Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

SAMPAH ANTARIKSA KIAN MENUMPUK !

Jum'at, 18 Nopember 2016 ~ Oleh operator2 ~ Dilihat 579 Kali

Satelit Tiongkok Tiangong I (Istana Surgawi) dalam keadaan terbakar, diperkirakan akan jatuh ke bumi pada tahun 2017. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan segera mempelajari orbitnya karena Indonesia termasuk negara yang berada dalam lintasan satelit tersebut. Lebih dari itu, terdapat lebih kurang 17.000 sampah antariksa yang melayang berputar-putar mengelilingi bumi.

Sampah antariksa adalah benda buatan yang mengintari bumi selain satelit yang berfungsi. Sampah ini bisa berupa bekas roket (rocket bodies), sepihan ( debris) dan lain-lain.

Sejak awal peluncuran satelit tahun 1957, hampir setiap hari satu sampah antariksa jatuh ke bumi. Namun, ada yang terpantau dan tidak.  Kebanyakan sampah ini berupa pecahan roket atau satelit yang habis terbakar di atmosfer. Hanya sepertiga dari 20 ribuan sampah yang jatuh berukuran cukup besar sehingga mampu bertahan sampai ke permukaan bumi. Benda-benda tersebut umumnya jatuh di daerah tak berpenduduk sehingga tidak membahayakan.

Data yang terdapat di Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) Lapan Bandung menunjukkan, sudah empat kejadian sampah antariksa jatuh di Indonesia.  Sampah antariksa pertama berupa pecahan roket Rusia yang jatuh di Gorontolo tahun 1981. Sampah antariksa kedua salah satu bagian roket Sayuz A-2m Space Louncer 4, milik Rusia dan jatuh di Lampung  pada 16 April 1988. Benda ini menurut Kepala Lapan Bandung, Thomas Djamaluddin berfungsi sebagai peluncur satelit Cosmos 1938 yang dikenal juga sebagai satelit mata-mata militer.

Sampah antariksa ketiga yang jatuh di Indonesia adalah pecahan roket CZ-3 (satelit komunikasi DHF-3) milik Tiongkok. Sampah ini jatuh di kebun karet Desa Bukit Harapan V, Kecamatan Ketaun, Kabupaten Bengkulu Utara  pada 14 Oktober 2003.Sampah antariksa terakhir dan terbesar dan terberat adalah pecahan roket Falcon 9 milik Space X , Amerika Serikat yang jatuh di Sumenep, Madura 26 September 2016.  Sampah antariksa ini berupa tiga tabung yang dalam istilah teknis keantariksaan disebut composite overwrapped pressure vessel, dengan bobot 80-100 kg.  Selain itu ada juga benda mirip kontrol panel kelistrikan dengan bobot 5 kg.

Menurut peneliti Lapan Rhorom Priyatikanto, ketiga tabung tersebut dalam keadaan kosong. Fungsinya adalah untuk menampung heliun. Helium itu berfungsi mengatur tekanan oksigen cair yang ada dalam roket Falcon 9 tersebut. ”Kalau kita perhatikan benda yang mirip panel kelistrikan itu, memang sistem kontrol yang ada dalam roket tersebut,“ imbuhnya.

Sebetulnya, banyak sampah antariksa yang jatuh di Indonesia, tetapi ukurannya relatif kecil dan sulit terindentifikasi.

Bersamaan dengan jatuhnya pecahan roket Falcon 9 di Sumenep Madura pun, kata Thomas, masyarakat sekitar melihat adanya benda jatuh di laut. Namun benda tersebut tidak muncul kembali di permukaan air luat. Diperkirakan benda tersebut bagian dari pecahan sampah Falcon 9.

 

Merugikan

 Benda antariksa adalah benda dari luar angkasa yang memasuki atmosfer bumi hingga ketinggian kurang dari 120 km.  benda ini adalah yang terbakar habis di atmosfer akibat gesekannya dan ada juga yang sampai ke permukaan bumi.

Menurut Rhorom, awalnya benda jatuh antariksa hanya benda-benda alam seperti meteorit , tetapi sejak dilakukannya peluncuran roket, benda jatuh antariksa  dapat juga berupa benda buatan. Benda buatan yang jatuh ke bumi adalah bagian dari sampah antariksa karena tidak memiliki fungsi lagi. Sampah itu dapat berupa roket pendorong satelit yang sudah tidak terpakai atau satelit yang sudah habis masa orbitnya.

Sampah satelit jumlahnya makin banyak. Menurut Rhorom, jumlah sampah antariksa mencapai lebih kurang 17.000. Sampah-sampah itu bertebaran dan berputar-putar mengelilingi bumi, seperti satelit UARS (Upper Atmosphere Research Satellite) yang diluncurkan pada 12 September 1991. Setelah hampir enam tahun satelit ini mengembara sebagai sampah antariksa, dengan hambatan atmosfer yang semakin rendah dan semakin padat, UARS akhirnya jatuh ke bumi.Sampah antariksa sudah menjadi isu internasional. Meskipun tidak berbahaya langsung terhadap bumi, sampah antariksa dapat merugikan teknologi dan kehidupan manusia. Muncul kekhawatiran semua bangsa-bangsa  di dunia sampai antariksa akan terus bertambah dan mengganggu peluncuran satelit baru. Tabrakan setelit dan penembakan satelit menjadi pemasalahan internasional terkait sampah antariksa.

Menurut Rhorhom, Komite PBB telah membahas tentang Peaceful Uses of Outer Space. Pada tahun 2007 secara resmi keluarSpace Debris Mirigation Guidelines dan disebutkan beberapa pokok yang harus diperhatikan oleh negara-negara untuk mengatasi bertambahnya sampah antariksa. Termasuk kejadian-kejadian istimewa atau tidak normal seperti menembak satelit.” Itu yang menjadi konsen bagi negara-negara yang tergabung dalam PBB,“ ujarnya.

Di dalam  negeri, Indonesia sudah mengesahkan Undang-undang no 21 taun 2013 tentang Keantariksaan Dalam Bab 7,  Pasal 58-59, dijelaskan tentang benda jatuh antariksa. Dalam pasal 59 ayat (1), dijelaskan benda jatuh antariksa terdiri atas alami dan tidak alami, ayat(2),  benda jatuh antariksa bisa terdeteksi dan tidak terdeteksi. Benda jatuh ini wajib diindentifikasi dan yang memiliki kewajiban menindentifikasi adalah Lapan. “Kalaupun benda jatuh antariksa  tersebut milik pihak asing, maka harus diindentifikasi sesuai prosedur dan harus dikembalikan ke negara asal benda asing tersebut,” ujarnya.

Bahaya lain dari sampah antariksa adalah pada saat sampah antariksa tersebut jatuh di bumi.  Bahaya dapat terjadi karena material maupun bobotnya. Material sampah angkasa bermacam-macam, sebagian besar berupa logam yang menjadi bahan-bahan penyusun satelit atau roket seperti aluminium, polimer, kompenen pecahan satelit, kabel-kabel dan lain-lain.

Roket-roket yang dibuat sebelum era 1990-an,  menurut Rhorom masih menggunakan bahan-bahan berbahaya seperti uranium dan nuklir. Tetapi roket-roket yang dibuat pasca 1990 an, sudah tidak menggunakan bahan bakar yang membahayakan. “Tetapi tetap harus waspada karena masih banyak sampah antariksa sekitar orbit bumi, “ imbuhnya.

 Jatuhnya sampah antariksa ke bumi sulit diprediksi, karena kecepatannya sangat tinggi 8 km/detik. Beberapa negara pemilik sampah antariksa bisanya memberi peringatan  dahulu ke negara-negara yang dilintasi sampah antariksa. Bila terjadi dampak dari jatuhnya sampah antariksa, hal itu akan menjadi tanggung jawab negara asal sampah antariksa tersebut.

 

(Eriyanti Nurmala Dewi)                            

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT