Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

40 Juta Balita Indonesia Perokok Pasif

Jum'at, 23 Nopember 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 16 Kali

Bisa dipastikan, merokok memicu penyakit kardiovaskular yang termasuk “5 Penyakit Pembunuh”saat ini. Lebih lagi jika sang perokok itu perempuan.

Berhenti merokok atau membuat si kecil menderita?
Buat yang masih merokok, masihkah ini pilihan yang sulit? Haruskah tidak?
Karena perempuan maupun laki-laki punya potensi sama besar untuk terkena penyakit kardiovaskular—yang salah satu penyebabnya adalah karena merokok.
Dulu, menurut dr. Ade Meidian Ambari ada anggapan kalau perempuan masih mensurasi, maka dia masih memperoduksi hormon estrogen yang bisa mengamankannya dari terkena serangan jantung. Namun, sekarang belum tentu. Banyak perempuan usia muda yang juga bisa terkena serangan jantung atau penyakit jantung koroner.
“Pada perempuan prevalensinya memang masih sedikit, tetapi ada kecendrungan tren itu berubah. Bahkan sekarang ada anekdot, Kalau kamu mau kurus kamu merokok, kalau berhenti kamu nanti jadi gemuk. Ternyata tidak benar. Resiko perempuan sama pria untuk penyakit koroner sama,”jelas Ade Meidian yang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dari rumah sakit jantung Harapan Kita.
Dan celakanya lagi, tak sedikit di saat mengandung pun, perempuan masih saja merokok. Sudah begini, apa yang akan terjadi pada sang buah hati di dalam kandungan?
Kejadian yang paling sering terjadi, sang bayi lahir dengan prematur. Karena bayi lahir tidak pada waktunya—kurang bulan—maka berat badannya menjadi kurang, sehingga bayi pun lemah. Hal tersebut bisa membuat ukuran bayi lebih kecil daripada ukuran bayi pada umumnya. Bahayanya ketika ia sudah dewasa, ia akan lebih mudah terpapar penyakit paru-paru, seperti asma.
“Jika ibunya perokok tidak terlalu aktif, bisa saja bayinya lahir normal, tapi paparan asap rokok itu racunnya kan banyak, bahaya, apalagi anak-anak usianya msih muda, jadi lebih rentan, “ujar Ade.
Tambahan lagi, anak yang terlahir dari bu perokok, otomatis akan menjadi peroko pasif. Dampak lainnya, sang anak pun dapatr menjadi perokok aktif, karena melihat ibunya.
Hal tersebut selaras dengan data WHO tahun 2015, lebih dari sepertiga anak laki-laki uasia 13-15 tahun di Indonesia saat ini mengonsumsi produk tembakau, lebih dari 3,9 juta anak –antara usia 10-14 tahun menjadi perokok setiap tahunnya. Setidaknya 239.000 anak di bawah umur 10 tahun sudah mulai merokok. Celakanya lagi, lebih dari 40 juta anak di bawah 5 tahun menjadi perokok pasif.
Niat dan kurangi perlahan
Jika sudah tahu sebesar itu bahayanya, Anda pasti tidak mau kan, jika hidup sang buah hati terancam?
Berusahalah menghindari bahaya penyakit kardiovaskular untuk diri sendiri dan buah hati dengan berhenti merokok. Agar kita lebih terbantu, ikuti tips dari dr Ade berikut ini.
Niat kuat
Kita harus punya niat yang kuat untuk meniadakan aktivitas buruk ini. Karena bukan perkara mudah mengubah kebiasaan, terutama untuk yang merasakan sakitnya.
Kurangi secara perlahan
Kalau tak mampu langsung berhenti, kurangi perlahan. Memang, jika langsung berhenti, selama dua minggu di awal akan terasa seperti orang gila. Namun, jika dikurangi perlahan., harus ada targetnya sampai akhirnya kita berhenti.
Minta bantuan orang lain
Ada dua acara untuk berhenti merokok, dengan bantuan obat atau dengan konseling. Konseling disediakan di klinik berhenti merokok.Konselor akan memberikan pendampingan untuk berhenti dan hal ini bersaifat kontinyu.
Hal lain yang tak kalah penting, kita harus mencari dukungan. Kita akan menjadi lebih kuat dan konsisten ketika keluarga dan orang-orang yang kita sayang mendukung keputusan kita untuk berhenti merokok.
Selesai membaca artikel ini, langsung katakan “Selamat tinggal rokok!” [sumber: Dr. Ade Meidian Ambari]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT