dia laksana “Ka’bah” kaum Muslimin di dunia Islam bagian Barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah . Dia termasuk tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan , setelah Istana al- Hambra, sebagai peninggalan sejarah yang sangat menarik.


Selain yang disebutkan di atas, Ab­­­dur­rahman juga seorang penyair dan orator yang sangat baik meski sejarah me­nyebutkan bahwa dia adalah pemuda terusir yang dengan ketegaran dan kemauan kerasnya, behasil mendirikan Umawiyah kedua, yang masih bertahan hingga tahun 1031 M. Dia mampu mengatasi serangan dari kekuatan besar dari Timur dan Barat. Harun al-Rasid dan Charlemagne. Dia juga menanggulangi berbagai pergolakan dan permusuhan yang hampir –kalau saja tidak masuk Andalusia—menjadi badai yang menghantam pemerintahan Islam di daulah ini. Rhaudha Juli 2019

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT