Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Ramadan dan Kematian

Jum'at, 17 Mei 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 287 Kali

“Kematian adalah mesteri: penyebabnya, waktunya, dan tempatnya. Ramadan lalu seorang pria sedang ngobrol dengan ke­luar­ganya saat makan. Usai membaca Quran, ia meminta istrinya untuk untuk membangunkannya 10 menit lagi. Ia pun tampak tertidur. Ketika sang istri mem­bangunkannya saat azan Isya berkuman­dang, ternyata ia sudah meninggal dengan Alquran dipelukannya.” Itu cerita Ustaz Aam Amiruddin di sebuah masjid di Bandung, dua hari menjelang Ramadan.

Ustaz Aam benar. Keesokan harinya, pagi-pagi saya menerima kabar dari Anton, bahwa kawan kuliah dulu, seorang teman kami, Asep Sapari, baru saja wafat karena serangan jantung. Kabar ini lebih mengagetkan daripada berita wafatnya teman lain, Deddy Ridwan, Wakil Rektor I, Universitas Putra Indonesia Cianjur, karena sakit, belum lama ini. “Ya Allah, Kapankah giliran hamba?”

Asep jarang terdengar sakit. Maklum ia berkarir sebagai tentara, profesi yang memerlukan kebugaran fisik. Ia selalu ceria setiap kami berjumpa. Lebih dari itu, saya dan Asep berkawan karib semasa kuliah dulu. Ia sering menjadi “supir”angkot milik keluarga saya. Satu dari dua angkot yang kami miliki paro kedua dekade 1970-an itu adalah jenis Minibus Mitsubhisi Colt bT 120. Aseplah yang mengajar saya menyetir. Kami sering nambang, istilah untuk cari uang dengan angkot waktu itu, sekadar untuk mendapatkan uang jalan. Asep supirnya, sedangkan saya keneknya. Sesekali kami bertukar peran. Jalur paling kerap kami tempuh adalah Bandung–Singaparna. Saya bahkan pernah menginap di keluarga besar Asep di Manonjaya, dekat Singaparna, tempat Asep menghabiskan masa kecil dan remaja.

Kepergian Asep dan teman-teman AKTE (Angkatan Tujuh Enam) sering disapa “Pak Jendral” membuat saya sedih. Saya rasakan mata saya basa di masjid dekat rumahnya menjelang shalat zuhur, meski saat takziyah ke rumahnya yang bersahaja di sebuah kompleks perumahan, saya mampu menahan rasa haru. Karena kesehatan saya belum pulih, ada tukang yang sedang memperbaiki rumah, dan pemakaman Asep di luar kota, saya dan istri pamit kepada keluarga Asep tanpa menghadiri pemakaman almarhum. Beberapa teman lain datang bertakziyah. Saya tahu banyak teman seangkatan berdukacita kehilangan Asep meski mereka berhalangan hadir di rumah duka. Lewat WA grup kami, mereka menyampaikan ucapan bela sungkawa dan sebagian memasang foto-foto kenangan bersama almarhum. Dari puluhan pesan WA, tiga pesan paling mengharu biru”

Kang Asep almarhum kemana-mana sering bareng, begitu baik dan sabar, terakhir saya bertemu di villa mas Pur masih sempat nyanyi Euis.... Itu kenangan terakhir untuk saya... Selamat jalan Sahabat, semoga husnul khatimah.
Betul, saya juga sedih... Rasanya...waktu pengajian di Bang IU terakhir saya tawarin ngopi ya... bisi nundutan pulang ke Bandung...
Aamiin, dia kerasa jantungnya habis shalat malam masih sempat ngajak istrinya sholat.

Ada sekelumit sesal karena saya belum sempat bersilaturahmi kerumah Asep di Bandung sejak ia purna bakti sebagai perwira menengah beberapa tahun yang lalu. Dulu saat ia aktif sebagai tentara, saya pernah bertsilaturahmi di rumahnya di Cimanggis, dan menemuinya di rumah mertuanya di Bandung. Ia lebih sering mengunjungi saya, termasuk saat reuni di rumah saya Januari yang lalu. “Hampura, Sep,” bisik hati saya. Kesibukan pekerjaan membuat saya tak selalu hadir di reuni teman seangkatan untuk merawat persaudaraan kami.

Banyak peristiwa terkait dengan Ramadan. Perang Badar zaman Rasulullah SAW terjadi bulan Ramadan. Pun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Kelak Ramadan juga dikenang sebagai bulan pemakaman petinju legendaris Muhammmad Ali, di Amerika, yang wafat menjelang Ramadan. Sadarkah kita secara pribadi pun Ramadan adalah bulan kenangan?

Setiap Ramadan datang, kita teringat akan berbagai peristiwa masa lalu: masa kecil saat kita sering mengumpulkan makanan untuk berbuka, main lodong, main petasan, dan main kembang api, ngabuburit, buka bersama, dan tarwih bareng teman atau sejawat, raungan sirine pertanda imsak, dan terutama buka bersama orang-orang tercinta. Semua kenangan itu berkelebat dan berpuncak pada hari lebaran. Kita pun terenyuh dan rindu akan orang-orang yang kita kasihi, namun kini sudah tiada, khususnya kedua orangtua kita. Ya Allah tempatkan amih dan Apa di sisi-Mu yang mulia.

Bukan kebetulan jika saat Ramadan peceramah mengingatkan kita tentang orang-orang yang masih bersama kita Ramadan yang lalu dan kini telah tiada agar kita lebih mawas diri dengan kehidupan kita. Kematian pasti akan datang. Negarawan, Ilmuwan, dan filsuf Amerika Benyamin Franklin pernah berujar, “Hanya da dua hal yang pasti di dunia: pajak dan kematian.”

Dalam bahasa Quran ”Setiap yang berjiwa pasti akan mati” (Al Imran : 185). Bahkan Ramadan kali ini, sebagimana Ramadan-Ramadan yang lalu, juga akan mati alias takkan pernah kembali lagi. Maka manfaatkanlah bulan suci ini seoptimal mungkin. Nabi Muhammad SAW menyebut orang yang sering mengingat kematian dan mempersiapkannya sebagai orang yang paling cerdas.

“Kita harus menjadikan Ramadan ini yang terindah dan terbaik, sebab tahun depan belum tentu kita dapat mencicipi Ramadan.”

Kata ustaz Aam via Televisi Trans 7, yang berceramah tentang kematian di sebuah lokasi perkuburan dem Ramadan telah berlalu. Adakah Ramadan kita kali ini lebih baik daripada Ramadan silam? Jangan lewatkan Ramadan kali ini tanpa peningkatan iman. [Prof. Dr. Deddy Mulyana, M.A.]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT