Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

IBN Taimiyah (1263-1328 M)

Jum'at, 23 Nopember 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 22 Kali

Ibn Taimiyah adalah ahli fikih mazhab Hambali. Pemikirannya sangat besar terhadap gerakan Wahabi, dakwah gerakan Sanusi, dan kelompok-kelompok agama yang ekstrim yang ada di dunia Islam saat ini.
Dia dalah contoh hidup untuk men­jelaskan pengaruh negara dan masyarakat. Ketika terjadi bencana yang ditimbulkan oleh Moghul, dia sedang berada di Damas­kus. Dia berbicara kepada manusia tentang pentingnya perjuangan. Ucapannya membekas dalam jiwa para pemimpin dan sultan. Setelah tentara Moghul menyingkir dari Damaskus, di bawah pimpinan Qazan, Ibn Taimiyah dan pengikutnya berkeliling toko-toko minuman keras dan memecahkan botol-botolnya. Dia menyerang dengan pena dan lidahnya, semua kelompok Islam, seperti Khawarij, Syi’a, Muriyah, Rafidhah, Qadariyah, Asy’ariyah, Jahmiyah, dan lain-lain.
Adalah amalia jika kekerasannya ter­hadap musuh-musuhnya mendatangkan reaksi yang keras juga. Ada orang yang menuduhnya zindik, seperti Ibn Bathuthah, Ibn Hajar al-Haytami, Taqiyuddin al-Subki, Izzuddin bin Jamaa’ah, Abu Hayyan al- Zhahiri al-Andulusi. Di antara mereka ada juga yang meminta untuk mengenakan sangsi kepadanya. Usulan itu mendapat sambutan. Beberapa tahun lamanya dia menjalani hidup dalam beberapa penjara di Mesir dan Damaskus. Dia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam sebuah benteng di Damaskus hiingga meninggal dunia.
Ibn Taimiyah meninggalkan karya tulis yang sangat banyak kepada kita. Dalam tulisannya dia sering menyerang kelompok sufi yang meyakini inkarnasi dan penyatuan wujud manusia dengan Tuhan.
Menurutnya, hal itu termasuk syirikk terhadap Allah SWT. Dia juga menyerang para fukaha karena keterikatan mereka dengan Imam Ahlusunnah yang empat ketika mereka membahas persolan-persoalan syariah. Ibn Taimiyah menghen­daki munculnya pandangan baru. Menurut­nya, adalah tidak termasuk zindik apabila seseorang mengeluarkan pendapat yang berbeda dengan konsensus para ulama. Dia memerangi orang-orang yang dianggap melakukan bid’ah yang menundukkan diri kepada wali, dan menziarahi kubur. Bahkan dia menganggap maksiat apabila seorang Muslim berpergian dengan niat menziarahi kuburan Nabi saja. Dia sangat berlebihan ketika berpendapat bahwa Allah memiliki jasad seperti manusia ketika menafsirkan ayat dan hadis berkaitan dengan Allah. Dia mengikuti bentuk lahiriah hafal ayat atau hadis tersebut. Di atas mimbar dia pernah berkata di mesjid Damaskus, “Allah turun ke langit bumi, seperti turunnya saya ini.”
Dia sangat keras terhadap orang-orang yang menentang pikirannya, dan sangat ketat melaksanakan al-amr bi al-ma’ruf wa al-munkar. Dia memikul sendiri tugas mengawasi manusia, besar maupun kecil, agar mereka selalu menjaga adab sopan santunn Islam dalam prilaku mereka. Dia mengangkat dirinya sendiri sebagai pengawas yang berkeliling pasar, mendidik manusia.
Umatnya Islam, menurutnya, hanya satu umat; tidak ada umat lain. Umat ialah sebuah wadah anggota yang memiliki tujuan yang telah ditetapkan oleh Alquran dan hadis, yaitu mewujudkan kehendak Allah SWT. Anggota umat harus bekerjasama dengan yang lainnya untuk melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan. Mereka harus menjadikan kerjasama sebagai dasar bagi perbuatan yang dilakukan bersama-sama.
Agar tujuan itu tercapai, haruslah didirikan sebuah kedaulatan negara agama yang adil yang bertugas menegakkan kebenaran dan memastikan bahwa manusia telah melaksanakan kewajiban-kewajiban agama mereka, hidup bermasyarakat dengan baik, serta menjaga agar penguasa tidak melakukan penipuan dan korupsi. Ibn Taimiayah tidak senang terhadap liberlisme dalam ekonomi, karena individu bukanlah penguasa mutlak atas semua perbuatannya; karenanya semua perbuatannya harus tunduk kepada ajaran Islam. Disamping itu negara harus mengawasi betul pembelanjaan harta menurut ajaran tersebut.
Ibn Taimiayah juga berpendapat bahwa perjuangan merupakan salah satu kewajiban, sampai pun terhadap Moghol Muslim yang meniadakan ajaran agama dan para pendukung Moghul dan kalangan Syi’a. Ibn Taimiayah pernah memerangi Moghul di Syam dan mengirimkan pasukan perang untuk melawan kelompok Syi’ah yang menduduki gunung Syria dan Libanon. Karena itu peperangan tidak hanya diwajibkan untuk melawan pasukan bukan Muslim, tetapi juga untuk melawan kaum Muslim yang memberontak.
Menurutnya, ketika Islam datang menggantikan kedudukan agama Yahudi dan Nasrani , hukum perang terhadap dua agama ini adalah sangat dianjurkan. Dia menulis beberapa risalah tentang memerangi orang Yahudi dan Nasrani, menentang tentang pelestarian tempat peribadatan dan gereja-gereja yang masih berdiri, serta melarang pembangunan tempat peribadatan baru untuk mereka.
Filsafat, menurut Ibn Taimiyah, bisa menyebabkan kekafiran. Karena itu, dia sangat bersemangat memerangi filsfat Yunani dan orang-oreang Muslim yang terpengaruh oleh filsafat tersebut; seperti Ibn Sina dan Ibn Sab’in. Dia juga menyerang al-Ghazali dan mengecam pendapat-pendapatnya yang terdapat dalam bukunya, Ihya ‘Ulum al-Din dan Munqidz min al-Dhalal. Dia juga menyerang Muhydddin Ibn Arabi dan Ibn al-Faridh. Dalam khotbahnya di mesjid-mesjid, dia membeberkan kesalahan-kesalahan Umar bin Khatab, Ali bin Thalib, dan lain-lain.
Meskupun demikian. Ibn Taimiyah masih digolongkan sebagai ujung tombak para pembaharu pada zaman Mamluk dan termasauk salah seorang ahli fikih yang paling semangat, paling lantang, paling dalam pikirannya, dan gaya ungkap bahasanya sangat baik. Banyak pula para tokoh yang terpengaruh oleh keperibadian Ibn Taimiyah, seperti Ibn Qayyi’n al- Jawziyyah, al-Dzhahabi, Ibn Katsir, Ibn Hajaral- Asqalani, Muhammad bin Abd Wahab, Muhammad bin Ali al-Sanusi, Sayid Rasdyid Ridha, dan Hasan al-Banna. Sedangkan orang-orang awam sangat mengagungkan dirinya karena prilaku, dan sangat fanatik memegang teguh agamanya. Tidak kurang dari duaratus ribu orang mengantar jenazahnya yang dikubur di Damaskus. Selain itu, diantarkan pula oleh limabelas ribu perempuan.[sumber Ensiklopedia Islam]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT