Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Hikmah di Balik Air Mata

Jum'at, 22 Maret 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 313 Kali

Dua ilmuan pernah mengadakan penelitian desertasi tentang air mata.  Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil kedua peneliti tersebut menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena terpercik bawang atau cabai berbeda dengan air mata yang mengalir karena kecewa atau sedih.

Air mata yang keluar karena terpercik bawang atau cabai terrnyata tidak mengandung zat  yang berbahaya. Sedangkan air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin atau racun. Kedua peneliti itu merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat , dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis.  Orang-orang yang sering menangis seringkali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus syurga.  Air mata yang tumpah karena menangisi dosa  masa-masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal itu sesuai dengan hadis Nabi.  Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.

Seorang Sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan  hatinya gersang.  Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis.  Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang yang menangis. “Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusuk.” (QS al-Isra’ ([17]: 109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan, “jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu.”

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang-orang  di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan. Jika meninggal dunia, ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis kerena sedih ditinggalkan.

Tampaknya, kita perlu membayangkan ketika nanti meninggal dunia,  apakah akan lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, apalagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, kita perlu segera melakukan intropeksi, apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan syurga atau neraka. [Prof. Dr Nasaruddin Umar]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT