Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Kamal Ataturk (1880-1938)

Jum'at, 17 Mei 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 222 Kali

Kelompok Nasionalis Turki menjulukinya sebagai Ataturk (artinya Bapak Turki) pada tahun 1934, sebagai penghormatan dan pengakuan atas kecemerlangan salah satu anaknya. Kamal bukan saja pahlawan yang mampu mengendalikan pasukan tentaranya serta menyelamatkan negaranya dari penjajah Yunani dan gangguan bangsa Eropa yang merobek-robek kesatuan daulah Utsmaniyah pada Perang Dunia I, melainkan juga pendiri kebangkitan Turki Modern. Dia berhasil mengangkat Turki menuju peradaban modern dari waktu ke waktu, dengan meniru kemajuan Islam pada abad pertengahan, memasukkan perbaikan yang mendasar ke dalam negaranya, serta bentuk-bentuk peradaban modern. Dialah teladan yang patut diikuiti oleh kaum modernis di nagara-negara Islam yang lain.

Setelah sisstem kesulatan dihapuskan dan dia dipilih menjadi Presiden Republik Turki pada tahun 1932, kemajauan masyarakat masih cenderung kepada pelestarian sistem kekhalifahan. Akan tetapi, Mustafa Kamal menyadari, sistem kekhalifahaan bisa men­jadi jebakan bagi orang-orang yang ingin mengembalikan sisitem kepada zaman kejayaan Islam di Turki. Ia menolaknya. Dia menetapkan bahwa negara harus dijalankan seperti yang berlaku di Eropa, tanpa harus melihat masa lalu atau tradisi yang pernah berlaku. Dia menetapkan harus ada satu masjid dalam setiap radius limaratus meter, dan khotbah Jumat tidak hanya membicarakan masalah-masalah agama, tetapi juga menyangkut pemecahan problema-problema secara praktis untuk memicu produksi pertanian dan industri. Dia mengganti hukum syariat yang mengatur kehidupan pribadi manusia dengan hukum yang diambil dari Swiss. Dia melarang poligami, menganjurkan perempuan Turki terjun ke arena pekerjaan, bahkan memberi mereka hak persamaan dengan laki-laki dalam semua bidang, seperti hak untuk dipilih dan mewakili rakyat dalam kelompok tingkat nasional. Dialah yang memegang kendali semua urusan di atas. Dia mengganti topi koboi Eropa dengan torbus (peci khas Turki), kemudian mewajibkan semua rakyat untuk mengenakan pakaian a la Eropa. Lalu dia menganjurkan nama-nama keluarga dengan nama yang belum dikenal sebelumnya di Turki. Akan tetapi dia memutuskan hubungan dengan dunia Arab. Dia mengatakan bahwa ini adalah revolusi rakyatnya terhadap pemerintahan mereka pada saat terjadinya Perang Dunia I, sebagai satu pengkhianatan dan tikaman atas bangsa-bangsa Arab, dan agar dia dapat membawa bangsanya kepada suasana Eropa. Dia mengganti penggunaan huruf Latin dengan huruf Arab dalam bahasa Turki, dengan membuat panitia yag bertugas melakukan penyesuaian huruf Arab dengan tulisan bahasa Turki maupun pengucapannya, paling tidak ke dalam bentuk yang mendekati kebenaran. Dia mendirikan sekolah-sekolah di seluruh pelosok negeri untuk mengajari mereka huruf-huruf baru dalam masa yang singkat. Pada tahun 1931, Alquran diterjemahkan pertama kali ke dalam bahsa Turki, disertai dengan tafsir dalam Bahasa Turki. Dia mewajibkan para muazin mengumandangkan azan untuk shalat dalam bahasa Turki.

Pada masa Ataturk terjadi perkembangan yang luar biasa dalam bidang seni dan sastra karena usaha-usaha yang diprakarsainya, setelah kedua bidang ini dilupakan oang selama bertahun-tahun—kecuali seni bangunan—pada masa sultan-sultan Utsmaniyah. Untuk pertama kalinya muncul patung yang sangat tidak disenangi oleh para tokoh agama pada masanya. Mulai saat itulah muncul nama-nama pelukis yang ulung. Lukisan mereka dipergunakan untuk menghiasi buku. Pada masanya pula didirikan berbagai instusi musik yang mempunyai tugas mengubah musik Barat menjadi musik Turki, dan untuk memperkaya musik Turki yang sudah ada. Berpuluh-puluh penyair dan satrawan mengungkapkan kehidupan bangsanya yang baru dalam hasil karya mereka, dan kecenderungan bangsanya menuju kehidupan yang lebih makmur dan luas bercakrawala.

Pemerintahan Ataturk juga tidak meng­abaikan pertanian yang menjadi tulang ekonomi negaranya. Meskipun demikian, dia lebih mencurahkan perhatiannya kepada industri yang belum penah dikenal pada masa daulah Utsmaniyah kecuali industri sujadah, sehingga peridustrian tumbuh pesat pada zamannya. Mungkin salah satu sebabnya ialah karena Ataturk sangat menekankan bahwa industri harus menjadi dasar yang kuat bagi politik militernya yang disandarkan kepada tentara yang telatih dan bersenjata canggih, dan juga untuk memenuhi keperluan tentaranya dengan produksi dalam negeri sendiri.

Kamal Ataturk meninggal dunia pada bulan November 1938 setelah berkuasa selama lima belas tahun. Negaranya telah melangkah jauh dalam peradabannya yang sulit dilakukan oleh negara lain walaupun dalam waktu satu atau dua abad. [ensiklopedia Islam]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT