Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Perempuan yang Diharamkan Mencium Bau Surga

Jum'at, 14 Desember 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 123 Kali

Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dan suci. Allah SWT mengibaratkan pernikahan dengan mitsaqan ghalizan (perjanjian yang kuat). Di dalam Alquran mitsaqan ghalizhan merupakan frase yang hanya dapat digunakan tiga kali. Pertama,  saat Allah SWT mengadakan perjanjian suci dan kuat dengan Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa untuk menyampaikan agamanya kepada uimatnya.

            Di dalam Alquran Allah SWT berfirman, “Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (Qs. al-Ahzab:7)

            Kedua, perjanjian ini juga digunakan Allah SWT saat mengadakan perjanjian dengan Bani Israil, seperti yang tertulis dalam Alquran, “Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian yang telah Kami ambil dari mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, ‘Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud, ‘ dan Kami perintahkan( pula) kepada mereka, ‘Jangan kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, ‘ dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.” (QS an-Nisa 154)

            Ketiga, perjanjian digunakan untuk membicarakan tentang masalah pernikahan seperti yang dijelaskan dalam surah an-Nisa ayat 21, “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali,  padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

            Karena perjanjian pernikahan termasuk sebagai pertjanjian yang kuat dan kokoh, tak heran jika membatalkan perjanjian dengan cara talak menjadi perbuatan yang sangat dibenci Allah SWT,  sebagimana yang dikatakan Rasulullah, “Perbuatan halal yang sangat dibenci oleh Allah adalah talak (perceraian).” ( HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim).

            Dalam Islam terdapat dua bentuk hukum dari perceraian, yaitu boleh dan haram. Diperbolehkannya mengucap talak adalah disaat kedua belah pihak (istri dan suami)  memandang bahwa penceraian merupakan cara terbaik  untuk mengakhiri permasalahan rumah tangganya.

            Hal ini berdasarkan kepada kisah Jamilah, istri Tsabit bin Qais yang mengadukan permasalahan rumah tangganya kepada Rasulullah SAW. Jamilah berkata, “Wahai Rasulullah,  saya tidak meragukan suamiku., baik di dalam masalah agama maupun akhlaknya. Namun, saya sangat menyayangkan ia berlaku kufur sesudah memeluk Islam.

            Mendengar keluhan Jamilah tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kamu mengembalikan pemberiannya (kebun)  sebagi maharmu dulu kepadanya?” Lalu, Jamilah menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”  Kemudian Rasul pun memanggil Tsabit dan memberikan kebun tersebut. Setelah itu Rasul meminta Tsabit untuk menceraikan istrinya, Jamilah. “ (HR Bukhari)

            Namun,  bila penceraian didasari karena istri atau suami tertarik dengan orang lain, lalu ingin menceraikan pasangannya, padahal dia tidak memiliki kekurangan apa pun, maka ini termasuk jenis penceraian yang dipaksakan dan hukumnya haram.

            Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah, “Wahai yang meminta cerai suaminya tanpa ada sebab (kesalahan) apa pun, maka akan diharamkan baginya bau surga.”  ( HR Abu Dawud) [Dean Alvi Soraya]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT