Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Menyelami Hakikat Shalat

Jum'at, 14 Desember 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 208 Kali

Rasulullah SAW bersabda, “Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba kelak pada hari kiamat adalah shalatnya. Abila shalatnya lurus, maka lurus pulalah amal ibadah yang lainnya; manakala shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalannya.”

Hadis yang diriwiyatkan oleh Thabrani tersebut memberikan pengertian bahwa shalat yang berharga dan bermartabat, yang bisa menjamin lulusnya amal ibadah yang lain, bukan shalat yang sembarangan, namun shalat yang benar-benar memenuhi syarat dan rukunnya, di samping “batinnya.”
Ada sebuah hadis yang memberikan isyarat, shalat yang dilandasi oleh batin yang dipenuhi pancaran cahaya imanlah yang dapat membeningkan diri kita dari segenap kekotoran penyakit hati. Shalat demikian laksana air yang menyapu membersihkan beragam genangan najis.
Bagaimana pertimbangan kamu sekalian, andai di depan rumahmu ada sebuah sungai dan kamu semua mandi limakali sehari, adakah kira-kira dedak atau debu yang menempel?” Tanya Nabi SAW suatu ketika. Para sahabat menjawab, “Tidak akan ada sedikit pun, ya Rasulullah.” “Begitu pula shalat lima waktu . Tuhan akan membersihkan dengannya dosa-dosa kalian semua.” (Bkhari Muslim).
Al-Thabathaba’i dalam karya Magnun Opus- nya, Al Mizan fi Tafsir al –Q!uran (jilid II, hal 126) mengatakan, mendirikan shalat (iqamat al-shalat tidak lain adalah proses intens dan terus menerus dari seorang mushalli ( orang yang shalat) untuk mempertautkan demensi dzikir’ilmi dan dzikr’amali ( sebagimana tercantum dalam amanat shalat), agar tidak pernah lupa (nisyan) dan terlena ( (ghaflah) oleh gemilang kehidupan material duniawi yang serba sementarai ini. Atau, dengan kata lain, al- abudiyah ma’ Allah yang melekat dalam ajaran shalat, betul-betul menjadi tiang (‘imad) dalam segenap aktivitas khalifah kehambaan kita, sehingga pada gilirannya abshar ( mata lahir) dan qulub (mata batin) kita tersucikan.

Sesungguhnya bahagialah orang yang suci, yang menyebut nama Tuhannya serta melakukan shalat.”
(QS. Al-A’la: 14-15)

Hakikat shalat juga merupakan simbul garis pemisah yang membedakan karaktristik seseorang. Muslim bisa ditanggarai sebagai sosok yang tidak pernah alpa mendirikan shalat. Kafir kebalikannya, tidak pernah mendirikan shalat. Sementara munafik adalah mereka yang “bolong-bolong” shalatnya, sebagimana ditegaskan dalam firman-Nya (QS. al- Ma’un:4-6), Maka celakalah (azablah) bagi orang-orang yang shalat. Yang mereka itu lalai dari shalatnya, lagi riya.”
Di samping itu ayat di atas semakin me­pertegas keniscayaan mengerjakan shalat dengan memenuhi ilmunya dan memantulkan bekasnya (atsar) dalam kehidupan, baik sebagai pribadi maupun warga negara. Atsar itu berwujud tanggung jawab moral dan kepekaan sosial si mushalli, untuk selalu menebarkan rahmat bagi sekelilingnya (rahmatan li al-‘alamin), demi terciptanya tata lingkungan yang egaliter-berkeadailan, “Sesungguhnya shalat itu mencagah kejahatan dan kemungkaran.“ (QS. al-Ankabut: 45)
Ternyata, keberadaan shalat tidak hanya memberikan imbalan magfirah bagi dirinya dan rahmat bagi manusia lain, tetapi juga bisa mewariskan ‘iqabah (siksa) berupa neraka Wail, “Imbalan” kedua ini dioperuntukkan bagi mareka yang hanya memenuhi panggilan shalat dengan mengedepankan aspek lahir (riya’) dan lalai/sahun), tanpa pernah menyelami dasar samudra hakikat shalat.
Di sini kita bisa melihat yang bisa membentuk pribadi-pribadi susila, berakhlak mulia, berbudi luhur, adalah shalat hakiki. Jantungnya adalah khusuk, “Sifat nifak (munafik) ada pada mereka yang tidak khususk jasadnya (lidahnya membaca) sementara hatinya berseberangan dengan apa yang ia baca,” demikian sabda Nabi SAW sebagaimana dicatat dalam Al-Kahfi, dengan sanad dari Masma’ ibn Abd al-Malik dari Abi Abdilah.
Shalat dari orang-orang khusuk inilah yang dijanjikan Tuhan akan mendapatkan kebahagiaan (al-falah).: “Sesungguhnya kebahgiaan diperuntukkan bagi orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusuk dalam shalatnya.” {QS. al- Mu’min:1-2)
Al-Thabathabha’I memberikan penjelasan (Al Mizan fi Tafsir al-Quran, jilid xv, hal 6) Kebahagian itu mencakup di dunia berupa kekekalan (al- buqa), Kekayaan (al-ghina), serta kemuliaan (al-izz), dan kebahgiaan di akhirat dalam wujud kekekalan yang tak pernah hancur (al-baqa ‘bila fana’), kekayaan tanpa pernah fakir (al- baqa’bila faqr), kemuliaan tanpa pernah terhinakan (al- izz bila’ dzil) ditambah penegetahuan tanpa kebodohan (al- ilm bila jahl).
Semua anugrah cahaya kebahagiaan itu, sekali lagi, bisa direngkuh manakala kita mendirikan shalat secara hakiki. “Inna li kulli haq haqiqah wa li kulliu shawab nur, setiap yang hak adalah hakikatnya, sebagaimana kebenaran menyimpan seber­kas cahaya.” Demikian sabda Nabi SAW. Mudah-mudahan kita bisa menggapain. [Asep SAlahudin]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT