Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Memaknai Rukuk

Senin, 18 Februari 2019 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 286 Kali

Nabi SAW melarang membaca Alquran ketika Rukuk

Rukuk merupakan salah satu rukun dalam shalat. Rukuk yang memiliki akar kata ‘rakaah’ bernilai satu rakaat  dalam shalat. Seorang makmum  yang tertinggal dalam shalat  dan masih bisa mengejar hingga imam rukuk, dia tidak perlu mengulangi rakaat shalatnya.

Rukuk dillakukan seraya bertakbir  dengan mengangkat kedua  tangan sampai sejajar  dengan kedua pundak atau telinga.  Kepala diposisikan  sejajar dengan punggung  dan kedua tangan di kedua lutut  dengan jemari merenggang.

Dr Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qafthani dalam ensiklopedia Shalat menjelaskan, Rasulullah Saw diam sejenak setelah selesai membaca  ayat-ayat suci Alquran . Beliau diam dan menghela napas sehinga bacaan tidak bersambungan  dengan rukuk. Namun, diamnya Rasulullah SAW berbeda dengan saat diam sebelum  membaca Al-Fatihah . Ketika itu Nabi Saw membaca doa istiftah.

Posisi rukuk Nabi Saw benar-benar sempurna. Dari Wabishah bin Ma’bad RA, dia pernah menyaksikan  Rasulullah SAW  menegerjakan shalat. Jika rukuk dia meluruskan punggungnya  sehingga jika air dituangkan di atasnya akan tetap bertahan di atasnya karena sangat lurus.

Abu Hamid as-Sa’idi menjelaskan , dia berkata kepada beberapa orang  dari para sahabat Nabi. Dia melihat beliau jika bertakbir mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dengan  kedua pundaknya. Jika rukuk, dia menempatkan kedua tangannya di kedua lututnya  (dan merenggangkan jemarinya ) kemudian beliau  membungkukan punggungnya.

Dalam lafaz lainnya disebutkan , “Kemudian rukuk kemudian meletakkan  kedua tangannya di atas lututnya. Seakan-akan beliau menggenggam keduanya.  Kemudian beliau seperti busur panah. Lalu, kedua tangan itu merenggang  (menjauh) dari kedua lambungnya ( membentuk busur). “

Nabi SAW tumakninah dalam rukuknya . Ini berdasarkan pada ungkapan Hudzaifah kepada seseorang yang tidak sempurna dalam rukuk dan sujud . Dia berkata kepada orang itu. “ Kamu belum shalat. Jika kamu mati, kamu mati dalam keadaan tidak fitrah yang (padanya) Allah menciptakan Muhammad.”

Rukuk memiliki bacaan yang dicontohkan  Rasulullah SAW . Beberapa bacaan rukuk yakni “Subhaana Robbial ‘Azhimi.” (“Maha suci Rabbku Yang Maha Agung”). Selain itu Al Qahtani mengungkapkan, ada bacaan tambahan lain yang bisa dirapalkan seperti apa yang diriwayatkan Nabi SAW.

“Subhanakallahumma Robbanaa wa bihamdikallahummaghfirli,” artinya, “Maha suci Engkau, ya Allah, Rabb kami dan segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.”

 “ Subbhuhun quddusun robbul malaikati warruh,” artinya “Maha suci, Maha Kudus, Rabb para Malaikat dan ruh.”

 “Allahumma laka roka’tu  wabika amantu walaka aslamtu annta robbi khasya’a sam’i wa ba shari wa mukkhi wa ‘azmiwa ‘ashabi.” Artinya, “Ya Allah untuk-Mu aku rukuk, kepada-Mu   a ku beriman , kepada-Mu aku berserah diri, pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan uratku khusus (tunduk)  kepada-Mu.

Nabi SAW melarang membaca Alquran  ketika rukuk dan sujud. Nabi SAW bersabda, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku dilarang membaca Alquran pada saat sedang ruku dan sujud.  Adapun pada saat rukuk maka agungkanlah Rabb yang Mahaperkasa lagi Mahamulia. Sedangkan dalam sujud, bersungguh-sungguhlah dalam doa sehingga doa kalian layak untuk dikabulkan.”

Terkabulnya doa

Pendiri Quran and Sunnah Solution,  Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, frekuensi membaca bacaan dalam rukuk  sesungguhnya tidak dibatasi . Ketika rukuk seseorang bisa membaca sekali, dua kali, tiga kali, atau selebihnya.  Menurut dia, esensi bacaannya bukan beberapa kali kuantitas . Namun jumlah bilangan itu  menunjukkan penghayatan kita kepada makna kalimat yang kita bacakan.

Dia menjelaskan,  rukuk menjadi salah satu sarana ampuh untuk  berdoa kepada Allah SWT. Menurut dia, di dalam rukuk,  ada peluang besar terkabulnya doa seseorang Muslim. Dia pun menyitir  salah satu ayat dalam Alquran. “...Kamu lihat dia rukuk dan sujud mencari  Fadhilah  Allah dan ridhwan-Nya...” (QS al- Fath :29).

Fadhilah merupakan salah satu keutamaan khususnya  dalam urusan dunia. Doa-doa untuk meraih keutamaan  tersebut bisa dihajatkan ketika rukuk. Doa diucapkan dalam hati  dengan keyakinan tanpa keraguan. Tak hanya itu, doa ini pun bersifat paling utama. Artinya, nomor satu  dalam urusan dunia. Namun, kita semestinya cerdas dalam memaknai keutamaan ini.  Artinya, keutamaan tersebut melihat apa yang kita butuhkan dan benar-benar cocok  dengan diri kita.  Bukan semata-mata keinginnan.

Bagaimana dengan Ridhwan?  Ustadz Adi menjelaskan, ridhwan bermakna  semua aktivitas  yang sudah diridhai  Allah. Ketika sudah mendapat ridha Allah, maka sudah bernilai ibadah. Menurut uztaz Adi, jika Allah sudah ridha , artinya sudah ada pahalanya. Dia mencontohkan para sahabat, para sahabat Nabi SAW yang disebutkan Allah sebagai Radhiyallahuanhum  waradhuanhu atau ridha Allah untuk mereka dan mereka pun  ridha kepada-Nya (QS. Al-Bayyina:8).  Semua aktivitas mereka dijaga  sehinggga selalu menjadi ibadah, Karena itu, Ustaz Adi menjelaskan, ridhwan  bermakna sebagai keutamaan atau kemuliaan akhirat.  Ketika Fadhlan dan Ridhwan disandingkan, dimohonkan dan Insya Allah  dikabulkan, maka akan lahir hamba  yang utama  baik dari sisi dunia dan akhirat. Wallahualam. [Republika]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT