Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Keutamaan Ilmu

Jum'at, 21 Juni 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 190 Kali

Dalam tema ini Allah SWT membedakan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, yaitu dengan menegaskan dalam Firman-Nya:

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang  dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar :9)

Kemudian Allah SWT juga menyebutkan keutamaan orang  yang berilmu dalam firmann-Nya yang lain:

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat)  orang-orang  yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al Mujadilah:11).

Maka dari itu Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya untuk selalu berdoa agar diberikan ilmu dalam firman-Nya:

“ Dan Katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkan ilmu kepadaku’” (Thaha :114).

Tidak sebatas pada ayat-ayat saja yang menyebutkan keutamaan ilmu, dari hadis Rasulullah SAW pun banyak yang menjelaskan  betapa mulianya berilmu, di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Mu’Awiyah a.s.  yang merupakan seorang sahabat, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan kepadanya, maka Dia akan  memahamkannya tentang agama.” (Muttafaq Alaihi).

Lebih tegas lagi dari hadis di atas, Abu Darda’ a.s. juga meriwayatkan, ia berkata, “  Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa  menempuh satu jalan untuk mencari ilmu dengannya, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga.  Para Malaikat akan membentangkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena ridha dengan perbuatannya. Sungguh, seorang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga ikan yang ada dalam air. Keutamaan seorang yang berilmu atas  seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang. Para ulama ialah pewaris para Nabi.  Sedangkan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, maka ia akan mengambil bagian yang sangat besar .” ( HR. Dawud dan At- Tirmidzi).

Pahala ilmu tidak hanya didapat ketika dirinya masih hidup, namun pemiliknya sudah meninggal pun akan tetap mendapatkan pahala dan ilmunya selama ilmu yang dimiliki diamalkan oleh orang lain. Sebagaimana Abu Hurairah a.s. meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus kecuali dari tiga hal; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” ( HR. Muslim).

Dari beberapa dalil di atas dapat kita ketahui bahwa ilmu syar’i mempunyai kedudukan agung di dalam agama.  Allah telah menganjurkan dan memotivasi untuk menuntut ilmu, serta memberikan keutamaan bagi pemilik ilmu syar’i atas selainnya. Allah juga mengatagorikan  mencari ilmu termasuk amalan yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada kepada-Nya dan sebab paling agung  untuk masuk ke dalam syurga. Karena dengan ilmu dan belajar menjadikan seseorang mengenal  Allah, mengetahui perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya , serta sebagai upaya untuk tegaknya agama Islam.

Karena itulah, para ulama disebut sebagai pewaris para Nabi. Para Nabi mewariskan ilmu syar’i kepada manusia, sehingga siapa saja yang mengambilnya  maka ia adalah pewaris para Nabi. Jika Allah menghendaki kebaikan ada pada diri seseorang, maka dia akan memberikan kemudahan  baginya untuk mempelajari urusan-urusan agamanya.

Sebagi penutup terlebih dahulu kami sampaikan beberapa poin dari pemaparan di atas, diantaranya:

  1. Keutamaan ilmu dan ulama karena mereka adalah pewaris Nabi.
  2. Pemahaman terhadap agama, merupakan bukti Allah menghendaki kebaikan ada pada seorang hamba.
  3. Menuntut ilmu termasuk salah satu dari sebab-sebab masuk ke syurga.
  4. Sebaik-baik warisan seseorantg adalah ilmu yang bermanfaat karena pahalanya terus mengalir kepada dirinya sesudah kematiannya. [DR Rasyid  Al Abdul Karim]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT