Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengenal Alam Lain: Alam Mitsal

Jum'at, 01 Maret 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 329 Kali

“Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam maka niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.”

Dalam literatur tasauf dikenal beberapa jenis alam, yaitu Alam Syuhada, Alam Malakut, dan Alam Jabarut. Masing-masing alam itu mempunyai tingkatan. Sebagai contoh,  Alam Syahada (alam nyata atau fana’) dikenal dengan Alam syahada mutlak yang biasa distilakan benda mati, ada alam syahada cerdas ( al- hayawan al- Nathiq), seperti hewan dan manusia.

Demikian pula dalam alam Malakut dan alam Djabarut, masing-masing mempunyai jenjang tingkatan, sebagaimana difirmankan Allah dalam Alquran ini. Segala sesuatu mempunyai tingkatan. Khusus Alam Barzakh sering diterjemahkan sebagai Alam antara, yakni suatu tempat di antara Alam  Syahada dan alam-alam lain. Banyak  ayat dan hadis sering dihafal, tetapi masih tetap di lingkungan alam terdekat bagi manusia.

Di antara bisa dijadikan dasar untuk  menggambarkan alam Mitsal ialah suatu ketika Nabi bersama Abu Bakar melewati suatu pemakaman, tiba-tiba Nabi tersentak  dan berhenti di  salah sutu makam. Abu Bakar bertanya, kenapa kita harus berhenti di sini, wahai Rasulullah? Dijawab, apakah engkau tidak mendengarkan mayat ini merintih kesakitan disiksa lantaran tidak bersih ketika ia buang air. Abu Bakar sama sekali tidak mendengarkan suara itu. Nabi mengambil setangkai pohon, lalu ditancapkan di atas makam itu, kemudian Nabi menjelaskan , sepanjang tangkai ini masih segar, maka sepanjang itu akan diringankan siksaan orang di bawah makam ini.  

Dalam kesempatan lain, Ibnu Katsir dan beberapa kitab tafsir lainnya, menceritakan seseorang pemuda pedalaman (a’rabi) berjalan kaki tiga hari tiga malam untuk pergi menjumpai Nabi, lantaran dia telah melakukan dosa besar. Hari Senin ia meninggalkan desanya  dan baru sampai di  rumah Rasulullah hari Rabu. Ketika ia sampai di rumah Nabi yang sekaligus tergabung dengan masjid, ia menjumpai banyak orang sedang bersedih, lalu ia heran dan bertanya apa yang terjadi. Salah seorang sahabat menjelaskan, Nabi baru saja dimakamkan setelah ia wafat pada hari Senin, tiga hari lalu. Mendengar berita ini si pemuda ini menangis histeris dan tidak ada yang berhasil menghentikannya. Si pemuda itu menjelaskan kalau ia baru saja melakukan dosa besar, datang berjalan kaki dari jauh karena terdorong oleh satu ayat yang memberinya harapan.

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul,melainkan untuk ditaati  dengan izin Allah. Dan sungguh sekiranya mereka telah menzalimi dirinya sendiri datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapat Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa/4:60).

Si pemuda ini berharap Rasulullah mau memintakan maaf kepada Allah atas dosa besarnya sebagaimana isyarat ayat ini. Namun, Rasulullah sudah wafat. Inilah yang membuat si pemuda tersebut terus meratap.  Menjelang subuh penjaga makam Rasulullah didatangi oleh Rasulullah dan mengatakan, “ Pabasysyirhu annallaha qad gafara lahu.” (Gembirakanlah pemuda itu karena Allah sudah mengampuninya). Mendengar penjelasan itu pemuda itu langsung berhenti menangis. Karena ada hadis sahih yang mengatakan, barang siapa bermimpi melihat aku, maka akulah yang sesungguhnya dilihat. Satu-satunya wajah yang tidak bisa dipalsu oleh iblis hanya wajahku.

Pertanyaan di sini ialah, bagaimana Rasulullah bisa mendengarkan ratap tangis di kuburan, sementara orang lain tidak mendengarnya? Bagimana pula Nabi bisa memahami kalau ada pemuda meratapi dosa besar di dekat makamnya, dan Nabi bahkan menjamin kalau dosa pemuda itu sudah diampuni Allah? Kekuatan apa yang dimiliki Nabi sehingga bisa mendengarkan dan memahami sesuatu yang menurut orang lain itu wilayah alam gaib? Apakah  hanya Nabi yang dapat mengakses alam ghaib?

Dalam ilmu tasauf fenomena yang dialami Nabi dapat dijelaskan. Ketika seseorang mampu membuka tabir yang menghijab dirinya, bisa menembus masuk ke dalam suatu alam yang disebut dengan alam mitsal (istilah Ibnu ‘Sarabi) atau alam khayal (istilah al-Ghazali) yang diterjemahkan oleh Williqam C, Chittick dengan The Imaginal Worlds.

Alam Mitsal biasa disebut alam antara (barzakh) karena berada diantara alam Syahadah mutlak dfan alam gaib.  Ini menujukkan, alam barzakh bukan hanya alamnya orang yang sudah wafat, melainkan juga dapat diakses oleh orangt-orang yang masih hidup tetapi diberi kekuasaan oleh Allah SWT. Dengan kata lain,  tidak pasti harus menunggu kematian  untuk mengakses alam barzakh. Alam Mitsal adalah alam spiritual murni, tetapi masih bisa ditransformasi dengan alam syahada. Orang-orang  diberi kemmampuan memasuki alam ini memiliki kekhususan  untuk mengaktifkan idra-indra spiritualnya sehingga mereka  bisa berkomunikasi secara spiritual dengan alam-alam lain. Mereka bisa berkomunikasi secara  interaktif dengan arwah yang meninggal jauh sebelumnya. Mereka juga bisa berkomunikasi dengan malaikat dan jin.   Termasuk juga memilik kemampuan berkomunikasi  dengan benda-benda alam,  tumbuh-tumbuhan dan hewan.  Ingat tidak ada ‘benda mati’ dalam kamus Tuhan. Semua bisa bertasbih tetapi kita yang tidak mampu memahami tasbih mereka ( wa lakin la ta’ lamuna tasbihahum), kata Allah SWT.

Pengalaman ini banyak ditunjukkan di dalam Alquran dan hadis, seperti pristiwa Khaidir  yang diberi ilmu ladunni ( min ladunni’ilman) dalam surah Al Kahfi, sehingga mampu memahami masa depan  anak kecil yag dibunuhnya. Nabi Sulaiman berkomunikasi dengan malikat, jin, burung-burung, ikan, dan angin.  Nabi Muhammad SAW dalam beberapa hadis  dijelaskan berdialog  dengan binatang (unta dan kijang), berdialog dengan mimbar tua, dan berkomunikasi dengan para Nabi-nabi yang hidup jauh sebelumnya. Nabi secara intensif berkomuniklasi dengan Jibril dan Malaikat-malaikat lainnya.

Dalam ilmu literatur tasawuf , ternyata bukan hanya para Nabi  yang dapat mengakses alam barzakh dengan alam mitsalnya, tetapi para wali (auliya’)  dan orang-orang pilihan Tuhan  lainnya.  Dalam kitab ‘Jami Karamat al-Auliay’ karya Syekh Yusuf ibn Ismail al- Nabhani (2 jilid), ia mengungkapkan, tidakm kurang dari  695 nama yang memiliki kemampuan khusus untuk mengakses alam mitsal yang ditandai dengan kemampuan mereka melakukan sesuatu yang bisa disebut dengan ‘perbuatan luar biasa’ ( Kharig li al- adah) atau karamah. Ternyata banyak sekali di antara mereka yang dapat berkomunikasi  aktif dengan Rasulullah SAW, antara lain: Imam Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi, sebagaimana diuraiakan dalam artikel terdahulu.

Jika Allah SWT menghendaki , Ia akan memberi kemampuan kekasih-Nya untuk mengakses alam terjauh sekalipun, sebagimana dijelaskan dalam firman-Nya:

“(Diahlah)  Yang Maha Tinggi deretan-Nya, yang memiliki ‘Arasy yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat). QS. Al- Mu’min/40:15).

Alam Mitsal merupakan dambaan para pencari Tuhan (salik/murid). Namun, di sini perlu ditegaskan, jangan ada yang menjadikan alam mitsal sebagai tujuan. Mujahada dan ryadha semata-mata dilakukan untuk memohon ridho Allah SWT, bukan untuk mencapai karamah atau untuk mengakses alam Mitsal.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT