Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Rahasia Zakat

Jum'at, 21 Juni 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 211 Kali

Banyak orang membatasi diri pada tingkat ini karena kekikiran mereka denga harta.

Indonesia baru saja dinobatkan sebagai negara terdernawan di dunia. Charity Foundation menempatkan RI di peringkat pertama dalam World Giving Indonesia 2018 dengan skor 59. Salah satu indikator  kedermawanan dari WGI adalah tingkat donasi. Dalam hal ini, Lembaga Filantropi yang berbasis kepada zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf) dinilai punya peran besar.

Tingkat perolehan dana dari sumber donasi keagamaan, khususnya zakat, memang kerap memuncak. Badan Amil Zakat Nasional ( Barnas) mencatat ada kenaikan sekitar 20 persen total pengumpulan dana ziswaf dari berbagai laznas. Meski demikian, jumlah tersebut sebenarnya masih amat kecil dibandingkan potensi yang ada. Jika semua wajib zakat di Indonesia menyumbang, nilainya dipredeksi akan mencapai lebih dari Rp 200 triliun.

Penumbuhan kesadaran zakat di kalangan Muslim pun perlu ditingkatkan. Salah satunya menyadarkan jika zakat bukan hanya untuk kebutuhan materi dan perbaikan ekonomi. Namun, zakat punya makna lebih dari itu. Zakat yang kerap dibaca beriringan dengan kata shalat ini punya untaian rahasia berharga. Rahasia yang diungkapkan Imam  Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin.     

Menurut sang Imam, zakat bahkan tidak terlepas dalam pengejawantahan tauhid. Pelaksanaan tauhid memiliki pensyartan untuk kesempurnaannya. Orang yang mengaku bertauhid  tidak mencintai apa pun, kecuali Sang Tunggal Yang Maha Esa. Sesungguhnya cinta tidak menerima penyekutuan. Tauhid dengan lisan memiliki sedikit pengaruh . Sementara tingkat kecintaan hanya dapat teruji dengan melepas  apa yang dicintai. Berhubung harta adalah sesuatu yang dicintai makhluk,  harta pulalah yang menjadi alat kesenangan dunia mereka.

Karena harta, mereka menggandrungi dunia ini dan lari dari kematian. Meskipun dalam kematian terdapat pertemuan dengan Kekasih. Karena itu, merekapun diuji  dalam kejujuran pengakuan nereka tentang Sang Kekasih. Mereka juga diminta untuk melepas harta yang menjadi objek pandangan mereka.

Imam Ghazali menjelaskan, transaksi terbesar  orang mukmin dengan Allah SWT terjadi dengan jihad. Mereka mengorbankan nyawanya  demi bertemu Allah Azza’Wa Jalla. Harta sesungguhnya merupakan transaksi degan nilai yang lebih ringan dibandingkan nyawa.”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan syurga bagi mereka. “ ( QS at-Taubah (9):111).

Sang imam memisahkan tiga golongan  untuk menjelaskan rahasia zakat. Golongan pertama, yakni golongan yang bertauhid setulus-tulusnya.  Mereka melepaskan semua harta sehingga tak menyisahkan dinar dan dirham dalam pundi-pundinya.  Abu Bakar RA, masuk dalam golongan ini ketika dia menyerahkan semua hartanya kepada Rasulullah SAW demi perjuangan di jalan Allah SWT.

Golongan yang deratanya lebih rendah  adalah mereka yang menahan harta dengan menantikan waktu-waktu  yang dibutuhkan.  Maksud mereka menyimpan harta  adalah membelanjakan sesuai dengan kadar kebutuan tanpa tujuan untuk bersenang-senang. Mereka pun menyalurkan  harta yang melebihi kadar kebutuhan ke berbagai jalan kebaikan.

Mereka tidak membatasi pengorbanan harta pada zakat semata. Sejumlah Tabiin , bahkan berpendapat bahwa dalam harta terdapat hak selain zakat . “Dan (orang mukmin) memberikkan harta  yang dicintainya kepada  kerabat?” ( QS al-Baqarah [2]  ayat 177)

Selain itu, mereka juga mendasarkan perbuatannya dengan dalil, Dan “Orang-orang yang beriman menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan  kepada mereka.” ( QS al- Baqarah[2]:3). Makna dari ayat-ayat di atas adalah harta yag didapatkan  termasuk hak Muslim terhadap hak Muslim lainnya. Orang yang diberi kemudahan, ketika mendapati orang yang membutuhkan, wajib memenuhi kebutuan  orang itu dari harta bukan zakat. 

Golongan ketiga, adalah orang yang mencukupkan diri dengan menunaikan kewajiban zakat. Mereka tidak mengeluarkan lebih dan tidak juga kurang. Inilah derajat terrendah dari orang-orang yang mengeluarkan zakat. Banyak orang membatasi diri  pada tigkat ini karena kekikiran mereka dengan harta, kecondongan mereka kepada dunia dal lemahnya kecintaan mereka kepada akhirat.

Imam al-Ghazali juga menjelaskan, pengertian lain dari zakat adalah penyucian diri dari sifat-sifat bakhil. Sifat ini amat buruk karena termamsuk sifat-sifat yang membinasakan. “ Dan barang siapa yang terjaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang yang berbahagia. “  (QS at- Taghabun: 16). Sifat bakhil hanya akan hilang dengan membiasakan pengorbanan harta. Kecintaan sesuatu tidak akan terhapus kecuali memisahkan jiwa untuk berpisah kepadanya. Peranzakat di sini adalah sebagai penyuci bagi pelakunya.

Pengertian selanjutnya adalah mensyukuri nikmat Allah SWT adalah pemilik nikmat pada diri dan harta hamba-Nya. Ibadah dengan badan merupakan syukur atas nikmat badan. Sementara ibadah dengan harta nerupakan syukur atas nikmat harta.  Betapa rendah orang yang melihat orang fakir yang rezekinya sedang disempitkan, sementara dia tidak melaksanakn syukur kepada Allah untuk menjadikannya tidak perlu meminta-minta. Wallahu a’lam.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT