Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Mengamati Bakat Anak: JANGAN MUDAH TERTIPU MINAT SESAAT

Jum'at, 14 Desember 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 138 Kali

Gara-gara melihat si Balita mulai rajin mmenegetuk-ngetuk tuts piano, kita langsung menilai ia berbakat seperti Joey Alexander. Eh, enam bulan kemudian, kok malah ia ingin jadi chef seperti ayahnya?

Saski, bangga banget ketika Deon, anak lelakinya berusia 3 tahun,  menjadi murid termuda di tempat kursus matematika. “Gara-gara sering ikut antar kakaknya kursus, Deon rupanya tertarik. Dia juga mau ikut kursus kayak kakanya.  Pas dicoba, eh, dia bisa. Ya udah aku daftarin deh, “ cerita Saski.

Bukan kebetulan, saat mulai belajar bicara, Saski sudah mengenalkan  angka dan huruf pada Deon.  Dan memang anak mampu belajar dengan cepat.

Namun, apa yang terjadi? Belum juga genap dua bulan kursus Deon sudah menolak pergi kursus. Berawal dari menolak mengerjakan PR hingga akhirnya tidak mau ikut kursus lagi.  Bahaan ikut Bunda mengantar si kakak pun, Deon enggan. Waduh!

Saski, sang ibu, jelas jadi sedih. Tapi tak perlulah bingung. Karena “Biasanya memang akan terjadi anak bosan mengerjakan hal yang sama secara berulang, “ ujar psikolog Irma Gustiana. Apalagi jika si anak sesungguhnya tidak berminat—yang seringkali kita artikan tidak berbakat—ditambah lagi pada usia balita anak relatif memang gampang bosan.

Nah, sebagai orangtua, bagaimana menyikapi soal ini?

 

Amati Perilaku Anak Sehari-hari

Paling mudah, jangan buru-buru memutuskan si kecil berbakat akan sesuatu atau sebaliknya. Karena usia 1-12 tahun adalah masa untuk anak mengeksplorasi minat dan bakatnya.  Oleh katrena itu, belum dapat dipastikan bahwa di usia balita, anak memang berbakat dan berminat pada suatu bidang tertentu.

“Di usia balita anak masih banyak di[pengaruhi oleh mood atau suasana hati, juga situasi  dari orangtua yang mengasuhnya,” Jelas psikolog yang biasa dipanggil Ayank ini.

Namun, bukan berarti di usia balita minat dan bakat anak belum dapat terlihat, lho.  Hal tersebut bisa diamati periaku anak sehari-hari. Bisajadi beberapa aktivitas yang dilakukannya merupakan bibit dari minat dan bakatnya.

Misalnya nih, jika ia senang menggerakkan tubuhnya, mungkin saja dia berbakat secara klinestik. Akan tetapi jangan langsung diikut sertakan pada aktivitas les. Perhatiakan saja dulu.

Nanti, kalau anak sudah usia sekolah dasar, barulah kita bisa mengarahkannya kepada hal yang mereka senangi. Di usia tersebut,menurut Ayank, anak sudah paham mengenai masalah komitmen dan tanggung jawab.

Selain mengamati prilaku anak sehari-hari, anda juga menggali minat dan bakat anak dari silsilah keluarga. Dimulai dari Anda dan suami.

“Jika sudah memiliki informasdi mengenai bakat yang diturunkan keluarga,  maka orangtua akan lebih mudah untuk memetakan bakat anak. Misalnya, ayah yang senang menggambar atau ibu yang senang bermain musik.”

Ya, dalam menggali minat dan bakat anak memang diperlukan keterlibatan dari orangtua. Yang paling utama, perhatian dan umpan balik dari orangtua.  Misal, ketika kita mendapati si kecil menari-nari saat mendengar musik, orangtua dapat memberikan penghargaan berupa pesan positif. Selanjutnya kita bisa memberikan arahan berupa contoh gerakan yang sederhana yang mamapu ditiru oleh anak.

Lantas, bagaimana cara kita meyakini bahwa sikecil memang berbakat pada suatu bidang tertentu?

 

Berikan Kesempatan Berkembang

Ada beberapa ciri yang bisa dijadikan patokan. Seperti si kecil terlihat intens melakukan dan mengeksploitasi apa yang dia sukai. Selain itu terlihat kemampuannya dalam bidang tersebut lebih baik jika dibandingkan anak lain seusianya. Dia juga cendrung tidak mudah bosan saat melakukan  apa yang disukainya dan mencoba untuk menyelesaikan tantangan yang dihadapinya terkait hal yang ia sukai tersebut.

Selanjutnya, kalau kita sudah yakin anak memiliki minat dan bakat pada suatu bidang tertentu, yang perlu kita lakukan adalah mengembangkannya.

“Kita bisa mengikut sertakan anak apada kegiatan nonformal, seperti ekskul atau kursus terkait dengan apa yang disukai anak. Memberika dia kesempatan eksplorasi lebih mendalam. Juga, mendorong dan meyakinkan  anak bahwa dia mampu mengembangkan kemampuannya tersebut, “ papar Ayank.

Selain itu beri kesempatan pada anak untuk mengikuti kompetiisi atau tampill di depan umum. Kedua hal tersebut mampu membuat anak belajar mengenai sportivitas, mengembangkan keterampilan sosialnya dan belajar menghadapi rasa takut.

Dengan catatan ini, orantua harus paham bahwa tujuan utamanya anak ikut lomba bukanlah untuk jadi pemenang. Akan tetapi memberi kesempatan pada anak untuk berkembang.

Teraklhir, penting pula dilakukan  refleksi dengan bertanya pada anak menegnai perasaannya saat mengikuti kegiatan yang sedang dia tekuni.  Begitu pula menggali kendala yang dia temui, agar kita bisa bersamanya mencari solusinya.

Oh ya, kita juga jangan lupa selalu mencamkan diri atas salah satu ucapan Thomas Alvs Edison yang terkenal: “Anak pintar atau jenius itu hanya dibangun dari 1%  bakat, 99%-nya adalah kerja keras.”

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT