Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Faedah Puasa Daud

Jum'at, 08 Maret 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 305 Kali

“Maka puasalah seperti puasa Daud As, yaitu satu hari puasa, satu hari berbuka.”  (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan An-‘il).

Sejarah puasa disebut hampir sama tuanya dengan sejarah peradaban manusia.  Nabi Adam AS melakukan puasa pada 13, 14 dan 15, atau dinamakan saum abyadh (puasa mutih) . Puasa ini dilakukannya sebagai upaya permohonan tobat dan ampunan kepada Allah SWT. Perbuatan makan buah khuldi sungguh sangat disesali Adam. Dia pun harus angkat kaki dari surga dan menempati dunia.

 “Ya Tuhan kami, kami menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pasti kami termasuk orang-orang merugi” (Qs. Al-Araf 23). Nabi Nuh AS bahkan puasa sepanjang tahun. Nabi-nabi lain juga memiliki tradisi puasa yang amat kuat, termasuk Nabi Daud AS.

Dalam perjanjian Lama disebutkan  bahwa Nabi Daud berpuasa selama tujuh hari pada waktu putranya sakit keras. Untuk memohon kesembuhan dari Allah bagi putranya itu, dia berpuasa sambil menutup diri dalam kamarnya  dan terus menerus menangis karena sedih. Pada hari ke tujuh dari puasanya itu, putranya meninggal dunia. Setelah mengetahui itu, dia tidak meneruskan puasanya lagi. Dia lantas mengganti pola puasanya menjadi sehari puasa kemudian sehari tidak.

Dalam buku” Dahsyatnya Puasa Nabi Daud”, dijelaskan puasa Nabi Daud adalah pusa sunah yang dinilai paling istimewa ketimbang puasa lainnya.  Puasa Nabi Daud merupakan puasa seimbang, karena pelaksanaannya  tidak mengabaikan hak dan kewajiban yang lain.  Untuk melakukan puasa Daud, kita harus berniat terlebih dahulu. Status niat dalam rukun ibadah apa pun adalah pensyaratan untuk absyanya ibadah. Tidaklah sah sebuah ibadah kecuali dengan niat. “Sesungguhnya setiap amal itu ada niatnya.” ( HR Bukhari dan Muslim).

Letak niat ada di dalam hati dan tidak harus diucapkan. Namun, memang beberapa ulama nusantara tidak mengucapakan hak ini.  Berbeda dengan puasa wajib yang harus berniat pada malam hari, bahkan ketika sebelum terbit fajar, puasa Daud tak mensyaratkan demikian.

Pada suatu hari, Nabi SAW menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa”. Kemudian dia datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “ Wahai Rasullah, kita telah memberikan hadiah berupa hiais ( makanan yang terbuat dari kurma, samin dan keju).

Berpuasa memiliki banyak faedah, apalagi jika puasa itu dilakukan  dengan konsisten. Pertama, orang yang melakunkan puasa itu kerap terjaga dari maksiat. Hatinya akan mengaitkan  dia terus menerus kepada Allah SWT. Ruhaniahnya senantiasa berhubungan dengan yang Sang Pencipta. Kecil kemungkinan dia melakukan maksiat dalam kondisi demikian. Rasulullah  SAW bersabda, “Puasa adalah benteng yang membentengi seseorang dari api neraka.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Berpuasa pun bisa membuatnya berada di puncak spritual. Dia akan cendrung bersikap dan berakhlak baik. Ia tidak ingin mengotori diri dengan perkataan-perkataan buruk. Akhlak ini muncul saat manusia dalam kondisi berpuasa.

Imam al- Ghazali dalam  “ Ihya Ulumudin” berkata, “  Tujuan puasa adalah agar kita berakhlak dengan akhlak Allah SWT dan meneladani perilaku malaikat  dalam hal menahan diri dari hawa nafsu, sesungguhnya malaikat bersih dari hawa nafsu.”

Bepuasa bisa meningkatkan ketakwaan seseorang . Takwa adalah melaksanakan perintah Allah SWT dan memenuhi apa yang dilarang-Nya. Dalam kondisi berpuasa orang selalu mendekatkan dirinya kepada Allah, sehingga dapat mencapai derajat Muttaqin lebih mudah.

Sayyit Quthb dalam Fi Zhilalil Qor’a menjelaskan makna QS al- Baqarah ayat `13. Tujuan utama puasa adalah takwa, yaitu takwa yang terbangun di dalam hati,  sehingga membuatnya mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban karena taat kepada Allah dan memilih keridaan-Nya. Takwa yang menjaga hati dari rusaknya puasa karena maksiat.

Lewat puasa Daud, seseorang juga akan mendapat pendidikan sabar. Puasa Daud membuat kita lebih bersih dalam emosi dan spiritual. Puasa sunah ini juga bisa disebut sebagai zakat jiwa.  Dalam salah satu hadis, Nabi SAW bersabda”Segala sesuatu itu ada zakatnya, sedangkan zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu adalah separuh dari kesabaran.” (HR Ibnu Majah).

Orang yang istiqamah dalam menjalankan puasa Daud pun mampu istiqamah dalam melaksanakan ajaran agamanya.  Dia sudah terbukti lulus dalam latihan berpuasa. Meski berat, dia menjalaani- nya degan keikhlasan. Dari istiqama ini, ia akan istiqamah termasuk dalam menjalankan  ibadahnya dengan konsisiten. Mualaqi dari ibadah ringan hingga berat. Orang yang istiqamah ini tidak akan merasakan keresahan dan kegelisahan di dalam hidupnya.

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah .’ Kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka , maka malaikat akan turun kepada  mereka yang mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan janah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” ( QS. Fusilat”30-32). [Dialog Republika]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT