Pondok Pesantren Ar Rhaudha Seluma

Jl. Merdeka Tais No. 85

-

Hidup Zuhud

Jum'at, 20 Juli 2018 ~ Oleh Guyun Slamet ~ Dilihat 151 Kali

Alkisah, suatu senja di beranda masjid terjadi dialog antara Abu Yazid dan seorang Balkha. “ Hai Abu Yazid, bagaimana definisi zuhud yang sebenarnya?

“Bila ada makanan kita makan, bila tidak ada, kita bersabar,“ jawab Abu Yazid.

“Perbuatan seperti itu dilakukan oleh anjing di negeri kami,“ sahud Balkha.

Abu Yazid balik bertanya, “jadi bagaimana menurut saudara definisi zuhud itu?”

Orang Balkha menjawab, “Bila tidak ada, kita bersabar, bila ada kita persilahkan orang yang lebih fakir terlebih dahulu.”

Naluri manusia selalu membutuhkan sesuatu yang tidak dimilikinya (faqr). Dalam posisi ini, semua manusia fakir kepada Allah. Fakir terhadap harta dunia kerap membuat orang memburunya, lantas menumpuknya dengan cara yang tidak mengindahkan nilai-nilai dan etika. Itulah yang sering memerosokkan orang ke lembah kenistaan, bahkan nasibnya bisa lebih rendah daripada martabat binatang, sebagaimana hikmah tersembunyi yang bisa kita petik dari hikayat sufistik di atas.

Zuhud adalah instrumen terbaik dalam menyikapi dunia. Zuhud tidak identik dengan melarat. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan, hanya orang berimanlah yang berhak memiliki dunia. “ Zuhud adalah orang yang memilik dunia dan tidak memiliki dunia,” demikian tegas Ali bin Abithalib.

Yang kerap terjadi adalah kita dikontrol dunia, bukan kita yang mengontrol dunia. Itulah yang dikecam Islam. Dan kita maklum, karena perilaku demikianlah yang pada gilirannya bisa mengkondisikan orang berwatak lemah, rakus, dan egois, sebagaimana disinyalir dalam Alquran surat Al-Takasur ayat 1-3.

Orang yang enggan menyunting zuhud dalam hidupnya, hakikatnya telah menjadi budak hawa nafsunya. Padahal, “ “Hawa nafsu adalah akal,” ujar Imam Ja’far al Shadiq.

Dalam narasi kisah sufi, seperti ditulis Al-Aflaki dalam Tebaran Hikmah: “Hikayat di seputar Jalaluddin Rumi, disebutkan suatu hari Rumi membaca ayat,“

“Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (QS. Luqman 19. Rumi bertanya, “Apakah sahabat-sahabatku tahu maknanya?”

Para santrinya menunduk dan memohon agar ia menjelaskan. Rumi berkata, “Semua binatang lainnya memilik suara doksologi (kata-kata pujian kepasa Allah) yang dengan inilah mereka mengigat pencipta dan pemberi rezeki mereka. Para malaikat di langit dan jin memiliki dosologi, begitu juga manusia dan berbgai bentuk ibadah bagi jiwa dan jasmaninya.Namun, keledai malang itu, yang dimilikinya hanyalah pekikan. Ia mengeluarkan suara bila menginginkan betinanya dan bila merasa lapar. Ia adalah budak hawa nafsunya dan budak kerongkongannya.”

Rumi melanjutkan, “Begitu pula jika manusia tidak memiliki di dalam hatinya suatu doksologi untuk Tuhan, suatu seruan, dan suatu cinta, suatu rahasia, dan suatu kepedulian di dalam benaknya, maka dia sama saja dengan keledai dalam pandangan Allah SWT.”

Salah satu kiat agar kita bisa hidup zuhud adalah dengan melazimkan muraqabah (mawas diri) dan muhasabah (introspeksi), disamping selalu memagari diri dari serbuan hawa nafsu dunia yang datang dari tiga pelosok: kesenangan (lahwun), permainan (la’bun) dan kesia-siaan (abats).

Mengenai keutamaan zuhud, Nabi SAW mengatakan “Barang siapa yang memasuki waktu pagi dan memisahkan pekerjaannya, dan menjadikan kefakiran berada di depan matanya, maka ia tidak diberi bagian di dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya. Tetapi barang siapa yang memasuki waktu pagi dan niatnya adalah akhirat, maka Allah menghimpun baginya niatnya, menjaga untuknya pekerjaannya, menjadikan kekayaannya di dalam hatinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk kepadanya.”

“Jika engkau menginginkan agar Allah mencintaimu, maka berlaku zuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintaimu.”

Dengan zuhud kata Imam Ghazali dalam Ihyanya, hati kita akan dimakmurkan dengan musyahadah dan mukasyafah. Zuhudnya akan mempercepat tersebarnya rahmat dan terelakkannya musibah.

Wallahu’alam.

[Asep Salahuddin]

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT