Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Keutamaan Shalat Witir

Jum'at, 17 Mei 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 161 Kali

Imam Nawawi berpendapat dua waktu yang dikerjakan Umar dan Abu Bakar merupakan waktu utama

Pada satu hari, ada seorang penduduk dari Najed yang datang kepada Rasulullah SAW. Pnerampilannya berantakan dengan rambut acak-acakan. Rupanya dia hendak bertanya kepada Rasulullah tentang shalat. “Wahai Rasulullah, bneritahukan kepadaku tentang shalat yang diwajibkan Allah ke­pada­ku?” Beliaupun menjawab: “Shalat lima waktu, hanya engkau perlu melakukan iba­dah tambahan (sunnah).”

Di ujung percakapan, dia berkata, “Demi zat yang memuliakanmu, aku tidak akan mengerjakan amalan sunnah sedikitpun dan juga tidak mengurangi apa yang telah diwajibkan Allah kepadaku.’ Rasulullah bersabda, dia beruntung jika dia benar atau dia masuk syurga jika dia benar.’”
Ibadah sunnah di dalam Islam memiliki banyak keutamaan. Tidak terkecuali ibadah shalat witir. Shalat sunnah usai Isya sebelum subuh yang ditunaikan untuk bilangan rakaat shalat malam menjadi ganjil.

Hukum shalat witir adalakah sunah muakad. “Shalat witir merupakan kewajiban setiap Muslim. Karena itu, barang siapa yang ingin mengerjakan Witir tiga rakaat, maka hendaklah ia mengerjakannya. Dan barang siapa mengerjakan shalat satu rakaat, maka hendalah dia mengerjakannya.” Ali bin Abi Thalib berkata, “Shalat Witir itu bukan suatu yang mutlak seperti shalat wajib kalian. Tetapi ia merupakan sunah yang diajarkan Rasulullah.”

Umar bin Khattab dan Abu Bakar as- Swhiddiqi pernah ditanya Rasulullah tentang waktu mereka melaksanakan shalat Witir. Abu Bakar menjawab pada permulaan malam setelah shalat Isya. Sementara Umar melakukannya pada akhir malam. Nabi SAW bersabda, “Adapun engkau hai abu Bakar, telah berpegang kepada keyakinan, sedangkan engkau hai Umar, berdasarkan kepada kekuatan.”

Jabar bin Abdullah pernah menanyakan masalah waktu kepada Rasulullah SAW pun mengungkapkan, barang siapa yang khawatir tidak bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan witir pada permulaan malam. Dan barangsiapa berkeinginan untuk bangun pada kahir malam, maka hendaklah dia mengerjakan witir pada akhir malam, karena shalat pada akhir malam disaksikan (oleh para malaikat).

Dalam menafsirkan hadis ini, Imam Nawawi berpendapat dua waktu yang dikerjakan Umar dan Abu Bakar merupakan waktu utama. Tergantung kepada kondisinya. Dia menjelaskan, hadis itu menunjukkan jika orang mmengakhirkan shalat witir sampai akhir malam adalah lebih baik bagi orang yang yakin akan bangun pada akhir malam. Orang yang tidak yakin akan bangun pada akhir malam dan mengerjakannya lebih cepat pada permulaan malam, maka lebih baik baginya.

Shalat witir memiliki keutamaan yang besar. “Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi telah membekali kalian dengan satu shalat yang lebih baik bagi kalian dari bintang yang paling bagus, yaitu shalat witir. Dia menjadikannya untuk kalian antara shalat Isya sampai terbit fajar.” (HR Abu Daud). Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW mengungkapkan, “Wahai orang-orang yang berpedoman kepada Alquran, kerjakanlah shalat witir, karena sesungguhnya Allah SWT Witir (ganjil) dan menyukai Witir.”

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz mengungkapkan, shalat witir dikerjakan minimal satu rakaat.[Tuntunan]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT